SUNGGUH sebuah kebahagiaan dan kebanggaan bisa berkesempatan mendengar petuah bijak dari para sesepuh yang telah melewati berbagai peristiwa penting dalam perjalanan bangsa ini.
Mereka memiliki peran vital dalam membangun kepentingan sosial masyarakat di berbagai aspek kehidupan.
Jika sebelumnya saya bertemu dengan Bung Kobu’, politisi senior PDI Perjuangan, kali ini saya berkesempatan untuk duduk bersama, menikmati secangkir kopi, dan berbincang langsung dengan salah satu tokoh senior asal Toraja, Sulawesi Selatan, yakni Bapak Purnawirawan Jenderal Mathius Salempang.
Beliau adalah sosok sederhana yang tidak banyak berbicara, namun rekam jejaknya dalam menegakkan disiplin, integritas, dan objektivitas tak perlu diragukan lagi.
Tak heran jika beliau mengakhiri masa pengabdiannya dengan jabatan tinggi di Kepolisian Republik Indonesia.
Salah satu sikap beliau yang sangat saya kagumi adalah keterbukaannya dalam pergaulan sehari-hari. Om Jenderal—begitu saya biasa menyapanya—senantiasa menerima siapa pun tanpa memandang latar belakang.
Pertemuan pertama saya dengannya terjadi pada tahun 2014, saat namanya mulai digadang-gadang oleh berbagai elemen masyarakat sebagai calon Gubernur Sulawesi Selatan.
Namun, dengan rendah hati, beliau menyampaikan terima kasih atas dukungan tersebut dan memilih untuk tidak maju sebagai calon gubernur.
Beliau lebih memilih menjadi masyarakat biasa tetapi tetap berkontribusi dalam demokrasi dengan cara yang berbeda, yaitu melalui gagasan-gagasan yang bertujuan untuk kepentingan bersama.
Kesungguhan Om Jenderal dalam berpartisipasi dalam demokrasi politik kembali terlihat dalam Pilkada Gubernur Sulsel 2024. Bersama kawan-kawan muda dan tokoh masyarakat etnis Toraja dari berbagai latar belakang, beliau membentuk Forum Toraya Bersatu untuk DIA.
Forum ini merupakan wadah dukungan politik bagi pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Selatan, Bapak Moh. Ramdhan Pomanto dan Bapak H. Azhar Rasyad.
Saya masih ingat pesan Om Jenderal saat itu:
“Abta, kehadiran kita dalam Pilkada Sulsel mendukung Pak Danny Pomanto bukan semata-mata untuk unjuk gigi, tetapi lebih kepada mengedukasi masyarakat agar melek politik dan memilih pemimpin yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat Sulsel, khususnya masyarakat Toraja yang tersebar di berbagai wilayah Sulawesi Selatan, terutama di Kabupaten Toraja dan Toraja Utara. Atas dasar kesadaran itu, kita harus bersatu.”
Puji Tuhan, upaya penggalangan dukungan dan pembentukan basis jaringan berhasil kami jalankan.
Hasilnya, perolehan suara pasangan DIA di kantong-kantong masyarakat Toraja sangat memuaskan, terutama di Kabupaten Toraja dan Toraja Utara, di mana kemenangan mereka cukup signifikan.
Meskipun perjuangan Pak Danny Pomanto dan Pak Haji Azhar tidak membuahkan kemenangan secara keseluruhan dalam Pilkada Gubernur Sulsel, dan Mahkamah Konstitusi telah menolak gugatan yang diajukan oleh tim kuasa hukumnya, kami tetap merasa bangga.
Kami telah berkontribusi dengan menyatukan dukungan masyarakat Toraja terhadap pasangan DIA dalam semangat kekeluargaan dan kesadaran bahwa setiap orang bebas menentukan pilihan politiknya.
Inilah hakikat demokrasi yang sesungguhnya—kebebasan memilih berdasarkan rasionalitas, bukan karena tekanan atau iming-iming bantuan sesaat yang tidak mencerminkan visi seorang pemimpin.
Terima kasih, Om Jenderal, atas wejangan dan semangat yang diberikan kepada generasi muda agar terus berkontribusi dalam menjaga nilai-nilai kesetaraan.
Dengan nilai-nilai tersebut, kita bisa membangun masyarakat yang saling mengasihi, sehingga lebih mudah untuk mewujudkan cita-cita lainnya—terutama dalam membebaskan masyarakat dari berbagai bentuk penindasan, baik itu kemiskinan maupun keterbatasan pengetahuan. Semoga kita dapat terus bergerak menuju masyarakat yang makmur, sejahtera, dan berkeadilan.
Tuhan Yang Maha Kuasa senantiasa memberkati segala hal baik yang kita perjuangkan.
Jakarta, 5 Februari 2025












