MAKASSAR – Misi Dagang dan Investasi antara Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan mencatat nilai transaksi sementara mencapai Rp5,46 triliun hingga Rabu (4/11/2026) pukul 13.15 Wita.
Capaian tersebut menjadi momentum bagi kedua provinsi untuk memperkuat kerja sama perdagangan dan investasi, memperluas pasar komoditas unggulan, serta meningkatkan nilai tambah ekonomi daerah.
Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, saat menghadiri kegiatan di Hotel Claro, Makassar, mengatakan misi dagang menjadi wadah strategis untuk mempertemukan potensi produksi dan kebutuhan pasar, membuka peluang investasi, serta membangun hubungan ekonomi yang saling menguntungkan.
Ia berharap semakin banyak pelaku usaha dari Sulawesi Selatan yang terlibat dalam perdagangan antardaerah, khususnya dengan Jawa Timur.
Posisi Sulsel sebagai hub Indonesia Timur dinilai memberikan peluang besar untuk memperluas jaringan distribusi dan pemasaran produk.
“Harapan kami Insya Allah lebih banyak lagi pedagang-pedagang dari Sulawesi Selatan berjualan dan berkontribusi bersama dalam misi dagang dengan Jawa Timur, karena kita tahu Sulsel ini adalah hub Indonesia Timur,” ujarnya.
Kegiatan tersebut dihadiri Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, jajaran pemerintah daerah, pimpinan badan usaha milik daerah (BUMD), asosiasi ekonomi kreatif, pelaku usaha, serta mitra perdagangan dari kedua provinsi.
Ekonomi Sulsel Tumbuh 5,59 Persen
Dalam kesempatan itu, Andi Sudirman turut memaparkan perkembangan perekonomian Sulawesi Selatan. Pada triwulan II 2026, ekonomi Sulsel tumbuh 5,59 persen secara tahunan (year-on-year), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29 persen.
Ia juga menjelaskan sejumlah program pembangunan infrastruktur melalui skema Multi Years Project (MYP) 2025–2027 dengan nilai anggaran mencapai Rp3,7 triliun.
Program tersebut mencakup pembangunan dan penanganan infrastruktur jalan, irigasi, serta pembangunan dua rumah sakit regional.
Dari total anggaran tersebut, sekitar Rp2,5 triliun dialokasikan untuk penanganan infrastruktur jalan. Program ini menyasar kurang lebih 1.400 kilometer jalan yang dikerjakan secara bertahap, dengan progres pekerjaan sekitar 30–40 persen.
Menurut Andi Sudirman, pembangunan jalan tersebut diharapkan memperlancar mobilitas masyarakat, distribusi hasil pertanian, serta arus logistik antardaerah.
Sementara di sektor irigasi, sekitar 39 daerah irigasi tengah mendapatkan penanganan dan rehabilitasi. Program ini ditujukan untuk mendukung ketersediaan air bagi sekitar 54.000 hektare lahan persawahan masyarakat.
Empat Prioritas Kerja Sama Jatim-Sulsel
Andi Sudirman menekankan empat aspek yang perlu menjadi perhatian dalam penguatan kerja sama kedua provinsi.
Keempatnya meliputi perluasan perdagangan antardaerah, penguatan investasi dan hilirisasi industri, pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta industri kecil dan menengah (IKM), dan peningkatan konektivitas serta distribusi logistik.
Ia berharap misi dagang tidak berhenti pada pertemuan dan penandatanganan kesepakatan, tetapi berlanjut menjadi aktivitas ekonomi yang memberikan manfaat nyata bagi pelaku usaha.
“Harapannya kegiatan misi dagang ini menghasilkan sesuatu yang konkret. Yang paling penting adalah bagaimana kesepakatan tersebut benar-benar ditindaklanjuti, terjadi transaksi, barang dikirim, investasi direalisasikan, dan pelaku usaha mendapatkan manfaat,” ungkapnya.
Khofifah: Jatim dan Sulsel Harus Tumbuh Bersama
Sementara itu, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengatakan misi dagang merupakan upaya pemerintah daerah memperkenalkan produk unggulan sekaligus memperluas jaringan perdagangan dengan provinsi lain.
Sulawesi Selatan dipilih sebagai salah satu mitra karena memiliki posisi strategis sebagai pusat konektivitas perdagangan di kawasan Indonesia Timur.
Khofifah menyebutkan, hingga pukul 13.15 Wita, nilai transaksi dalam kegiatan tersebut telah mencapai Rp5,46 triliun.
“Saya menyampaikan terima kasih seluruh institusi pelaku usaha yang menguatkan misi dagang kali ini. Jam 13.15 Wita tercatat transaksinya sudah Rp5,46 triliun. Kita ingin bagaimana tumbuh bersama, maju bersama, dan sejahtera bersama. Hub Indonesia Timur adalah Sulawesi Selatan, tetapi Jawa Timur punya tagline Gerbang Baru Nusantara,” jelasnya.
Kegiatan tersebut juga dirangkaikan dengan penandatanganan kerja sama antara sejumlah lembaga ekonomi dari Jawa Timur dan Sulawesi Selatan.
Di antaranya Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI), dan Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (Gekrafs), serta sejumlah perusahaan dari kedua provinsi.
Kerja sama ini diharapkan memperkuat hubungan ekonomi antardaerah, memperluas akses pasar bagi produk unggulan, dan membuka peluang investasi yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi kedua provinsi. (*)

























