Ekonomi & Bisnis

Eksportir Sulsel Minta Pemerintah Perluas Tujuan Ekspor, Jangan Bergantung Ke AS

Tim Redaksi
×

Eksportir Sulsel Minta Pemerintah Perluas Tujuan Ekspor, Jangan Bergantung Ke AS

Sebarkan artikel ini

MAKASSAR – Ketua Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Dewan Pengurus Daerah (DPD) Sulawesi Selatan dan Barat (Sulselbar) Arief R Pabettingi menanggapi statmen Sekprov Sulsel, Jufri Rahman yang menyebut tarif ekspor ke Amerika Serikat mampu tekan kinerja komoditas unggulan. 

Ketua GPEI DPD Sulselbar Arief R Pabettingi membantah, justru tarif ekspor ke Amerika Serikat yang memiliki dampak paling sedikit diantara pasar-pasar yang lain.

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

“Jadi kalau melihat kondisi apa yang diberlakukan oleh Amerika Serikat mereka dengan tarif terhadap Indonesia, kalau kacamata di Sulsel itu tidak terlalu berdampak. Karena ekspor dari Sulawesi Selatan ke Amerika itu masih kecil,” ucap Arief, Jumat  (15/8/2025).

Dia menyebut, tingkat volume produk yang hendak ekspor ke Amerika Serikat sangat kecil. Kurang lebih hanya 5 persen dari total ekspor secara keseluruhan di negara luar.

“Nah tentunya volume yang selama ini berlangsung hanya paling sekitar 5 persen dari total ekspor dari Sulawesi Selatan ya,” jelasnya.

Menurutnya, sekalipun sekalipun Sulsel tidak lagi ekspor ke Amerika Serikat, tidak akak berpengaruh terhadap  pelaku usaha.

“Nah dengan porsi volume yang kecil tentunya tarif Rp19.000 ini tidak terlalu membuat khawatir para pelaku usaha yang ada di Sulawesi Selatan,” ungkapnya. 

Kendati kata dia, Indonesia masih termasuk beruntung dengan tarif yang diberikan Amerika Serikat jauh lebih kecil dibandingkan dengan negara-negara lainnya. 

“Kalau kita berbicara Indonesia bisa saja karena Indonesia kan tarif Rp19.000 ini sangat bagus dibanding pada saat tarif yang pertama yang disampaikan Rp34.000, dan kita bersyukur bahwa dari semua negara Asia dan ASEAN kita yang paling terkecil. Nah tentunya ini bisa menjadi sinyal bagi pemerintah Indonesia dan seluruh pelaku usaha yang ada di Indonesia,” katanya.

Akan tetapi, dirinya mengaku bukan hanya persoalan tarif. Ekspor di Amerika Serikat juga memiliki kendala lain seperti jarak yang cukup jauh kalau dari Makassar, sehingga itu pun berdampak terhadap kualitas produk. 

“Karena kalau tarif Rp19.000 itu dijadikan sebagai aturan dasar untuk terjadinya suatu hubungan perdagangan tentu tidak terlalu berdampak. Kenapa? Karena masih banyak hambatan yang kita hadapi di luar dari tarif Rp19.000 ini, terutama kualitas produk, karena contoh Makassar ke Amerika itu kan jaraknya sangat jauh, butuh waktu 35 hari baru sampai bahkan bisa sampai 2 bulan kalau misalnya di jalan itu tidak normal,” bebernya.

Selama ini, kata Arief, terdapat beberapa produk unggulan dari Suslel yang sering di ekspor ke Amerika Serikat.  Paling banyak dari sektor perikanan seperti ikan.

‘Beberapa produk pertanian semisal rumput laut  tetapi itu tidak terlalu konsisten dikirim terutama untuk sektor yang perikanan itu memang selama ini menjadi dominasi dari sektor semua sektor ekspor dari Sulawesi Selatan ke Amerika,” sebutnya. 
Olehnya itu, ia menilai langkah pemerintah harusnya fokus pada perluasan ekspor, dengan mencari negara-negara lain sehingga tidak bergantung ke Amerika Serikat. 

“Jadi langkah yang bisa dilakukan adalah salah satunya ya mencari negara baru yang selama ini ada beberapa negara tradisional yang menjadi tujuan utama dari Sulsel, mungkin bisa dialihkan ke Asia. Asia itu kan banyak negara hampir 54 negara, tentunya ada beberapa negara yang mungkin bisa butuh dari Sulsel untuk produk-produknya,” jelasnya.

“Misalnya yang selama ini sudah jalan cengkeh, merica termasuk sektor perikanan itu semua bisa menjadi sesuatu yang bisa dialihkan ke beberapa negara terutama itu tadi Asia Tengah, Asia Timur dan Afrika, bahkan kalau bisa beberapa negara Eropa yang selama ini kalau saya tidak salah

Sebelumnya, Sekretaris Daerah Provinsi (Sekdaprov) Sulawesi Selatan (Sulsel) Jufri Rahman mengakui dinamika tarif ekspor Indonesia ke Amerika Serikat mampu menekan kinerja sektor pengolahan ikan, udang dan nikel di daerahnya.

Jufri Rahman mengatakan, bagi Sulawesi Selatan, tantangan ekonomi global menjadi perhatian serius dan harus diantisipasi dengan tepat.

“Perekonomian daerah ini sangat bergantung pada sektor strategis seperti industri pengolahan, pertanian, dan pertambangan, yang rentan terhadap dinamika perdagangan dunia,” katanya pada forum Sulsel Talk bertajuk “Mendorong Akselerasi Ekonomi Sulsel di Tengah Ketidakpastian Ekonomi Global”. (*)