Opini

Demo, Bung Hatta, dan Unhas

Tim Redaksi
×

Demo, Bung Hatta, dan Unhas

Sebarkan artikel ini

Oleh: Irawan Jusuf (Guru Besar Fakultas Kedokteran Unhas)

Demo, Bung Hatta, dan Unhas

Karakter Bung Hatta dipandang sangat cocok sebagai model pemimpin di Unhas. Visioner, cerdas, berintegritas, jujur, sederhana, mempunyai leadership, disiplin dan sekaligus administrator yang unggul. 

DEMONSTRASI 28 Agustus lalu kembali menelan korban jiwa, merusak fasilitas publik, hingga berujung pada penjarahan. Peristiwa ini menambah luka lama bangsa, seakan kita tak pernah belajar dari kejadian sebelumnya.

Seperti biasa, pemerintah hanya memberi penjelasan normatif sambil mencari kambing hitam. Padahal, persoalan mendasarnya adalah semakin lebarnya jurang antara rakyat dengan elite penguasa serta kelompok oligarki.

Sikap dan pernyataan sejumlah anggota DPR dan menteri dalam beberapa waktu terakhir hanyalah pemicu. Namun, akar masalahnya jauh lebih dalam, yaitu kerakusan dan ketamakan yang sejak lama dipertontonkan secara terang-terangan dengan rasa bangga. Semua itu membuat rakyat muak dan kehilangan kesabaran.

Dalam situasi seperti ini, ingatan kita kembali pada sosok Bung Hatta—dengan kejujuran, kesederhanaan, dan ketenangannya. Dulu, nilai-nilai itu menjadi cahaya pelita bagi bangsa yang baru merdeka. Kini, pelita itu kian meredup, tergantikan oleh gemerlap pamer kekayaan dan hiruk pikuk retorika kosong.

Kisah tentang Bung Hatta membuat kita hanya bisa menggelengkan kepala: mulai dari pengalaman beliau yang kesulitan membayar air dan listrik, hingga sikapnya yang mengembalikan sisa dana perjalanan dinas ketika berobat ke Swiss.

Bayangkan, di masa kini justru banyak pejabat yang menjadikan SPPD sebagai tambahan penghasilan. Di tengah situasi itu, pikiran, perkataan, dan perilaku Bung Hatta terasa semakin relevan—namun sayangnya kian redup, ditelan gelombang keserakahan para penguasa.

Unhas, yang diresmikan pada 10 September 1956 oleh Wakil Presiden Bung Hatta, sebentar lagi akan berusia 69 tahun.

Sayangnya, nilai-nilai Bung Hatta seolah tak lagi diminati untuk dikaji dan dijadikan ruh dalam perjalanan Unhas menatap masa depan. Jangankan ajaran dan teladannya, prasasti peresmian yang ditandatangani beliau pun hilang entah ke mana.

Prasasti itu bukan sekadar simbol, melainkan pengingat akan dedikasi Bung Hatta bagi Unhas.

Seandainya masih terpasang di gedung rektorat, setiap orang yang melihatnya tentu akan kembali diingatkan pada integritas, kejujuran, disiplin, kesederhanaan, serta sikap anti pamer kekayaan dan kekuasaan yang menjadi teladan Bung Hatta.

Mengapa hal ini penting? Karena Unhas sesungguhnya telah menjadi miniatur perilaku bangsa ini.

Di usia hampir 70 tahun, Unhas seharusnya bisa menjadi mercusuar yang membimbing perjalanan bangsa di samudera kehidupan lokal, nasional, hingga global, agar tidak karam di tengah gelombang.

Dan cahaya mercusuar itu mestinya bersumber dari cita-cita, pemikiran, dan perilaku Bung Hatta.

Hanya dengan cara itu, kita dapat memegang teguh pedoman: “Bung Hatta adalah Unhas, dan Unhas adalah Bung Hatta.”