JAKARTA – PT Vale Indonesia Tbk (INCO) memilih memfokuskan ekspansi fasilitas pemurnian nikelnya pada teknologi High Pressure Acid Leach (HPAL), seiring upaya perusahaan menekan biaya energi sekaligus mengurangi emisi.
Langkah ini membuat Vale tidak lagi mengandalkan smelter Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) yang dikenal boros listrik dan batubara, serta memiliki jejak karbon tinggi.
Presiden Direktur Vale Indonesia, Bernardus Irmanto, mengatakan saat ini seluruh proyek pengolahan nikel yang tengah dikembangkan perusahaan menggunakan teknologi HPAL berbasis proses kimia.
“Saat ini tiga proyek yang sedang kami bangun semuanya HPAL. Karena berbasis chemical process, kebutuhan energinya tidak setinggi RKEF,” ujar Bernardus dalam Indonesia Weekend Miner by Indonesia Mining Summit di Jakarta, Sabtu (24/1/2026).
HPAL merupakan teknologi hidrometalurgi yang memanfaatkan asam sulfat untuk melarutkan nikel laterit, sehingga lebih efisien dari sisi konsumsi energi dibandingkan metode peleburan konvensional.
Salah satu proyek utama Vale berada di Pomalaa, Sulawesi Tenggara, dengan kapasitas produksi 120.000 metrik ton nikel per tahun dalam bentuk Mixed Hydroxide Precipitate (MHP). Proyek tersebut ditargetkan mulai berproduksi pada Agustus 2026.
“Untuk kapasitas 120.000 ton, kebutuhan listriknya sekitar 100 megawatt,” jelas Bernardus.
Kebutuhan energi tersebut akan dipasok dari tiga pembangkit listrik tenaga air (PLTA) milik Vale, yakni PLTA Larona berkapasitas 165 MW, PLTA Balambano 110 MW, dan PLTA Karebbe 90 MW.
Menurut Bernardus, keberadaan PLTA menjadi keunggulan kompetitif perusahaan karena mampu menekan biaya listrik secara signifikan.
“Biaya listrik kami kurang dari 2 sen per kWh. Sementara industri lain bisa di atas 6 sampai 7 sen per kWh,” ungkap pria yang akrab disapa Anto itu.
Selain mengandalkan energi terbarukan, Vale juga membangun pabrik asam sulfat atau acid plant sebagai fasilitas pendukung utama operasional HPAL.
Acid plant berfungsi memproduksi asam sulfat yang digunakan dalam proses pelindian nikel. Namun, unit ini juga menghasilkan energi panas yang dapat dimanfaatkan kembali.
“Kami bisa menangkap panas dari proses pembakaran sulfur, lalu disalurkan kembali untuk kebutuhan energi HPAL,” jelas Bernardus.
Melalui skema tersebut, Vale berupaya menekan emisi sekaligus meningkatkan efisiensi operasional.
Berdasarkan perhitungan perusahaan, untuk kapasitas 120.000 ton per tahun dibutuhkan sekitar empat unit acid plant. Setiap unit mampu menghasilkan listrik sekitar 22,5 megawatt sebagai produk sampingan.
“Kalau empat unit, totalnya bisa 90 sampai 95 megawatt. Jadi kebutuhan tambahan tinggal sekitar 5 sampai 10 megawatt,” katanya.
Selain Pomalaa, Vale juga mengembangkan proyek HPAL di Bahodopi, Morowali, Sulawesi Tengah, melalui kerja sama dengan perusahaan China GEM dan perusahaan Korea Selatan Ecopro.
Proyek Indonesia Growth Project (IGP) Morowali tersebut ditargetkan beroperasi pada kuartal IV 2026, dengan kapasitas produksi 66.000 ton MHP per tahun. Smelter ini akan didukung pasokan bijih dari tambang yang memproduksi 5,5 juta ton saprolit dan 10,4 juta ton limonit per tahun.
Proyek HPAL ketiga adalah IGP Sorowako Limonite yang digarap bersama Zhejiang Huayou Cobalt asal China, dengan target mulai berjalan pada 2027.
Melalui strategi pengembangan HPAL berbasis energi terbarukan dan pemanfaatan panas industri, Vale menargetkan operasional smelter yang lebih efisien, berdaya saing, serta selaras dengan agenda transisi energi dan hilirisasi berkelanjutan di Indonesia. (*)

























