Berita

Hikmah Maulid Nabi, Dr. Asrullah: Momentum Meneladani Kepemimpinan dan Membangun Peradaban

Tim Redaksi
×

Hikmah Maulid Nabi, Dr. Asrullah: Momentum Meneladani Kepemimpinan dan Membangun Peradaban

Sebarkan artikel ini
Wakil Ketua Umum PP PRIMA DMI, Dr. Asrullah
Wakil Ketua Umum PP PRIMA DMI, Dr. Asrullah (Foto: IST)

MAKASSAR — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW hendaknya tidak berhenti sebagai momentum untuk mengenang kelahiran Rasulullah. Lebih dari itu, Maulid dapat menjadi ruang refleksi untuk menggali dan menerapkan nilai-nilai profetik dalam kehidupan sosial, politik, dan kepemimpinan.

Pandangan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum PP PRIMA DMI, Dr. Asrullah, S.H., M.H., dalam refleksinya mengenai hikmah Maulid Nabi dari perspektif sosial kemasyarakatan, politik, dan keteladanan pemimpin.

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Menurut Asrullah, Rasulullah Muhammad SAW telah memberikan teladan penting mengenai bagaimana membangun dan mengembangkan peradaban dengan menempatkan manusia, keadilan, persaudaraan, dan kemaslahatan sebagai bagian penting dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

“Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW bukan sekadar momentum untuk mengenang kelahiran Rasulullah, tetapi juga menjadi ruang refleksi untuk meneladani nilai-nilai perjuangan beliau dalam membangun peradaban,” ujar Asrullah dalam keterangan tertulis, Selasa (25/8/2026).

Memperkuat Kepedulian Sosial

Dalam perspektif sosial kemasyarakatan, kata Asrullah, Rasulullah mengajarkan pentingnya membangun masyarakat yang saling peduli, menghormati, dan menguatkan.

Keteladanan tersebut tercermin dari perhatian Rasulullah terhadap kelompok masyarakat yang lemah, anak yatim, kaum miskin, serta kepedulian terhadap tetangga dan lingkungan sosial.

Rasulullah juga menunjukkan bagaimana persaudaraan dapat dibangun di tengah keberagaman. Karena itu, menurut Asrullah, semangat Maulid semestinya diterjemahkan ke dalam tindakan nyata untuk memperkuat ukhuwah, gotong royong, kepedulian sosial, dan persatuan.

“Semangat Maulid harus mendorong kita untuk memperkuat ukhuwah, gotong royong, kepedulian sosial, dan persatuan umat serta bangsa,” katanya.

Menurut dia, nilai-nilai tersebut menjadi semakin penting di tengah kehidupan masyarakat yang menghadapi berbagai tantangan sosial dan perubahan yang berlangsung cepat.

Peringatan Maulid, dengan demikian, tidak semestinya hanya menjadi agenda seremonial tahunan, tetapi juga momentum untuk memperkuat kembali solidaritas dan kepedulian antarsesama.

Politik sebagai Jalan Kemaslahatan

Asrullah juga menyoroti dimensi politik dalam keteladanan Rasulullah. Menurutnya, Rasulullah memberikan pelajaran bahwa kekuasaan dan kepemimpinan merupakan amanah yang harus digunakan untuk menghadirkan keadilan, menjaga persatuan, dan melindungi kepentingan masyarakat.

Karena itu, politik idealnya ditempatkan sebagai instrumen untuk menghadirkan kemaslahatan publik, bukan semata-mata sebagai arena perebutan kekuasaan.

“Politik harus menjadi sarana menghadirkan kemaslahatan, bukan sekadar perebutan kekuasaan,” tegasnya.

Ia menilai semangat musyawarah, keadilan, kejujuran, serta penghormatan terhadap perbedaan merupakan prinsip penting yang relevan untuk terus dikembangkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dalam konteks tersebut, nilai-nilai yang diwariskan Rasulullah dapat menjadi pijakan moral bagi setiap orang yang terlibat dalam kehidupan politik, baik sebagai pemimpin, penyelenggara pemerintahan, maupun masyarakat.

Pemimpin yang Hadir dan Melayani

Aspek lain yang tidak kalah penting, lanjut Asrullah, adalah keteladanan Rasulullah sebagai seorang pemimpin.

Rasulullah dikenal sebagai sosok yang memiliki integritas, rendah hati, berani, dan adil. Kepemimpinannya juga ditandai dengan kedekatan terhadap masyarakat.

Menurut Asrullah, Rasulullah tidak hanya menyampaikan nilai-nilai kepemimpinan melalui kata-kata, tetapi memberikan contoh melalui tindakan dalam kehidupan sehari-hari.

“Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mampu mendengar, melayani, dan hadir ketika masyarakat membutuhkan,” ujarnya.

Bagi Asrullah, keteladanan tersebut relevan untuk menjadi refleksi bagi para pemimpin saat ini. Kepemimpinan tidak cukup hanya diukur dari kewenangan atau jabatan yang dimiliki, tetapi juga dari kemampuan menghadirkan rasa keadilan, memberikan pelayanan, dan menyelesaikan persoalan masyarakat.

Generasi Muda dan Estafet Pembangunan

Asrullah kemudian menekankan pentingnya peran generasi muda dalam menerjemahkan nilai-nilai profetik tersebut ke dalam kehidupan nyata.

Sebagai generasi penerus estafet pembangunan, kaum muda dinilai memiliki tanggung jawab untuk tidak hanya memahami nilai-nilai keagamaan secara konseptual, tetapi juga menjadikannya sebagai pedoman dalam kehidupan sosial dan kebangsaan.

Ia berharap momentum Maulid Nabi dapat mendorong lahirnya generasi yang berilmu, berakhlak, memiliki kepedulian sosial, dan siap mengambil peran dalam kehidupan politik serta pembangunan bangsa.

“Maulid Nabi hendaknya menjadi momentum untuk melahirkan generasi yang berilmu, berakhlak, memiliki kepedulian sosial, serta siap mengambil peran dalam kehidupan politik dan kebangsaan dengan menjunjung tinggi integritas dan kemaslahatan,” tuturnya.

Pada akhirnya, menurut Asrullah, hikmah Maulid tidak hanya terletak pada kemampuan mengingat sejarah kelahiran Rasulullah Muhammad SAW, tetapi pada sejauh mana nilai-nilai keteladanan beliau mampu dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dari kepedulian terhadap sesama, keberanian memperjuangkan keadilan, hingga kepemimpinan yang amanah dan melayani, nilai-nilai tersebut menjadi warisan moral yang tetap relevan untuk membangun masyarakat dan bangsa.

Dengan demikian, Maulid dapat menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran bersama bahwa membangun peradaban bukan hanya tentang kemajuan material, tetapi juga tentang membentuk manusia yang berintegritas, berakhlak, peduli terhadap sesama, dan mampu menggunakan kekuasaan untuk menghadirkan kemaslahatan. (*)