POLEWALI MANDAR — Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, menunjukkan tren yang perlu diwaspadai. Hingga 3 September 2026, tercatat 49 kejadian karhutla dengan total lahan atau kebun terdampak mencapai 92,91 hektare.
Dua kejadian dengan luasan terbesar terjadi di kawasan Desa Pallis–Desa Tamanggalle, Kecamatan Balanipa, serta Bukit Bungin-Bungin, Dusun Landi Pokki, Desa Baru, Kecamatan Luyo. Masing-masing kejadian berdampak terhadap lahan lebih dari 20 hektare.
Kebakaran di kawasan Desa Pallis dan Desa Tamanggalle terjadi pada 22 Agustus 2026. Api yang bermula dari sekitar Dusun Tondo, Desa Pallis, kemudian meluas hingga menyeberang ke Dusun Panuttungan, Desa Tamanggalle.
Berdasarkan hasil pendataan dan pemetaan geospasial, luas lahan terdampak dalam kejadian tersebut mencapai sekitar 22 hektare.
Padahal, dalam laporan awal operasi pemadaman, luas lahan yang terbakar diperkirakan baru sekitar lima hektare. Angka tersebut kemudian diperbarui setelah dilakukan pendataan, pemetaan, serta verifikasi kondisi lapangan.
Petugas Pemadam Kebakaran Kabupaten Polewali Mandar saat itu mengerahkan dua armada, masing-masing dari Pos Tinambung dan Pos Campalagian. Tim tiba sekitar lima menit setelah laporan diterima pada pukul 17.57 WITA dan melakukan pemadaman serta pendinginan selama sekitar 40 menit.
Kawasan Pallis sendiri menjadi salah satu wilayah yang berulang kali mengalami karhutla. Dalam periode 5 Juli hingga 25 Agustus 2026, sedikitnya tujuh kejadian tercatat di desa tersebut.
Kejadian itu masing-masing berlangsung pada 5 Juli, 9 Agustus, 19 Agustus, 21 Agustus, 22 Agustus, serta dua kejadian pada 25 Agustus 2026.
Dari enam kejadian yang telah memiliki data luasan, akumulasinya mencapai sedikitnya 36 hektare. Sementara satu kejadian pada 9 Agustus belum mencantumkan luasan lahan terdampak sehingga luas sebenarnya berpotensi lebih besar.
Karhutla Kembali Terjadi di Luyo
Ancaman karhutla kembali terlihat di Kecamatan Luyo. Pada Rabu, 2 September 2026, kebakaran terjadi di kawasan Bukit Bungin-Bungin, Dusun Landi Pokki, Desa Baru.
Laporan diterima petugas pada pukul 19.15 WITA. Tim gabungan tiba sekitar pukul 19.30 WITA dan penanganan selesai sekitar pukul 20.20 WITA.
Untuk menjinakkan api, lima armada dikerahkan. Dua unit berasal dari Pos Induk Polewali, masing-masing satu unit dari Pos Campalagian dan Pos Tinambung, serta satu unit tangki air bantuan TNI Yon TP Keris Muda Mandar.
Kondisi lahan yang dipenuhi bahan bakar kering akibat musim kemarau menjadi salah satu kendala dalam proses pemadaman.
Semula luas lahan terdampak diperkirakan sekitar lima hektare. Namun, hasil pendataan dan pemetaan pascakebakaran pada Kamis, 3 September 2026, menunjukkan luas sebenarnya mencapai 20,88 hektare.
Tidak ada korban jiwa maupun korban luka dalam kejadian tersebut. Namun, kebakaran berdampak pada lahan perkebunan produktif milik masyarakat yang ditanami sawit, pohon produktif, serta berbagai bibit tanaman. Nilai kerugian sementara diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah.
Sekretaris Desa Luyo, Sulaeman, mengatakan kawasan yang terbakar merupakan lahan produktif yang selama ini menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat.
“Lahan yang terbakar merupakan kawasan perkebunan produktif yang dikelola masyarakat. Di dalamnya terdapat tanaman sawit, pohon produktif, dan bibit tanaman. Pemerintah desa bersama Satgas Karhutla melakukan verifikasi agar luas terdampak dan nilai kerugian dapat dicatat secara tepat,” kata Sulaeman.
Data rekapitulasi menunjukkan Desa Baru sedikitnya telah mengalami dua kejadian karhutla sepanjang periode tersebut, yakni pada 9 Agustus dan 2 September 2026.
Secara keseluruhan, Kecamatan Luyo tercatat sedikitnya mengalami lima kejadian karhutla. Dua di antaranya terjadi di Desa Landi pada 18 dan 19 Agustus, satu kejadian di Desa Kanusuang pada 9 Agustus, serta dua kejadian di Desa Baru pada 9 Agustus dan 2 September.
Satgas Minta Masyarakat Waspada
Besarnya luasan lahan yang terdampak dalam dua kejadian tersebut menjadi perhatian Satgas Karhutla Polewali Mandar, terutama karena berlangsung saat kondisi lahan relatif kering.
Kepala UPTD Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Polewali Mandar, Imran, S.IP., M.M., mengatakan karakter lahan yang kering membuat api dapat berkembang dan meluas dalam waktu singkat.
“Dua kejadian dengan luasan masing-masing lebih dari 20 hektare menunjukkan bahwa api di lahan kering dapat berkembang dengan sangat cepat dan melintasi batas wilayah desa,” ujar Imran.
Ia mengimbau masyarakat tidak menggunakan api untuk membuka maupun membersihkan lahan.
“Kami mengimbau masyarakat menghentikan pembukaan lahan dengan cara membakar dan segera melapor apabila menemukan titik api agar penanganan dapat dilakukan sejak dini,” katanya.
Pada Kamis, 3 September 2026, Satgas Karhutla bersama petugas Damkar Polman dan Bhabinkamtibmas Desa Luyo turun langsung melakukan pendataan di lokasi kebakaran. Tim kemudian melakukan verifikasi bersama Pemerintah Desa Luyo.
Pendataan mencakup pemetaan luas lahan, dokumentasi kondisi pascakebakaran, verifikasi informasi, serta pendalaman terhadap estimasi kerugian masyarakat.
Selain dua kejadian tersebut, dashboard pemantauan hingga 3 September 2026 mencatat 24 kejadian kebakaran permukiman atau gedung di Polewali Mandar.
Satgas Karhutla mengingatkan masyarakat untuk tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar, tidak membuang puntung rokok sembarangan, dan memastikan tidak ada sumber api yang ditinggalkan di kawasan perkebunan maupun lahan kering.
Masyarakat juga diminta segera melaporkan keberadaan asap atau titik api kepada aparat desa maupun layanan Pemadam Kebakaran Kabupaten Polewali Mandar.
Langkah pelaporan sejak dini dinilai penting untuk mencegah api berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas, terutama selama kondisi kemarau masih berlangsung. (*)





