MAKASSAR — Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin (FKM Unhas) memperingati Dies Natalis ke-43 dengan menyelenggarakan Kuliah Tamu Internasional bertajuk “Public Health in a Climate-Changing World: Rethinking Risk Across Species and Scales.”
Kegiatan yang digelar di Makassar, Senin (10/11), menghadirkan narasumber utama Prof. dr. E.M. (Eileen) Moyer dari Department of Anthropology, University of Amsterdam, Belanda.
Ia dikenal luas sebagai antropolog medis dan lingkungan yang banyak meneliti hubungan antara kesehatan, ekologi, dan keadilan sosial di tengah perubahan iklim global.
Acara resmi dibuka oleh Prof. Dr. Atjo Wahyu, S.KM., M.Kes. dan Prof. Anwar Mallongi, S.KM., M.Sc.PH., Ph.D.
Dalam sambutannya, keduanya menegaskan pentingnya kolaborasi lintas disiplin ilmu dalam menghadapi tantangan kesehatan masyarakat akibat perubahan iklim.
Dukungan juga datang dari Ketua Departemen Epidemiologi FKM Unhas, Dian Sidik Arsyad, S.KM., M.KM., Ph.D., yang menyebut forum akademik internasional semacam ini menjadi langkah strategis memperkuat jejaring riset global dan kerja sama dengan universitas di Eropa.
“Isu kesehatan publik kini tak bisa lagi dipisahkan dari krisis iklim. Diperlukan pendekatan interdisipliner agar riset dan kebijakan bisa menjawab tantangan ekologis yang kompleks,” ujar Dian.
Sementara itu, Dekan FKM Unhas, Prof. Sukri Palutturi, SKM., M.Kes., MSc.PH., Ph.D., menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia dan peserta.
Ia menilai kegiatan ini mencerminkan semangat FKM Unhas sebagai pusat pengembangan ilmu kesehatan masyarakat yang berpikir global dan berkomitmen pada keberlanjutan.
“FKM Unhas terus membuka ruang dialog internasional agar sivitas akademika kita memiliki perspektif luas dan tangguh menghadapi isu-isu strategis di bidang kesehatan publik,” kata Prof. Sukri.
Kuliah tamu berdurasi 90 menit ini dipandu oleh Basir, SKM., M.Sc., dosen Departemen Kesehatan Lingkungan. Dalam paparannya, Prof. Eileen Moyer menekankan pentingnya melihat manusia sebagai bagian dari ekosistem yang saling bergantung.
“Untuk memahami kesehatan di dunia yang berubah akibat iklim, kita harus menyadari bahwa kesejahteraan manusia sangat bergantung pada kesehatan ekosistem dan spesies lain,” tutur Prof. Eileen.
Melalui dialog interaktif, para dosen, mahasiswa, dan peneliti berbagi pengalaman terkait dampak nyata perubahan iklim di berbagai wilayah—mulai dari peningkatan suhu ekstrem, perubahan pola curah hujan, hingga melonjaknya kasus penyakit berbasis lingkungan seperti demam berdarah dan diare.
Isu sampah plastik juga mengemuka dalam diskusi. Peserta menilai akumulasi plastik telah menjadi ancaman serius bagi kesehatan, terutama akibat paparan mikroplastik di air, udara, dan rantai makanan.
Sejumlah rekomendasi pun muncul, di antaranya memperkuat riset dampak plastik terhadap kesehatan manusia serta mendorong kebijakan pengurangan plastik sekali pakai.
Di akhir sesi, peserta sepakat bahwa kolaborasi antarnegara, penguatan riset berbasis komunitas, dan integrasi perspektif lingkungan dalam kebijakan kesehatan nasional menjadi kunci dalam menghadapi krisis iklim.
Kegiatan ini menegaskan peran FKM Unhas sebagai lembaga akademik yang adaptif, progresif, dan berkomitmen terhadap keadilan ekologis serta kesehatan global yang berkelanjutan. (*)


























