JAKARTA — Menjelang datangnya Ramadan 1447 Hijriah, perhatian publik kembali tertuju pada penetapan hari pertama puasa.
Berdasarkan prediksi awal, terdapat potensi perbedaan antara keputusan pemerintah dan ketetapan Persyarikatan Muhammadiyah, seperti yang beberapa kali terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.
Muhammadiyah Tetapkan 1 Ramadan pada 18 Februari 2026
Pimpinan Pusat Muhammadiyah, melalui Majelis Tarjih dan Tajdid, telah menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Penetapan ini berdasarkan hisab Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT) dan tertuang dalam Maklumat Nomor 01/MLM/I.1/B/2025.
Bagi warga Muhammadiyah, maklumat tersebut menjadi rujukan resmi dalam pelaksanaan ibadah Ramadan tahun depan.
Alasan Muhammadiyah Menggunakan KHGT
KHGT merupakan sistem kalender baru yang diterapkan Muhammadiyah untuk menggantikan kriteria wujudul hilal. Sistem ini mengadopsi “Kriteria Turki 2016”, hasil forum Muktamar Kalender Islam Global di Turki pada 2016.
Ketua PP Muhammadiyah, Prof. Syamsul Anwar, menjelaskan bahwa KHGT dirancang untuk menyatukan penanggalan umat Islam di seluruh dunia agar tanggal Hijriah berlaku seragam secara global.
“KHGT adalah upaya mutakhir umat Islam untuk menyatukan penanggalan mereka. Dengan kalender ini, tanggal baru Hijriah jatuh pada hari yang sama di seluruh dunia,” ujar Syamsul.
Ia mencontohkan bahwa 1 Syawal 1548 H, yang diperkirakan jatuh pada 17 Maret 2124 M, akan dirayakan serentak di Ohio (Amerika Serikat), dan Sydney (Australia). Namun dengan kalender lokal seperti yang digunakan Kemenag, tanggal tersebut bisa berbeda—di Indonesia, misalnya, jatuh pada 18 Maret 2124 M.
KHGT disusun dengan parameter yang disepakati dalam Kongres Penyatuan Kalender Hijriah di Istanbul 2016, antara lain seluruh bumi sebagai satu matlak, ketinggian bulan minimal 5°, dan elongasi minimal 8° sebelum pukul 00.00 UTC.
Pemerintah Prediksi 1 Ramadan Mulai 19 Februari 2026
Sementara itu, pemerintah melalui Kalender Hijriah Indonesia 2026 memperkirakan awal Ramadan jatuh sehari setelah ketetapan Muhammadiyah, yakni Kamis, 19 Februari 2026.
Prediksi ini mengacu pada kriteria imkanur rukyat yang disepakati oleh negara-negara MABIMS (Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura).
Dalam kriteria MABIMS, tinggi hilal dan kemungkinan keterlihatannya menjadi faktor utama dalam penentuan awal bulan.
Perbedaan penetapan antara pemerintah dan Muhammadiyah masih bersifat prediktif. Keputusan resmi pemerintah baru akan ditetapkan dalam sidang isbat yang digelar menjelang Ramadan 1447 H.





















