MAKASSAR — Literasi di Sulawesi Selatan terus tumbuh dengan beragam wajah. Ia tidak lagi semata-mata berbicara tentang aktivitas membaca buku, tetapi berkembang menjadi gerakan yang hadir di rumah, sekolah, perpustakaan, komunitas, lingkungan, hingga ruang digital.
Beragam warna gerakan tersebut mengemuka dalam Semesta Buku X Tribun Timur 2026 bertajuk “Warna Warni Literasi Sulawesi Selatan” yang digelar di Atrium Mall MP, Makassar, Sabtu (3/10/2026).
Kegiatan tersebut menjadi ruang pertemuan para pegiat literasi dari berbagai latar belakang untuk membicarakan perkembangan gerakan literasi di Sulawesi Selatan, termasuk literasi inklusi sosial, pentingnya kolaborasi, serta bagaimana aktivitas membaca dan menulis dapat diterjemahkan menjadi gerakan yang memberi dampak bagi masyarakat.
Talk show menghadirkan Duta Baca Sulawesi Selatan 2018 Rezky Amalia Syafiin, Founder Rumah Koran Jamaluddin Dg Abu, Ketua Forum Lingkar Pena (FLP) Wilayah Sulawesi Selatan periode 2025–2027 Adibah L. Najmy, serta penggiat literasi Sulsel sekaligus Kepala Perpustakaan SMAN 17 Makassar Murnih Aisyah. Diskusi dipandu Founder Daeng Berdampak, Firdaus.
Kegiatan tersebut juga mendapat dukungan Duta Baca Sulawesi Selatan 2023, Ramlah Rara, yang berperan menyambungkan komunikasi dan koordinasi antarpihak hingga talk show tersebut dapat terlaksana.
Membaca Membutuhkan Ekosistem
Duta Baca Sulawesi Selatan 2018, Rezky Amalia Syafiin, menekankan bahwa budaya membaca tidak dapat dibangun secara parsial.
Menurutnya, kebiasaan membaca membutuhkan ekosistem yang mendukung dan harus dimulai dari lingkungan terdekat, terutama keluarga dan diri sendiri.
“Membaca butuh ekosistem dan gerakan membaca dimulai dari keluarga dan diri sendiri,” kata Rezky.
Ia menilai keluarga memiliki posisi penting dalam memperkenalkan membaca sebagai kebutuhan sekaligus kebiasaan sehari-hari.
Ketika aktivitas membaca mulai tumbuh di rumah, budaya literasi akan lebih mudah berkembang dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Gerakan Literasi Terus Bertransformasi
Founder Rumah Koran, Jamaluddin Dg Abu, berbagi pengalaman mengenai perkembangan gerakan literasi yang dibangunnya.
Menurut Jamaluddin, gerakan yang awalnya berangkat dari literasi dasar kemudian berkembang ke berbagai isu, termasuk literasi lingkungan dan digital.
“Gerakannya dari literasi dasar menjadi gerakan literasi lingkungan dan digital,” ujarnya.
Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa literasi memiliki cakupan yang semakin luas. Kemampuan membaca dan menulis dapat menjadi pintu masuk untuk memahami lingkungan, teknologi, sekaligus berbagai persoalan sosial yang berkembang di tengah masyarakat.
Dengan demikian, literasi tidak berhenti pada kemampuan memahami teks, tetapi juga mendorong masyarakat untuk mampu membaca realitas di sekitarnya.
Menulis dan Menghadirkan Gagasan
Sementara itu, Ketua Forum Lingkar Pena Wilayah Sulawesi Selatan periode 2025–2027, Adibah L. Najmy, menyoroti pentingnya gerakan menulis sebagai bagian dari ekosistem literasi.
Menurut Adibah, tulisan bukan hanya sarana menyampaikan gagasan, tetapi juga dapat menjadi medium untuk memperkenalkan nilai-nilai Islam kepada masyarakat.
“Gerakan menulis untuk mempromosikan nilai-nilai Islam untuk menghilangkan hegemoni tulisan non-Islam,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Forum Lingkar Pena memiliki fokus pada tiga aspek utama, yakni organisasi, penulisan, dan keislaman.
Karena itu, gerakan literasi tidak berhenti pada aktivitas membaca. Ada pula tanggung jawab untuk memproduksi pengetahuan melalui tulisan dan menghadirkan gagasan yang dapat memberi warna dalam ruang publik.
Rak Buku sebagai Ruang Mimpi
Perspektif berbeda datang dari dunia pendidikan. Penggiat literasi Sulsel sekaligus Kepala Perpustakaan SMAN 17 Makassar, Murnih Aisyah, mengingatkan bahwa perpustakaan seharusnya tidak hanya dipandang sebagai tempat menyimpan buku.
“Rak buku bukan cuma tempat untuk menyimpan buku, tetapi sebagai ruang mimpi,” ungkap Murnih.
Menurutnya, buku dapat menjadi jendela bagi generasi muda untuk mengenal dunia yang lebih luas.
Karena itu, perpustakaan perlu dikembangkan menjadi ruang yang hidup, nyaman, dan mampu mendorong imajinasi serta menumbuhkan cita-cita generasi muda.
Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa ruang literasi memiliki peran lebih besar daripada sekadar menyediakan koleksi bacaan. Ia dapat menjadi ruang tumbuh bagi gagasan, kreativitas, dan masa depan.
Dari Warna-Warni Menjadi Dampak
Moderator talk show sekaligus Founder Daeng Berdampak, Firdaus, melihat keberagaman perspektif dalam diskusi tersebut sebagai gambaran dari warna-warni gerakan literasi di Sulawesi Selatan.
Menurutnya, gerakan literasi tidak harus hadir dalam bentuk yang seragam.
Ada yang bergerak melalui keluarga, sekolah, perpustakaan, komunitas, kepenulisan, lingkungan, hingga ruang digital. Setiap pendekatan memiliki peran dalam membangun ekosistem literasi yang lebih luas.
“Gerakan Warna-Warni Literasi Sulsel sangat mewarnai gerakan literasi di Sulsel untuk berdampak bagi diri sendiri, orang sekitar, dan umat di Sulawesi Selatan,” kata Firdaus.
Ia menilai pengetahuan yang diperoleh melalui membaca semestinya tidak berhenti sebagai pengetahuan personal.
Pengetahuan perlu diterjemahkan menjadi gagasan, lalu diwujudkan dalam tindakan yang memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.
Kolaborasi Jadi Kunci
Kegiatan tersebut sekaligus memperlihatkan pentingnya kolaborasi dalam membangun gerakan literasi.
Dukungan Tribun Timur, keterlibatan Duta Baca Sulawesi Selatan, peran Ramlah Rara dalam menyambungkan komunikasi, kehadiran para pegiat literasi, serta keterlibatan komunitas menjadi bagian dari ekosistem yang memungkinkan ruang dialog tersebut berlangsung.
Bagi Ramlah Rara, keterlibatan dalam menyambungkan komunikasi antarpihak merupakan salah satu bentuk dukungan terhadap upaya mempertemukan berbagai unsur yang memiliki perhatian terhadap perkembangan literasi di Sulawesi Selatan.
Pada akhirnya, talk show tersebut tidak hanya membicarakan buku.
Ia mempertemukan beragam perspektif tentang bagaimana literasi dapat tumbuh dari rumah, berkembang di sekolah dan komunitas, hadir melalui tulisan, bergerak ke isu lingkungan dan dunia digital, hingga menghasilkan dampak sosial.
Dari buku lahir pengetahuan. Dari pengetahuan tumbuh gagasan. Dari gagasan lahir gerakan. Dan dari gerakan, diharapkan lahir perubahan yang memberi manfaat bagi masyarakat Sulawesi Selatan. (*)













