Sulawesi Selatan

Inklusi Keuangan Sulsel 94,27 Persen, LPS Dorong Literasi Pelajar Lewat Program Menabung

Tim Redaksi
×

Inklusi Keuangan Sulsel 94,27 Persen, LPS Dorong Literasi Pelajar Lewat Program Menabung

Sebarkan artikel ini
Sekda Sulsel Resmikan Program Pelajar Menabung, Sasar 20 Sekolah di Makassar, Maros dan Gowa

MAKASSAR — Budaya menabung di kalangan pelajar mulai didorong secara lebih terstruktur melalui Program Pelajar Sulsel Menabung (PSM) 2026.

Program yang diinisiasi Kantor Perwakilan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) III Sulawesi, Maluku dan Papua itu menyasar 1.000 pelajar dari 20 SMA/sederajat di Kota Makassar, Kabupaten Gowa dan Kabupaten Maros.

Program tersebut juga melibatkan 100 pembina dari sekolah peserta yang akan menjadi penggerak kegiatan di lingkungan masing-masing.

Kick off PSM 2026 ditandai dengan penabuhan gendang oleh Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Jufri Rahman dalam kegiatan Kick Off dan Training of Trainers (ToT) di Hotel Claro Makassar, Kamis (24/9/2026).

Mengusung tema “Menabung Sejak Dini, Membangun Masa Depan Negeri”, program ini akan berlangsung selama dua bulan. Para pembina sekolah mendapat pelatihan agar dapat mengembangkan kebiasaan menabung sekaligus edukasi pengelolaan keuangan di lingkungan sekolah.

Menabung Bukan Sekadar Menyimpan Uang

Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Jufri Rahman mengatakan, Pemprov Sulsel menyambut baik pelaksanaan PSM 2026 sebagai bagian dari upaya membangun kebiasaan finansial yang positif sejak usia sekolah.

Menurut Jufri, kebiasaan menabung tidak semata-mata berkaitan dengan menyisihkan uang, tetapi juga merupakan bagian dari pembentukan karakter.

“Menabung itu merancang masa depan. Apa yang kita lakukan hari ini adalah investasi karakter,” kata Jufri.

Ia menjelaskan, kebiasaan tersebut dapat mengajarkan pelajar untuk mengendalikan keinginan, menentukan prioritas, merencanakan masa depan, serta bertanggung jawab dalam mengelola keuangan pribadi.

Karena itu, Jufri berharap para guru yang menjadi pembina PSM dapat berperan sebagai penggerak di sekolah masing-masing.

“Peran para guru yang menjadi pembina program ini nantinya bisa menjadi penggerak akselerasi keuangan di sekolahnya,” ujarnya.

Ia juga mengajak sekolah menjadikan aktivitas menabung sebagai bagian dari kebiasaan sehari-hari pelajar.

“Mari kita jadikan menabung sebagai budaya. Jadikan sekolah menjadi ruang pertama anak belajar untuk mengelola masa depannya,” pungkasnya.

Pertama Kali Dilaksanakan di Indonesia

Kepala Kantor Perwakilan LPS III Sulawesi, Maluku dan Papua, Fuad Zaen, mengatakan PSM merupakan program kolaboratif yang melibatkan berbagai lembaga dan instansi untuk membangun budaya menabung di kalangan pelajar.

Menurut Fuad, program tersebut menjadi inisiatif pertama yang dilaksanakan dalam bentuk tersebut di Indonesia.

“Dengan kolaborasi lintas lembaga dan instansi, LPS bersama OJK, Bank Indonesia, pemerintah daerah, serta stakeholder terkait, untuk menumbuhkan budaya menabung di kalangan pelajar,” ungkapnya.

Selain edukasi, PSM juga akan diisi dengan kompetisi menabung bagi peserta. Konsep tersebut, kata Fuad, terinspirasi dari Tanda Kecakapan Khusus (TKK) Menabung yang selama ini dikenal dalam kegiatan Pramuka.

Para pelajar akan mengikuti rangkaian kegiatan selama program berlangsung. Peserta yang memenuhi kategori penilaian yang telah ditentukan juga akan mendapatkan apresiasi.

Literasi Masih Jadi Tantangan

Fuad mengatakan, penguatan budaya menabung menjadi relevan dengan kondisi literasi dan inklusi keuangan di Sulawesi Selatan.

Ia menyebutkan, tingkat inklusi keuangan Sulsel pada 2026 telah mencapai 94,27 persen. Namun, tingkat literasi keuangan masih berada pada angka 61,03 persen.

Kesenjangan tersebut menunjukkan bahwa akses masyarakat terhadap layanan keuangan belum sepenuhnya berjalan beriringan dengan pemahaman mengenai cara menggunakan dan mengelola produk serta layanan keuangan.

Karena itu, PSM diarahkan untuk menjadi salah satu langkah memperkuat literasi keuangan, khususnya di kalangan pelajar.

Dukungan terhadap program tersebut juga disampaikan Kepala Direktorat Pengawasan PUJK, Edukasi, Perlindungan Konsumen, dan Perizinan LJK OJK Sulselbar Arif Machfoed.

Ia mengapresiasi pelaksanaan PSM dan berharap program tersebut tidak hanya menghasilkan kebiasaan menabung, tetapi juga membangun karakter pelajar dalam mengelola keuangan.

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan Bayu Martanto turut menyatakan dukungan terhadap program tersebut.

Menurut Bayu, edukasi menabung perlu ditempatkan sebagai bagian dari proses belajar mengelola keuangan secara lebih bijak.

“Bank Indonesia sangat mendukung program ini. Lewat program ini tidak hanya belajar untuk menyimpan uang, namun mengajarkan merencanakan lebih bijak,” ujarnya.

Dengan melibatkan sekolah, guru pembina, LPS, OJK, Bank Indonesia, pemerintah daerah dan sejumlah pemangku kepentingan lainnya, Program Pelajar Sulsel Menabung diharapkan tidak berhenti selama dua bulan pelaksanaan.

Lebih jauh, program tersebut diarahkan untuk membangun kebiasaan finansial yang dapat terus dipraktikkan pelajar dalam kehidupan sehari-hari.

Sebab, meningkatnya akses terhadap layanan keuangan akan lebih bermakna jika diikuti kemampuan generasi muda untuk memahami, merencanakan dan mengelola keuangan secara bertanggung jawab. (*)