MAKASSAR — Sosok perempuan tangguh asal Luwu kembali menorehkan prestasi gemilang di dunia akademik.
Ia adalah Prof. Dr. Hj. Syamzan Syukur, M.Ag., putri kebanggaan Wija to Luwu (WTL) yang akan dikukuhkan sebagai Guru Besar Tetap bidang Historiografi Islam di Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, Selasa (14/10).
Upacara pengukuhan akan dilaksanakan di Auditorium Kampus II UIN Alauddin Makassar. Rektor UIN Alauddin, Prof. Dr. H. Hamdan, M.A., Ph.D., dijadwalkan memimpin langsung Sidang Senat Terbuka Luar Biasa yang dihadiri oleh jajaran senat, sivitas akademika, serta keluarga besar universitas.
Dalam naskah orasi ilmiahnya, Prof. Syamzan mengangkat tema tentang Historiografi Islam dan Relevansinya bagi Rekonstruksi Peradaban Modern, menekankan pentingnya pendekatan sejarah yang kontekstual dalam memahami nilai-nilai Islam dan kebudayaan umat.
Ia menyebut bahwa sejarah tidak semestinya hanya dibaca sebagai kumpulan peristiwa masa lalu, melainkan sebagai sumber hikmah dan panduan moral bagi generasi kini.
Siapa Prof Hj Syamzan Syukur?
Lahir di Luwu, 1 April 1973, Prof. Syamzan tumbuh dari keluarga yang menjunjung tinggi nilai-nilai keilmuan dan religiusitas.
Ia menyelesaikan pendidikan dasar hingga menengah di Bajo dan Palopo — mulai dari Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), hingga PGAN Palopo — sebelum melanjutkan studi di Fakultas Adab IAIN Alauddin Ujung Pandang (kini UIN Alauddin Makassar) dan meraih gelar sarjana pada 1995.
Perjalanan akademiknya berlanjut hingga ke jenjang Magister Agama (M.Ag.) di Program Pascasarjana IAIN Alauddin Makassar (1999), dan kemudian menyelesaikan studi doktoralnya di bidang Sejarah dan Peradaban Islam pada UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (2008).
Kini, Prof. Syamzan menjabat sebagai dosen pada Fakultas Adab dan Humaniora UIN Alauddin Makassar, dengan kepangkatan Pembina Utama Madya (IV/d).
Bidang keahliannya, Historiografi Islam, menjadi pijakan penting bagi kontribusinya dalam pengembangan kajian sejarah dan kebudayaan Islam di Indonesia Timur.
Selama karier akademiknya, Prof. Syamzan telah menulis lebih dari 90 karya ilmiah, termasuk publikasi di jurnal internasional bereputasi dan puluhan artikel di jurnal nasional terakreditasi SINTA.
Ia juga dikenal produktif menulis buku-buku penting, di antaranya adalah Manusia, Ilmu, dan Budaya: Konseptualisasi dan Aktualitas dalam Sejarah Peradaban (2024); dan Suksesi Kepemimpinan dan Transformasi Kekuatan Politik Islam pada Masa Khulafaurrasyidin (2020).
Prof Syamzan juga menulis buku berjudul Mengurai Jejak Islamisasi Awal di Kedatuan Luwu (2014) serta Dinasti Fatimiyah: Kontribusinya terhadap Peradaban di Mesir (2011).
Khusus buku Mengurai Jejak Islamisasi Awal di Kedatuan Luwu, karya ini menegaskan akar keilmuannya sebagai Wija to Luwu yang berupaya mengungkap peran penting Tanah Luwu dalam sejarah awal penyebaran Islam di Nusantara.
Kajian tersebut menjadi rujukan penting bagi para peneliti sejarah Islam di kawasan Timur Indonesia.
Selain kiprahnya di dunia akademik, Prof. Syamzan juga dikenal sebagai sosok yang sederhana, religius, dan berkomitmen pada nilai-nilai budaya Luwu.
Ia selalu menekankan tiga falsafah utama yang diwariskan leluhur, yakni getteng (teguh pendirian), lempu (jujur), dan ada tongeng (berkata benar) — prinsip hidup yang menjadi fondasi dalam perjalanan intelektual dan pengabdiannya.
Dalam kehidupan pribadi, Prof. Syamzan adalah istri dari Ilham Dharma Putera, S.Ag., dan ibu dari dua putri, yakni Muflihah Zanilha dan Mufidah Rzqy Ramadhani.
Capaian akademik Prof. Syamzan Syukur menjadi bukti bahwa putra-putri Tana Luwu mampu bersaing dan berkontribusi di tingkat nasional, tanpa meninggalkan jati diri dan akar budayanya.
“Ini bukan hanya tentang asal-usul, tapi tentang tanggung jawab moral untuk membawa nilai-nilai luhur daerah kita ke panggung ilmu dan peradaban,” ujar Prof Syamzan dalam sebuah kesempatan.
Dengan pengukuhannya sebagai Guru Besar, Prof. Syamzan meneguhkan perannya sebagai simbol kebanggaan masyarakat Luwu Raya — seorang akademisi perempuan yang tidak hanya berprestasi, tetapi juga menjaga identitas dan warisan budaya daerahnya di tengah dinamika zaman. (*)














