Persona

Fajar Ahmad Wahyuddin, Jurnalis Muda Penggerak Literasi Digital di Makassar

Tim Redaksi
×

Fajar Ahmad Wahyuddin, Jurnalis Muda Penggerak Literasi Digital di Makassar

Sebarkan artikel ini
Fajar Ahmad Wahyuddin, Jurnalis Muda Penggerak Literasi Digital di Makassar
Fajar Ahmad Wahyuddin, Jurnalis Muda Penggerak Literasi Digital di Makassar

MAKASSAR — Di tengah derasnya arus informasi digital, sosok Fajar Ahmad Wahyuddin tampil sebagai jurnalis muda yang konsisten menggerakkan literasi digital di Kota Makassar.

Melalui berbagai platform media yang ia rintis, seperti Diksiber Sulsel, Nyali.id, dan sejumlah jaringan media lokal lainnya, Fajar berupaya menghadirkan jurnalisme yang edukatif, santun, dan membangun kesadaran bermedia di kalangan generasi muda.

“Banyak anak muda aktif di media sosial, tapi belum semua paham bagaimana menggunakan media secara bijak. Karena itu, kami di Diksiber tidak hanya ingin menjadi media pemberita, tapi juga wadah belajar,” ujar Fajar saat ditemui di Makassar, Kamis (6/11/2025).

Tak hanya memimpin redaksi dan menulis berita, Fajar juga aktif turun langsung ke lapangan. Ia kerap menjadi pemateri dalam pelatihan jurnalistik dan literasi digital di sekolah maupun komunitas pemuda.

Baginya, literasi digital bukan sekadar kemampuan mengoperasikan media sosial atau menulis di internet, melainkan tentang menyaring informasi dan menebarkan nilai positif.

“Kalau anak muda bisa menulis berita yang benar, menyebarkan informasi positif, itu sudah termasuk bagian dari dakwah digital,” ungkapnya.

Fajar mulai terjun ke dunia media sejak usia remaja. Keterlibatannya di berbagai komunitas jurnalis dan media daring membentuk karakter dan idealismenya sebagai jurnalis muda yang menjunjung etika dan tanggung jawab sosial dalam pemberitaan.

Rekam jejaknya memperlihatkan konsistensi dalam membangun ekosistem media lokal yang sehat dan mendidik, di tengah maraknya konten hoaks dan jurnalisme sensasional.

Ke depan, Fajar menaruh harapan besar agar Nyali.id, Diksiber Sulsel, dan jaringan media yang ia kelola bisa menjadi ruang kolaborasi bagi anak muda Sulawesi Selatan untuk berkreasi di bidang jurnalistik dan teknologi informasi.

Ia ingin menjadikan media bukan sekadar kanal informasi, melainkan wadah pemberdayaan dan pembentukan karakter digital generasi muda.

“Kita mau bangun media yang mendidik dan memberdayakan, bukan sekadar mencari sensasi. Biar berita kita membawa manfaat,” tutupnya penuh optimisme. (*)