SIDRAP — Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan terus mendorong penguatan sektor ekonomi kreatif berbasis budaya, salah satunya melalui pengembangan UMKM tenun emas di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap).
Wakil Gubernur Sulsel, Fatmawati Rusdi, menegaskan komitmen tersebut saat meninjau langsung aktivitas pengrajin di Kecamatan Tellulimpoe, Selasa (7/4/2026).
Dalam kunjungan tersebut, Fatmawati didampingi Wakil Bupati Sidrap, Nurkanaah, sekaligus berdialog dengan para pelaku usaha untuk menyerap aspirasi serta melihat langsung proses produksi tenun tradisional.
Salah satu pengrajin yang dikunjungi adalah Mannia Parenta (68), yang telah menekuni kerajinan ini selama puluhan tahun. Dengan metode manual, ia mampu menghasilkan satu lembar kain dalam waktu hingga dua bulan, tergantung tingkat kerumitan motif.
Menariknya, inovasi motif kini tidak hanya bersumber dari tradisi, tetapi juga mengikuti perkembangan tren digital, termasuk referensi dari media sosial seperti Facebook.
“Motif sekarang banyak lihat di Facebook. Harganya bervariasi, bisa sampai Rp4 juta hingga Rp5 juta,” ungkapnya.
Mannia mengaku kunjungan pemerintah menjadi dorongan moral bagi para pengrajin untuk terus bertahan dan berkembang di tengah tantangan zaman.
Menanggapi hal tersebut, Fatmawati menilai tenun emas Sidrap memiliki potensi besar untuk dikembangkan lebih luas, tidak hanya sebagai produk kerajinan, tetapi juga sebagai identitas budaya daerah yang bernilai ekonomi tinggi.
“Kualitasnya sangat baik dan memiliki nilai budaya yang kuat. Ini yang harus kita dorong agar bisa menembus pasar yang lebih luas,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya peningkatan kapasitas pelaku UMKM, mulai dari akses permodalan, penguatan keterampilan, hingga pemanfaatan platform digital untuk memperluas jangkauan pemasaran.
Menurut Fatmawati, pengembangan UMKM menjadi salah satu pilar penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah yang inklusif dan berkelanjutan.
Tenun emas sendiri merupakan salah satu produk unggulan Sidrap yang terus dikembangkan sebagai bagian dari ekosistem ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.
Selain menjaga keberlanjutan tradisi, upaya ini juga diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah produk melalui hilirisasi, sehingga mampu bersaing di pasar nasional hingga global.
Kunjungan ini menjadi bagian dari langkah konkret Pemprov Sulsel dalam memastikan UMKM tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu naik kelas di tengah persaingan ekonomi yang semakin dinamis. (*)


























