Sulawesi Selatan

Aksi Stop Stunting 2026 Dimulai, Pemprov Sulsel Sasar 3.060 Desa dan Kelurahan

Tim Redaksi
×

Aksi Stop Stunting 2026 Dimulai, Pemprov Sulsel Sasar 3.060 Desa dan Kelurahan

Sebarkan artikel ini
Cegah Stunting Sejak Kehamilan, Gubernur Andi Sudirman Luncurkan Program Aksi Stop Stunting 2026

MAKASSAR — Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan memperkuat upaya percepatan penurunan stunting melalui peluncuran Program Aksi Stop Stunting (ASS) Tahun 2026.

Program yang diinisiasi Gubernur Andi Sudirman Sulaiman ini menjangkau 3.060 desa dan kelurahan di 24 kabupaten/kota se-Sulawesi Selatan.

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Peluncuran program berlangsung di Baruga Asta Cita, Rumah Jabatan Gubernur Sulawesi Selatan, Makassar, Selasa (3/11/2026).

Kegiatan tersebut melibatkan pemerintah kabupaten/kota, Tim Penggerak PKK mulai tingkat provinsi hingga desa dan kelurahan, tenaga kesehatan, serta kader Posyandu.

Program ASS dirancang untuk memperkuat intervensi gizi bagi balita berusia 0–59 bulan yang mengalami masalah gizi, serta ibu hamil dengan kondisi Kurang Energi Kronis (KEK) atau berisiko mengalaminya.

Gubernur Andi Sudirman mengatakan, setiap anak berhak mendapatkan kesempatan untuk tumbuh sehat, memperoleh asupan gizi yang cukup, serta mendapatkan perhatian dan pendampingan sesuai kebutuhannya.

“Tahun ini kita melakukan pendampingan melalui PMT lagi untuk melibatkan 3.060 desa kelurahan se-Sulawesi Selatan, kader desa, PKK. Insya Allah dalam dua bulan kita laksanakan sampai akhir Desember. Harapan kita ada perubahan signifikan nanti penurunan stunting di Sulawesi Selatan,” ujarnya.

BACA JUGA:  Triwulan I 2026, Ekonomi Sulsel Menguat Bersama Penyerapan Tenaga Kerja

Sasar Balita dan Ibu Hamil Berisiko

Dalam pelaksanaannya, Program ASS mencakup pemberian paket intervensi gizi yang disesuaikan dengan kebutuhan penerima manfaat.

Paket tersebut meliputi Pemberian Makanan Tambahan (PMT), Pangan Olahan untuk Keperluan Medis Khusus (PKMK), Multivitamin Taburia, Multiple Micronutrient Supplements (MMS), serta susu bagi ibu hamil sesuai ketentuan.

Setiap keluarga penerima manfaat juga akan mendapatkan penjelasan dan pemantauan selama proses intervensi berlangsung.

Menurut Andi Sudirman, ketepatan sasaran menjadi faktor penting agar program benar-benar memberikan dampak terhadap perbaikan status gizi ibu dan anak.

“Kita ingin memastikan setiap sasaran mendapatkan pelayanan sesuai kebutuhannya. Karena itu, pendataan harus akurat, pengukuran dilakukan sesuai standar, dan pendampingan tidak boleh berhenti setelah intervensi diberikan,” tegasnya.

BACA JUGA:  Pemprov Sulsel Bangun RS Regional Wilayah Selatan di Malino, Anggaran Rp161 Miliar

Pencegahan Dimulai Sejak Masa Kehamilan

Selain intervensi gizi bagi balita, Gubernur Sulsel menekankan pentingnya pencegahan stunting sejak masa kehamilan.

Upaya tersebut dilakukan melalui pemeriksaan kehamilan secara teratur, pemenuhan kebutuhan gizi ibu, serta pendampingan pemberian ASI dan makanan pendamping ASI (MPASI) sesuai usia anak.

Pendekatan ini diharapkan dapat memastikan kebutuhan kesehatan ibu dan anak terpenuhi sejak periode awal kehidupan.

Andi Sudirman juga meminta seluruh bupati dan wali kota di Sulawesi Selatan memberikan perhatian serta melakukan pengawasan langsung terhadap pelaksanaan program di wilayah masing-masing.

Ia menekankan bahwa percepatan penurunan stunting tidak dapat hanya mengandalkan intervensi kesehatan, tetapi membutuhkan dukungan lintas sektor.

Dukungan tersebut mencakup pemenuhan pangan keluarga, penyediaan air minum dan sanitasi layak, perlindungan sosial, serta edukasi kepada masyarakat.

Libatkan Kader dan Tenaga Kesehatan

BACA JUGA:  Pemprov Sulsel Salurkan Alsintan Rp120 Miliar, Gubernur Warning Penyalahgunaan

Dalam pelaksanaan Program ASS, kader Posyandu dan Tim Penggerak PKK memiliki peran penting dalam menjangkau keluarga sasaran, memberikan pendampingan, serta memastikan intervensi berjalan sesuai kebutuhan.

Gubernur juga menyampaikan apresiasi kepada kader Posyandu, bidan, nutrisionis, dokter, dan seluruh tenaga kesehatan yang selama ini menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan serta pendampingan keluarga.

Ia mengajak seluruh unsur yang terlibat menjaga semangat gotong royong agar program dapat berjalan optimal hingga tingkat desa dan kelurahan.

“Harapan saya semua kader semangat, karena ini betul-betul kerja gotong royong untuk masyarakat kita, dan kedua adalah ini anak-anak kita semua yang sangat membutuhkan perhatian dan dukungan,” pungkasnya.

Melalui Program Aksi Stop Stunting 2026, Pemprov Sulsel berharap intervensi yang menjangkau seluruh kabupaten/kota dapat memperkuat pendampingan keluarga sekaligus mendorong percepatan perbaikan status gizi ibu dan anak di Sulawesi Selatan. (*)