Sulawesi Selatan

Wagub Sulsel Dukung Pendidikan Inklusif, Dorong Kolaborasi Sekolah dan Orang Tua

Tim Redaksi
×

Wagub Sulsel Dukung Pendidikan Inklusif, Dorong Kolaborasi Sekolah dan Orang Tua

Sebarkan artikel ini
Wagub Sulsel Apresiasi Darul Fikri Kembangkan Pendidikan Inklusif

MAKASSAR – Wakil Gubernur Sulawesi Selatan, Fatmawati Rusdi, mengapresiasi pengembangan pendidikan inklusif di Sekolah Islam Terpadu (SIT) Darul Fikri Makassar yang memberikan kesempatan kepada anak berkebutuhan khusus untuk belajar, berkembang, dan berinteraksi dalam lingkungan pendidikan yang mendukung.

Apresiasi tersebut disampaikan Fatmawati saat menghadiri peresmian kolam renang dan Inclusive Education Talkshow di SIT Darul Fikri, Jalan Meranti Raya, Makassar, Selasa (20/10/2026).

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Menurut Fatmawati, upaya Darul Fikri memadukan pendidikan berbasis nilai-nilai Islam dengan penerapan pendidikan inklusif merupakan langkah yang patut diapresiasi.

Namun, keberhasilan pendidikan inklusif tidak hanya bergantung pada kebijakan sekolah, tetapi juga pada kesiapan tenaga pendidik, dukungan keluarga, dan lingkungan belajar yang mampu mengakomodasi kebutuhan setiap anak.

“Tenaga pendidik itu harus fleksibel dan harus kreatif berkesesuaian dengan kebutuhan anak didiknya ya ketika kita bicara inclusive education,” ujar Fatmawati.

Ia menekankan pentingnya deteksi dini tumbuh kembang anak agar kebutuhan pendampingan dapat diketahui sejak awal. Orang tua dan tenaga pendidik, menurutnya, perlu membangun komunikasi yang baik serta bekerja sama dengan tenaga profesional untuk menentukan pendekatan pembelajaran yang tepat.

Fatmawati juga mengingatkan bahwa pendidikan inklusif bukan hanya memberikan akses belajar kepada anak berkebutuhan khusus, tetapi juga menjadi sarana bagi seluruh siswa untuk menumbuhkan empati, toleransi, dan sikap saling menghargai.

BACA JUGA:  Berkat Dukungan Bangga Kencana dan Penurunan Stunting, Wagub Sulsel Terima Apresiasi BKKBN RI

Karena itu, sekolah perlu memastikan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan bebas dari perundungan terhadap anak yang memiliki kebutuhan belajar berbeda.

“Zaman sekarang mendidik anak udah enggak kayak dulu, Bu. Itu harus pendekatan, diajak berdialog, diberi apresiasi,” katanya.

Selain lingkungan sekolah, Fatmawati menilai keterlibatan keluarga menjadi faktor penting dalam mendampingi tumbuh kembang anak.

Orang tua juga perlu mengambil peran dalam mengarahkan penggunaan teknologi dan akses anak terhadap konten digital agar sesuai dengan usia dan kebutuhannya.

Ia menyatakan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan terbuka terhadap peluang dukungan bagi program pendidikan dan sosial Darul Fikri, termasuk melalui skema beasiswa bagi peserta didik.

Darul Fikri Dampingi Sekitar 100 Siswa Berkebutuhan Khusus

Ketua Dewan Pembina Yayasan Darul Fikri Makassar, Jafar Sodding, menjelaskan bahwa yayasan yang berdiri sejak 2010 itu terus mengembangkan layanan pendidikan dengan menitikberatkan pada pembentukan akhlak, pengembangan potensi siswa, dan kepedulian sosial.

Saat ini, Darul Fikri menaungi sekitar 1.300 peserta didik dari berbagai jenjang, mulai dari penitipan anak, taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah pertama, hingga sekolah menengah atas.

BACA JUGA:  Wagub Sulsel Dorong Gerakan Lingkungan dan Ketahanan Pangan di Desa Atue Luwu Timur

Dari jumlah tersebut, sekolah memberikan layanan pendampingan kepada sekitar 100 siswa berkebutuhan khusus di berbagai jenjang pendidikan.

Jafar mengatakan, setiap siswa memperoleh pendampingan yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing. Lingkungan sekolah juga dirancang agar siswa dapat berinteraksi dan belajar bersama dalam suasana yang mendukung rasa aman serta perkembangan potensi mereka.

Ke depan, yayasan berencana memperkuat deteksi dini tumbuh kembang anak sejak jenjang penitipan anak. Darul Fikri juga menyiapkan rencana pendampingan bagi siswa setelah menyelesaikan pendidikan menengah atas.

Di luar bidang pendidikan dan dakwah, yayasan turut menjalankan program sosial dan usaha. Salah satunya kegiatan khitanan yang diikuti 129 peserta, serta rencana pengembangan produk minyak atsiri.

Pendidikan Inklusif Butuh Kolaborasi

Pembahasan mengenai tantangan dan praktik pendidikan inklusif menjadi salah satu fokus dalam sesi diskusi. Sejumlah isu yang mengemuka meliputi kebutuhan sumber daya dan pembiayaan, penerimaan keluarga terhadap kondisi anak, serta penyesuaian proses pembelajaran berdasarkan kebutuhan siswa.

Psikolog pendidikan sekaligus dosen psikologi Universitas Negeri Makassar, Kasmayani Karim, S.Psi., M.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa pendidikan inklusif bertujuan memastikan setiap anak memperoleh akses pendidikan yang setara dengan mempertimbangkan potensi dan kebutuhan individual.

BACA JUGA:  Sulsel Perkuat Identitas Maritim Lewat Festival Pinisi XV di Bulukumba

Menurutnya, penerapan pendidikan inklusif membutuhkan asesmen kebutuhan, penyesuaian kurikulum dan metode pengajaran, serta evaluasi pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan setiap siswa.

Upaya tersebut juga memerlukan kolaborasi antara guru, psikolog, dokter, terapis, dan orang tua agar pendampingan dapat dilakukan secara menyeluruh.

“Setiap anak ibarat pohon yang memiliki cara dan waktu berbeda untuk tumbuh. Tugas kita bukan menuntut mereka berkembang dengan cara yang sama, tetapi bagaimana kita memberikan ruang, kesempatan, dan dukungan agar setiap anak dapat tumbuh sesuai dengan potensinya,” ujar Kasmayani.

Ia menambahkan, pembelajaran bersama teman sebaya dapat membantu anak mengembangkan kemampuan sosial sekaligus membangun sikap saling menghargai. Meski demikian, metode belajar dan bentuk pendampingan tetap harus disesuaikan dengan kondisi serta kebutuhan masing-masing anak.

Melalui pengembangan pendidikan inklusif, SIT Darul Fikri Makassar berupaya menghadirkan lingkungan pendidikan yang memberi ruang bagi keberagaman kemampuan siswa.

Dukungan pemerintah, tenaga pendidik, keluarga, dan tenaga profesional menjadi bagian penting untuk memastikan setiap anak memperoleh kesempatan berkembang secara optimal. (*)