Opini – Waktu terus bergulir, namun jejak kebaikan dan guratan perjuangan seorang alim sejati tak pernah pudar oleh zaman. Empat dekade telah berlalu sejak kepulangan al-Maghfurlah Anregurutta K.H. Yunus Martan, salah satu pilar utama dan Pimpinan Pondok Pesantren As’adiyah Sengkang yang amat dicintai masyarakat Sulawesi Selatan dan Nusantara.
Momen Haul ke-40 ini bukan sekadar agenda tahunan untuk bernostalgia, melainkan momentum spiritual dan intelektual bagi kita—khususnya para alumni, santri, dan pencinta ilmu—untuk meresapi kembali warisan pemikiran, keteladanan, serta dedikasi almarhum dalam membina umat.
Membumikan Pendidikan: Dari Sengkang hingga Timurung
Salah satu keutamaan perjuangan AG. K.H. Yunus Martan adalah komitmennya yang tanpa batas terhadap pemerataan pendidikan Islam. Beliau meyakini bahwa benteng pertahanan moral dan akidah masyarakat ada pada pendidikan dasar madrasah.
Jejak langkah ini terasa nyata hingga ke pelosok daerah. Keberadaan lembaga pendidikan seperti Madrasah As’adiyah Ibtidaiyah (MA/MI) No. 8 Timurung menjadi saksi bisu bagaimana cita-cita mulia Gurutta berakar rumput. Dari madrasah-madrasah di daerah seperti Timurung inilah, ribuan anak bangsa pertama kali mengenal huruf al-Qur’an, diajarkan adab, dan ditanamkan rasa cinta kepada ilmu agama.
“Pendidikan bukan sekadar mentransfer pengetahuan, melainkan menanamkan benih kesalehan dan adab yang mengakar dalam jiwa para santri.”
Lewat jaringan pendidikan As’adiyah yang tersebar meluas, pencerahan ilmu agama tidak hanya dinikmati oleh masyarakat perkotaan, tetapi juga menyentuh pelosok desa.
Radio As’adiyah: Merawat Syiar Melintasi Zaman
Di era yang terus berubah, nasehat dan keteladanan AG. K.H. Yunus Martan tetap menggema. Salah satu instrumen penting yang konsisten menjaga api dakwah ini adalah Radio As’adiyah.
Melalui udara, Radio As’adiyah hadir memilah ruang dan waktu:
Menghubungkan Sanad Keilmuan: Menyiarkan kembali pengajian, ceramah, dan nilai-nilai ke-As’adiyah-an kepada jamaah dan alumni yang tersebar di berbagai beladan daerah.
Merawat Keteladanan Ulama: Menjadi sarana untuk terus memutarkan ingatan kolektif masyarakat akan ajaran-ajaran kesederhanaan, keteguhan akidah, dan kearifan lokal yang diajarkan oleh Gurutta.
Jembatan Generasi: Memastikan bahwa generasi muda hari ini tetap dapat merasai “kehadiran” dan kehangatan dakwah para ulama terdahulu.
Pesan Haul ke-40: Menjaga Sanad Semangat dan Keikhlasan
Peringatan Haul ke-40 AG. K.H. Yunus Martan memanggil kita semua untuk melakukan refleksi diri. Ada beberapa poin penting yang patut kita teladani dari perjalanan hidup beliau:
Keikhlasan dalam Berdakwah: Beliau mengabdi tanpa pamrih, menjadikan ridha Allah sebagai puncak tujuan dalam mengajar dan memimpin umat.
Kecintaan pada Ilmu dan Santri: Bagi Gurutta, santri adalah aset terpenting umat yang harus dijaga, dibimbing, dan didorong untuk menjadi insan yang bermanfaat.
Keteguhan Memegang Adab (Sipakatau, Sipakalebbi, Sipakainge): Memadukan nilai-nilai Islam yang luhur dengan kearifan budaya lokal Bugis dalam merawat kerukunan masyarakat.
Peringatan 40 tahun wafatnya Anregurutta K.H. Yunus Martan adalah panggilan untuk terus menyalakan obor pendidikan Islam. Tugas kita hari ini bukan hanya membanggakan kebesaran nama beliau di masa lalu, melainkan melanjutkan estafet perjuangan tersebut melalui penguatan lembaga madrasah, pengembangan media dakwah, serta pengabdian yang tulus bagi masyarakat.
Semoga Allah SWT senantiasa merahmatinya, melapangkan kuburnya, dan mengumpulkan beliau bersama para nabi dan shadiqin. Lahul Fatihah.
Penulis
Badruddin Kaddas (Alumni MI As’adiyah No. 8 Timurung)














