LUWU RAYA — Datu Luwu ke-40, Andi Maradang Mackulau Opu To Bau, mengimbau massa aksi yang masih melakukan unjuk rasa di sejumlah titik di Tanah Luwu agar mengurangi, bahkan menghentikan, aktivitas mereka.
Imbauan tersebut disampaikan pada Minggu dini hari, 25 Januari 2026, sebagai upaya menjaga kemaslahatan Wija To Luwu sekaligus membuka ruang bagi perjuangan yang lebih bermartabat dan bijaksana.
Dalam pernyataannya, Datu Luwu meminta seluruh peserta aksi untuk kembali ke rumah masing-masing dan mempercayakan kelanjutan perjuangan kepada jalur dialog dan mekanisme yang lebih konstruktif.
“Saya menghimbau kepada anak-anakku sekalian yang saat ini masih melakukan aksi di berbagai tempat di Tanah Luwu, agar dengan kebesaran hati mengurangi bahkan menghentikan aksi-aksi tersebut,” ujar Datu Luwu.
Ia menegaskan, penghentian aksi di lapangan penting untuk menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, sekaligus memberikan ruang bagi langkah lanjutan di tingkat yang lebih tinggi.
“Berikanlah kami ruang dan kesempatan untuk melanjutkan perjuangan ini ke tingkat yang lebih tinggi dan bermartabat,” lanjutnya.
Menurut Datu Luwu, berakhirnya aksi massa akan membantu meminimalkan potensi risiko di lapangan serta menjaga keselamatan semua pihak.
“Saya meyakini, dengan mengakhiri aksi-aksi ini, keselamatan bersama dapat terus kita jaga dan perjuangan dapat dilanjutkan secara lebih bijaksana,” katanya.
Imbauan tersebut disampaikan di tengah masih adanya aktivitas massa di sejumlah lokasi hingga malam dan dini hari. Meski demikian, tidak dirinci secara detail jumlah peserta maupun titik aksi yang dimaksud.
Menutup pernyataannya, Datu Luwu mengajak seluruh warga untuk kembali ke rumah dalam keadaan aman dan damai.
“Saya mengajak seluruh anak-anakku untuk kembali ke rumah masing-masing. Selamat malam, selamat pulang ke rumah, semoga kita semua senantiasa berada dalam keadaan aman, damai, dan terlindungi di Tanah Luwu,” tuturnya.
Imbauan ini diharapkan dapat meredakan situasi di lapangan serta menjadi langkah awal untuk melanjutkan perjuangan melalui cara-cara yang lebih tertib, dialogis, dan bermartabat.(*)
















