MAKASSAR — Cuaca yang berubah-ubah belakangan ini menjadi keluhan banyak warga. Pagi terasa panas menyengat, siang turun hujan deras, malam kembali gerah.
Fenomena ini dikenal sebagai musim pancaroba, masa peralihan antara dua musim yang kerap membawa serta gangguan kesehatan.
Menurut dr. Andi Batari Desiani, dokter umum di Health & Nutrition Clinic Tamalanrea, Makassar, musim pancaroba memang menuntut tubuh manusia untuk beradaptasi lebih keras.
“Pada masa pancaroba, cuaca berubah-ubah dan suhu tidak stabil. Tubuh perlu menyesuaikan diri, dan proses adaptasi itu bisa membuat sistem imun menurun,” jelasnya kepada SulselNow.com, Selasa (11/11/2025) pagi.
“Ketika daya tahan tubuh melemah, risiko penyakit seperti ISPA, flu, radang tenggorokan, atau diare akan meningkat,” urainya.
Lingkungan Lembab, Penyakit Mudah Menyerang
dr. Tari menjelaskan bahwa saat pancaroba, frekuensi hujan meningkat dan suhu udara menjadi lebih lembab.
Kondisi ini bukan hanya mengganggu kenyamanan beraktivitas, tetapi juga menciptakan lingkungan ideal bagi virus, bakteri, dan jamur untuk berkembang biak.
“Lumut dan jamur tumbuh subur, populasi nyamuk dan serangga meningkat. Ini semua bisa berdampak langsung terhadap kesehatan manusia,” ujarnya.
Beberapa penyakit yang umum muncul di masa pancaroba antara lain infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), influenza, demam berdarah dengue (DBD), diare, gangguan pencernaan, serta alergi dan asma yang mudah kambuh akibat perubahan suhu dan paparan debu.
“Karena itu, kesadaran menjaga daya tahan tubuh dan kebersihan lingkungan menjadi hal yang sangat penting,” tambahnya.
Kelompok Rentan Harus Ekstra Waspada
Tak semua orang memiliki kemampuan adaptasi yang sama terhadap perubahan cuaca ekstrem.
Menurut dr. Tari, kelompok seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit kronis seperti diabetes, asma, atau penyakit jantung adalah yang paling rentan.
“Anak-anak sistem imunnya belum matang, sementara lansia daya tahannya mulai menurun. Ibu hamil pun lebih mudah tertular penyakit karena perubahan hormonal,” katanya.
Mengapa Tubuh Mudah Sakit?
Tubuh manusia sejatinya memiliki mekanisme adaptasi terhadap perubahan suhu dan kelembapan. Namun jika perubahan terjadi terlalu cepat, sistem imun bisa “kewalahan”.
“Udara panas yang tiba-tiba berubah dingin membuat selaput lendir di hidung dan tenggorokan mengering. Ini mengurangi pertahanan alami tubuh,” jelas dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia (UMI) ini.
Kondisi tersebut sering diperburuk oleh stres fisik akibat kelelahan, kurang tidur, dan dehidrasi yang melemahkan kemampuan tubuh melawan infeksi.
Menjaga Daya Tahan Tubuh
Menjaga daya tahan tubuh, kata dr. Tari, tidak bisa dilakukan secara instan.
Ia harus dibangun melalui kebiasaan sehari-hari yang sehat, seperti mengonsumsi makanan bergizi seimbang, memperbanyak sayur dan buah, mencukupi kebutuhan air putih, tidur enam hingga delapan jam setiap malam, serta berolahraga ringan secara teratur.
“Menjaga kebersihan diri dan lingkungan, melengkapi vaksinasi seperti influenza atau DBD, serta menghindari rokok dan stres berlebihan juga sangat penting,” ujarnya.
“Kalau kita menjaga pola hidup seperti ini, sistem imun akan bekerja optimal,” tekan dr Tari.
Makanan Penguat Imunitas
Untuk menjaga kesehatan, pola makan memegang peran besar. dr. Tari menyarankan masyarakat untuk mengonsumsi sayuran dan buah yang kaya vitamin A, C, dan antioksidan, seperti jeruk, stroberi, bayam, wortel, dan brokoli.
Protein dari ikan, telur, daging tanpa lemak, tempe, dan tahu juga penting untuk pembentukan sel imun.
“Kacang-kacangan seperti almond dan kacang tanah mengandung vitamin E dan zinc. Yoghurt dan probiotik alami juga baik untuk menjaga kesehatan usus, yang merupakan bagian penting dari sistem imun,” tuturnya.
Ia mengingatkan agar masyarakat menghindari makanan siap saji dan lebih mengutamakan bahan alami yang segar dan bernutrisi.
Tidur Berkualitas dan Olahraga
Selain makanan, tidur dan olahraga juga berperan penting dalam menjaga imunitas.
“Saat tidur, tubuh memproduksi sitokin, protein yang membantu melawan infeksi. Kalau kita kurang tidur, produksi sitokin menurun,” jelas dr. Tari.
Ia menambahkan bahwa olahraga ringan dua hingga tiga kali seminggu mampu memperlancar sirkulasi darah dan membantu sel imun bekerja lebih efektif.
“Tidak perlu olahraga berat. Jalan kaki, bersepeda ringan, atau senam sudah cukup,” katanya.
Perlukah Suplemen Vitamin?
Menurut dr. Tari, tidak semua orang wajib mengonsumsi suplemen vitamin.
“Kalau pola makan sudah seimbang, tubuh sudah mendapat asupan vitamin yang cukup,” ujarnya.
Namun, bagi mereka yang sering kelelahan, stres, jarang makan sayur-buah, atau sedang dalam masa pemulihan, suplemen bisa membantu.
“Vitamin C, D, B kompleks, dan zinc bermanfaat untuk mendukung imun. Tapi suplemen itu hanya pelengkap, bukan pengganti makanan sehat,” tegasnya.
Kebersihan Lingkungan adalah Kunci
Cuaca lembab dan genangan air menjadi tempat ideal bagi nyamuk dan kuman berkembang biak. Karena itu, dr. Tari menekankan pentingnya kebersihan lingkungan.
“Lakukan 3M: menguras, menutup, dan mengubur tempat air. Kelola sampah dengan baik dan pastikan ventilasi rumah cukup,” ujarnya.
Lingkungan yang bersih dan berventilasi baik membantu mencegah penyakit menular serta menjaga udara tetap segar di dalam rumah.
Kenali Gejala Ringan dan Tanda Bahaya
dr. Tari juga memberi panduan sederhana untuk membedakan gejala ringan akibat cuaca dan tanda penyakit serius.
“Kalau hanya pilek ringan, tenggorokan gatal, atau sakit kepala kecil, biasanya bisa sembuh sendiri dengan istirahat dan cukup minum,” katanya.
Namun, jika muncul demam tinggi lebih dari tiga hari, sesak napas, batuk berdarah, diare berat, atau bintik merah di kulit, segera periksa ke dokter.
“Jangan tunggu parah. Deteksi dini itu penting,” tegasnya.
Beraktivitas di Luar Ruangan
Bagi masyarakat yang sering berada di luar ruangan, dr. Tari mengimbau agar lebih waspada terhadap perubahan cuaca yang tidak menentu.
Ia menyarankan untuk selalu membawa jaket, payung, atau jas hujan, menggunakan pakaian yang menyerap keringat, memakai masker untuk melindungi diri dari debu dan polusi, serta tidak lupa menggunakan lotion anti-nyamuk.
“Setelah beraktivitas, cuci tangan dan ganti pakaian, lalu pastikan cukup istirahat. Cuaca tidak menentu, jadi tubuh juga harus disiapkan untuk kondisi apa pun,” ujarnya.
Hadapi dengan Siap, Bukan Panik
Menutup wawancara, dokter cantik ini menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara tubuh dan pikiran.
“Cuaca yang tidak menentu itu hal alami. Yang penting adalah kesiapan tubuh dan lingkungan kita dalam menghadapinya,” ucapnya.
“Hadapi pancaroba dengan kesiapan, bukan kekhawatiran. Jaga pola hidup sehat, kebersihan, dan ketenangan hati agar tubuh tetap kuat dan aktivitas tetap lancar,” pungkas dr Tari dengan senyum manis yang khas. (*)













