SETIAP memasuki bulan Agustus, kita selalu disuguhi narasi serupa dari podium ke podium pejabat: “Pemuda adalah agen perubahan.” Namun, tepat di Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81 ini, kita seperti dipaksa menghadapi sebuah standar ganda.
Di satu sisi, generasi muda dituntut untuk aktif dan peduli pada bangsa. Di sisi lain, ketika kami mulai menggunakan akal sehat untuk mengkritik kebijakan pemerintah yang tumpang tindih, labelnya langsung berubah dalam semalam. Kami tidak lagi disebut agen perubahan, melainkan dicap sebagai “provokator” oleh mereka yang alergi terhadap perubahan itu sendiri.
Sebagai bagian dari pemuda Sulawesi Selatan, kita tentu patut mempertanyakan sikap defensif seperti ini. Ada kesan bahwa pemerintah hanya menyukai anak muda yang duduk manis, bertepuk tangan, dan menjadi pelengkap dalam acara seremonial.
Padahal, ketika anak muda menyuarakan kegelisahan mulai dari sulitnya akses lapangan kerja yang berkeadilan bagi lulusan baru, hingga regulasi daerah yang tidak berpihak pada masa depan generasi mendatang kami membawa data dan realitas yang terjadi di akar rumput.
Sangat disayangkan, alih-alih membuka ruang dialog atau adu argumen yang sehat, respons yang sering kami terima justru adalah pelabelan negatif. Kritik kami dianggap sebagai upaya memperkeruh suasana, seolah-olah penguasa lupa bahwa esensi dari demokrasi adalah kontrol sosial.
Negara ini sudah menginjak usia 81 tahun. Sebuah umur yang seharusnya mencerminkan kematangan, baik dalam sistem maupun mentalitas para pemimpinnya.
Pemerintah tidak boleh memiliki ego yang terlalu rapuh hingga menganggap setiap masukan sebagai ancaman.
Kebijakan yang tumpang tindih itu nyata dan dampaknya langsung dirasakan oleh masyarakat. Jika setiap koreksi dari pemuda selalu dipatahkan dengan stigma, lalu bagaimana bangsa ini bisa mengevaluasi dirinya sendiri?
Bagi kami, kritik bukan berarti kami membenci negara ini. Justru karena kami mencintai Indonesia, kami tidak ingin melihat masa depan daerah dan bangsa ini dikelola dengan kebijakan yang rabun terhadap masa depan.
Melalui momentum HUT RI ke-81 ini, kami dari jajaran kepemudaan wilayah Sulawesi Selatan ingin menegaskan bahwa pelabelan buruk tidak akan membuat kami mundur.
Kemerdekaan yang kita peringati hari ini diperjuangkan agar rakyatnya merdeka dalam berpikir dan bersuara, bukan untuk dibungkam secara halus dengan stigma.
Sudah saatnya pemerintah mengurangi formalitas seremonial dan mulai serius mendengarkan substansi. (*)
























