MAKASSAR — Bank Indonesia (BI) resmi menurunkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen, Rabu (21/5). Keputusan ini diambil dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, dan diiringi dengan pemangkasan suku bunga Deposit Facility menjadi 4,75 persen serta Lending Facility menjadi 6,25 persen.
Pengamat Ekonomi Keuangan Unismuh Makassar Sutardjo Tui mengatakan, biasanya dengan adanya penurunan bunga acuan BI, pihak perbankan tidak serta merta menurunkan tingkat bunga pinjaman.
“Pihak perbankan beralasan bahwa harga pokok dana cost of fund tidak serta merta turun karena masih terikat kontrak jangka waktu deposito yakni 1 bulan, 3,6,12 dan 24 bulan,” kata Sutardjo, Rabu (28/5/2025).
Olehnya itu, Sutardjo mendorong BI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk menekan pihak perbankan segera lakukan penyesuaian dengan menurunkan juga suku bunga, agar dapat ikut berkontribusi dalam perbaikan ekonomi.
“Oleh sebab itu diharapkan pihak OJK dan BI mendorong pihak bank pelaksana berpartisipasi dalam perbaikan perekonomian berupa secepatnya menurunkan tingkat bunga pinjaman,” harapnya.
Dia menyampaikan, penurunan suku bunga sudah seharusnya dilakukan, karena kondisi ekonomi tidak stabil. Dimana terjadinya inflasi hingga melemahnya daya beli masyarakat.
“Penurunan bunga acuan BI secara teori dilakukan sudah sesuai dan saatnya, yakni diturunkan saat inflasi rendah dan daya beli masyarakat melemah,” ucapnya.
Sutardo menuturkan, kebijakan BI ini diharapkan dapat mendorong pergerakan ekonomi. Dengan menurunnya suku bunga, penyaluran kredit diharapkan meningkat.
“Sehingga diharapkan dengan turunnya suku bunga juga akan diikuti oleh penurunan bunga kredit perbankan sehingga penyaluran kredit meningkat,” jelasnya.
“Sehingga jumlah uang beredar bertambah berarti daya beli masyarakat meningkat itu segi positifnya,” tambah dia.
Kendati begitu, Sutardjo mengungkapkan bahwa penurunan suku bunga tidak sepenuhnya membawa angin segar perekonomian dalam negeri. Menurutnya, akan terjadi pelarian dana ke luar negeri.
“Pemilik dana akan memindahkan dananya ke negara yang lebih tinggi bunganya dan atau pemilik dana akan memindahkan dana ke sektor financial investment yang lebih memberikan cuan lebih besar seperti emas dan valuta asing,” ungkapnya.
Dengan begitu, lanjut dia, investasi seperti harga emas akan mengalami peningkatan akibat dari tingginya permintaan.
“Sehingga akan meningkat permintaan emas berakibat pada harga emas naik, demikian pula valuta asing meningkat apabila permintaan banyak, itu segi negatifnya,” bebernya.
Meski begitu, Akademisi Unismuh Makassar ini menjelaskan bahwa di tengah kondisi ekonomi yang tidak stabil di dalam negeri, langkah BI untuk menurunkan suku bunga sudah tepat.
“Tapi momentumnya tepat diturunkan suku bunga acuan. Harus dicatat bahwa bulan depan ada kewajiban pemerintah bayar hutang pokok dan bunga kurang lebih Rp1.200 triliun,” pungkasnya.
Terpisah, Regional CEO Makassar Argo Prabowo mengatakan, pihaknya BRI menyambut positif keputusan Bank Indonesia menurunkan suku bunga acuan (BI Rate) menjadi 5,50%.
“Kebijakan ini mencerminkan keyakinan otoritas moneter terhadap stabilitas perekonomian nasional serta menjadi langkah strategis dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi, khususnya di tengah perlambatan global dan tekanan eksternal,” ucap Argo melalui keterangannya, Kamis (22/5/2025) lalu.
Sebagai bank yang memiliki fokus utama pada segmen UMKM, dia mengatakan, dapat memberikan kelonggaran suku bunga bagi pelaku usaha. Sebagai upaya menggerakan perekonomian dari kelas bawah.
“BRI optimis bahwa pelonggaran suku bunga akan memberikan ruang gerak yang lebih luas bagi dunia usaha,” jelasnya.
Kendati begitu, Argo menyampaikan pihaknya akan memberikan kemudahan bagi sektor UMKM. tapi tetap sesuai dengan ketentuan dan mengedepankan prinsip kehatian-hatian.
“BRI secara konsisten akan terus menyesuaikan strategi penyaluran kredit secara prudent dan selektif, dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian serta good corporate governance,” jelasnya.
Senada, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI menyambut positif keputusan Bank Indonesia (BI) menurunkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,50 persen.
“Kami menyambut positif penurunan BI-Rate sebesar 25 bps menjadi 5,50 persen pada Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia hari ini. Kebijakan ini juga sudah sejalan dengan estimasi kami,” kata Chief Economist BNI Leo Putera Rinaldy.
BNI melihat terdapat tiga faktor utama yang melandasi penurunan BI-Rate, yaitu penguatan nilai tukar rupiah, inflasi yang terjaga sesuai target BI, dan perlambatan ekonomi domestik.
Di saat yang sama, BI juga merelaksasi kebijakan makroprudensial untuk mendukung likuiditas perbankan sekaligus merespons perlambatan kredit dan dana pihak ketiga (DPK).
“Dengan adanya penurunan BI-Rate, kami memperkirakan SRBI-rate akan turun lebih lanjut dari posisi terakhir 6,47 persen (SRBI-rate 12 bulan),” ujarnya.
Selain itu, lanjut Leo, pemangkasan BI-Rate dapat berpotensi menurunkan imbal hasil SBN karena ekspektasi aliran dana asing dan potensi shifting dana dari SRBI yang jatuh tempo ke obligasi pemerintah.
Nilai tukar rupiah juga diperkirakan bisa tetap stabil bila risiko global tidak berubah, diikuti dengan penurunan permintaan valas setelah pembayaran dividen dan musim pembayaran utang pada April dan Mei.
“Kami juga melihat adanya potensi penurunan suku bunga perbankan, dimana penurunan bunga dana akan terjadi lebih dulu diikuti oleh penurunan bunga kredit,” tambah Leo.
Ke depan, lanjut dia, BNI memperkirakan adanya ruang penurunan BI-Rate sebesar 25 bps lagi hingga akhir tahun dengan catatan nilai tukar masih tetap stabil.
Sementara itu, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk mengaku akan melakukan penyesuaian suku bunga kredit dan simpanan secara prudent atau hati-hati dengan mempertimbangkan kondisi likuiditas internal, strategi bisnis, serta dinamika pasar dan arah kebijakan moneter.
Hal ini disampaikan Sekretaris Perusahaan Bank Mandiri M Ashidiq Iswara menanggapi himbauan BI untuk menurunkan suku bunga kredit dan simpanan perbankan demi mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
“Bank Mandiri memandang langkah BI menurunkan BI Rate sebagai bagian dari bauran kebijakan moneter yang akomodatif dan selaras dengan kondisi ekonomi saat ini,” ujar M Ashidiq Iswara dalam keterangan pers.
Menurut dia, kebijakan pelonggaran moneter ini mencerminkan komitmen BI dalam menjaga stabilitas, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di tengah inflasi yang tetap terkendali dan nilai tukar yang relatif stabil.
Dia menuturkan kebijakan moneter dan makroprudensial yang diumumkan kemarin diharapkan dapat memberikan sentimen positif terhadap prospek penguatan pertumbuhan ekonomi nasional ke depan.
“Sejalan dengan hal tersebut, Bank Mandiri terus berkomitmen mendukung akselerasi pertumbuhan ekonomi melalui penyaluran kredit yang sehat dan selektif, khususnya ke sektor-sektor dan segmen-segmen yang memiliki potensi kuat,” papar dia.
Bank Mandiri optimistis target pertumbuhan kredit konsolidasi pada 2025 dapat tercapai di kisaran 10%-12%, sejalan dengan prospek ekonomi yang semakin membaik.
“Ke depan, kami akan terus memperkuat fokus pembiayaan pada sektor-sektor unggulan dan resilien, serta mengakselerasi penguatan kompetensi utama di segmen wholesale melalui pendekatan berbasis ekosistem,” tandasnya. (**)

















