Berita

Vale Prediksi Industri Nikel Bergeser ke Nikel Kelas Satu, Lebih Tahan Gejolak Harga

Tim Redaksi
×

Vale Prediksi Industri Nikel Bergeser ke Nikel Kelas Satu, Lebih Tahan Gejolak Harga

Sebarkan artikel ini
Produk nikel kelas satu, Nickel Suplhate.
Produk nikel kelas satu, Nickel Suplhate.

JAKARTA – PT Vale Indonesia Tbk (INCO) memproyeksikan arah industri nikel global tengah mengalami pergeseran signifikan.

Jika sebelumnya produksi didominasi nikel kelas dua seperti nickel pig iron (NPI), feronikel (FeNi), nickel matte, hingga mixed hydroxide precipitate (MHP), kini industri bergerak menuju pengembangan nikel kelas satu yang lebih bernilai tambah.

Produk nikel kelas satu tersebut antara lain nickel electrolytic, nickel sulphate, dan nickel chloride, yang banyak digunakan untuk kebutuhan industri lanjutan, termasuk baterai kendaraan listrik dan teknologi material maju.

Direktur sekaligus Chief Sustainability and Corporate Affairs Officer PT Vale Indonesia, Budiawansyah, mengatakan pergeseran tersebut didorong oleh perubahan kebutuhan industri global serta karakter nikel kelas satu yang relatif lebih tahan terhadap fluktuasi harga logam dunia.

“Kalau dulu industri lebih banyak berbicara pada kebutuhan logam dasar, khususnya baja. Sekarang saya melihat arah industrinya bergeser, bukan lagi ke dasar logam baja, tetapi ke industri yang lebih advance,” ujar Budiawansyah kepada awak media di Jakarta Pusat, dikutip Jumat (16/1/2026).

Menurut Budi—sapaan akrabnya—perubahan tersebut membuat pelaku industri mulai mengonversi lini produksinya dari nikel kelas dua ke nikel kelas satu. Hal ini sejalan dengan kebutuhan pasar yang semakin mengarah pada produk hilir bernilai tinggi.

“Sekarang fokusnya berubah. Yang dulunya memproduksi nickel pig iron, sekarang mulai mengonversi ke nickel class one,” tegasnya.

Meski demikian, Budi menilai produk antara atau intermediate seperti nickel matte tetap memiliki peran strategis karena fleksibilitasnya. Produk ini dapat diolah lebih lanjut menjadi nikel kelas satu saat harga logam melemah, sekaligus tetap kompetitif untuk dipasarkan ketika harga sedang menguntungkan.

“Nickel matte itu fleksibel. Ketika harga logam terganggu, dia lebih mudah shifting. Beberapa teknologi sekarang sedang mengarah ke konversi ke sana,” jelasnya.

Sejalan dengan dinamika industri, pemerintah juga mulai memperketat arah kebijakan hilirisasi nikel. Kementerian Perindustrian memastikan penerbitan izin usaha industri (IUI) untuk smelter nikel standalone—yang tidak terintegrasi dengan tambang—semakin dibatasi, baik untuk teknologi pirometalurgi maupun hidrometalurgi.

Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin, Setia Diarta, menyebut kebijakan tersebut mengacu pada Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) 2015—2035 sebagaimana diatur dalam PP No. 14 Tahun 2015.

“Untuk periode 2025—2035, target industri pengolahan dan pemurnian nikel bukan lagi pada nikel kelas dua seperti NPI, FeNi, nickel matte, atau MHP, melainkan pada produk yang lebih hilir seperti nickel electrolytic, nickel sulphate, dan nickel chloride,” kata Setia.

Kebijakan tersebut diperkuat melalui PP No. 28 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko yang diteken Presiden Prabowo Subianto pada 5 Juni 2025.

Dalam aturan itu, pengajuan izin smelter baru wajib menyertakan pernyataan tidak memproduksi NPI, FeNi, dan nickel matte untuk smelter pirometalurgi, serta tidak memproduksi MHP untuk smelter hidrometalurgi.

Berdasarkan catatan Kemenperin, hingga Maret 2024 terdapat 44 smelter nikel pemegang IUI yang telah beroperasi di Indonesia, dengan konsentrasi terbesar di Maluku Utara dan kapasitas produksi mencapai 6,25 juta ton per tahun.

Selain itu, terdapat 19 smelter dalam tahap konstruksi dan tujuh proyek masih pada fase studi kelayakan, sehingga total proyek smelter nikel mencapai 70 unit.

Sementara itu, Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) mengestimasi produksi logam nikel kelas satu dan kelas dua sepanjang 2025 berada di kisaran 2,46—2,5 juta ton, meningkat dari realisasi 2024 sebesar 2,2 juta ton.

Ketua Umum FINI Arif Perdana Kusumah menyebut, untuk menghasilkan produksi tersebut, Indonesia membutuhkan sekitar 300 juta ton bijih nikel.

Kapasitas terpasang smelter nasional saat ini tercatat sekitar 2,8 juta ton nikel, terdiri atas 2,3 juta ton dari smelter pirometalurgi berbasis RKEF dan 500 ribu ton dari smelter hidrometalurgi berbasis HPAL.

“Dengan tingkat utilisasi dan faktor operasional lainnya, hingga akhir 2025 produksi nikel Indonesia diperkirakan berada di kisaran 2,5 juta ton nikel kelas satu dan dua,” ujar Arif. (*)