Budaya

Empat Memandang Rupa: Menyusuri Jejak Gerakan Seni yang Mengikat Tradisi dan Kontemporer

Tim Redaksi
×

Empat Memandang Rupa: Menyusuri Jejak Gerakan Seni yang Mengikat Tradisi dan Kontemporer

Sebarkan artikel ini

Catatan Perjalanan Terbaru: Dari Swara Kebun Hingga Sentra Budaya di Bulukumba

Menyusuri Jejak Gerakan Seni yang Mengikat Tradisi dan Kontemporer

PADA 16 Februari 2026, gerakan seni rupa Empat Memandang Rupa kembali menghiasi panggung seni dengan tampilan karya di Swara Kebun di Kebun Bersama, Bonto Sunggu, Bulukumba.

Dari sini kemudian, karya-karya mereka dipindahkan ke Studio Minat – rumah panggung kayu khas Bulukumba yang juga berfungsi sebagai galeri dan studio seni milik Ahmad Rijal, seniman multitalenta.

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Pameran akan berlangsung hingga acara lebaran seni pada bulan Maret 2026 mendatang.

Selain menampilkan karya, gerakan ini juga akan melakukan riset sederhana yang menelusuri kawasan Tanah Toa Kajang, kemudian melanjutkan ke Tana Beru, sentra pembuatan perahu Pinisi khas Sulawesi Selatan.

Daya ungkap Empat Memandang Rupa selalu mengedepankan ruang terbuka sebagai wadah kolaborasi, dengan misi untuk menyatukan seni dan jiwa masyarakat.

Semangat ini juga tercermin dalam eksplorasi filosofi Bugis-Makassar yang menjadi pijakan bersama bagi empat seniman pendiri, menjadikan gerakan ini unik dengan keinginan untuk membawa seni keluar dari batasan galeri konvensional.

Seri Pertama hingga Kedua: Dari Awal Cetus hingga Transformasi

Dicetuskan pada tahun 1999, Empat Memandang Rupa awalnya muncul sebagai sebuah fenomena seni yang segar di Makassar. Sepuluh tahun kemudian, pada 17-24 Desember 2009, gerakan ini melanjutkan perjalanannya.

Seri Kedua sukses digelar di Galeri Colli’ Pakue Fakultas Seni dan Desain Universitas Negeri Makassar. Ajang ini menghadirkan karya dari seniman seperti Achmad Fauzi, Alan Tola, Amrullah Syam, Asman Djasmin, Ahmad Anzul, Budi Haryawan, dan Ishakim.

Seri Kedua bukan sekadar kelanjutan, melainkan transformasi konsep yang lebih visioner. Awalnya sebagai ajang pameran, Empat Memandang Rupa kemudian berkembang menjadi komunitas perupa yang lebih kuat dan berpengaruh.

Konsep kolaborasi tetap dipertahankan, namun karya masing-masing seniman tetap menjadi wacana mandiri dalam narasi seni rupa Makassar.

Suksesnya gelaran ini menjadi tonggak penting, membuktikan bahwa gerakan ini memiliki kesinambungan yang kuat sesuai dengan pesan yang disampaikan pada seri pertama.

Seri Ketiga: Menguatkan Jejaring dan Wacana Seni

Pada 26-30 Desember 2019, Seri Ketiga digelar di galeri ruang seni Findart, kawasan Perumnas Antang.

Acara ini menampilkan karya dari 12 perupa, antara lain Achmad Fauzi, Ahmad Anzul, Alan Tola, Asman Djasmin, Amrullah Syam, Aksay, Ashar, Budi Haryawan, Syamsul Bachri ‘Ancu’, Muhammad Suyudi, Nurfadillah, dan Yulianto Avie.

Sebanyak 21 karya, sebagian besar lukisan dengan berbagai gaya dan genre, dipajang selama pameran.

Selain menampilkan karya, acara juga diisi dengan diskusi tentang perkembangan seni rupa di Makassar, Artist Talk, dan bedah karya untuk mendekatkan seni dengan masyarakat.

Warisan yang Hidup dan Menginspirasi

Empat Memandang Rupa bukan sekadar ajang pameran, melainkan warisan budaya yang tak ternilai. Melalui karya-karya yang dipamerkan, gerakan ini menjadi jendela untuk memahami keindahan dan kompleksitas budaya Bugis Makassar.

Gerakan ini juga menjadi cerminan perkembangan seni rupa kontemporer Indonesia, khususnya di Makassar, dengan upaya menginovasi melalui pemaduan filosofi tradisional dengan pendekatan seni yang lebih bebas dan modern.

Dengan semangat kolaborasi dan inovasi yang tak pernah pudar, seniman Empat Memandang Rupa terus menjadi inspirasi bagi generasi seniman muda dan masyarakat luas.

Semoga perjalanan seni kali ini terus berlanjut. Dengan membawa identitas dan budaya Sulawesi Selatan sebagai kebanggaan dalam perkembangan seni rupa tanah air.

Wahyuddin Yunus
Dokumentator dan Promotor Seni Rupa Makassar,
Founder Jurnal Warung Kopi