Sulawesi Selatan

Puncak Kemarau Agustus, Gubernur Sulsel Minta Warga Waspadai Kebakaran Hutan dan Lahan

Tim Redaksi
×

Puncak Kemarau Agustus, Gubernur Sulsel Minta Warga Waspadai Kebakaran Hutan dan Lahan

Sebarkan artikel ini
Gubernur Sulsel Andi Sudirman Ajak Masyarakat Bersama-sama Cegah Kebakaran Hutan dan Lahan

MAKASSAR — Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sulawesi Selatan meningkat seiring menguatnya kondisi musim kemarau. Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.

Imbauan tersebut disampaikan menyusul terjadinya sejumlah kebakaran di beberapa wilayah Sulsel. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebelumnya melaporkan kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Tana Toraja dengan area terdampak sekitar 15 hektare.

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Penanganan kebakaran juga dilakukan di kawasan Gunung Enrekang, Kabupaten Enrekang, serta wilayah Malino, Kabupaten Gowa. Tim gabungan yang terdiri atas unsur TNI-Polri, pemadam kebakaran, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK), serta Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) dikerahkan untuk menangani titik-titik kebakaran tersebut.

Andi Sudirman mengapresiasi keterlibatan berbagai unsur dalam penanganan di lapangan. Namun, ia menilai langkah pencegahan harus menjadi perhatian utama, terutama di tengah kondisi cuaca yang meningkatkan potensi kebakaran.

“Ayo warga kami tercinta, bersama-sama menjaga lingkungan sekitar serta mencegah dari kebakaran pada daerah dengan kerawanan tinggi,” ajak Andi Sudirman.

Ia meminta masyarakat tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu munculnya api, termasuk pembakaran lahan secara sembarangan maupun membuang benda yang berpotensi menjadi sumber api di kawasan yang kering.

Menurutnya, pencegahan tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah maupun petugas pemadam. Keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting untuk mencegah api muncul dan meluas.

“Mari kita jaga lingkungan kita bersama. Pencegahan lebih baik daripada kita harus menghadapi dampak kebakaran yang lebih besar,” katanya.

Sejumlah Wilayah Masuk Peringatan Kekeringan

Potensi karhutla menjadi perhatian karena kondisi kemarau tahun ini berlangsung bersamaan dengan fenomena El Nino. BMKG menyebut kondisi El Nino berada pada kategori kuat, sementara puncak musim kemarau 2026 diprediksi berlangsung pada Agustus.

Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan kekeringan dan membuat vegetasi serta lahan lebih mudah terbakar.

Di Sulawesi Selatan, sejumlah wilayah juga telah masuk dalam peringatan dini kekeringan meteorologis. Pemerintah mengingatkan kondisi tersebut perlu diantisipasi karena dapat meningkatkan kerentanan terhadap kebakaran hutan dan lahan.

Kepala DLHK Sulsel Kasman mengatakan penanganan karhutla membutuhkan koordinasi lintas sektor. Tidak hanya pemerintah, keterlibatan dunia usaha dan masyarakat juga diperlukan dalam mencegah maupun menangani kebakaran.

“Semua unsur terkait, baik itu pemerintah pusat, kemudian dari pemerintah provinsi dan kabupaten/kota, termasuk keterlibatan semua sektor swasta,” kata Kasman.

Ia mengatakan sejumlah lokasi yang sebelumnya mengalami kebakaran telah berhasil dipadamkan. Tim di lapangan masih melakukan pemantauan untuk memastikan tidak ada titik api yang kembali muncul.

Selain pemantauan, pemerintah juga melakukan evaluasi terhadap luasan lahan yang terdampak serta memberikan edukasi kepada masyarakat di sekitar lokasi kebakaran.

“Alhamdulillah, titik-titik tersebut sudah padam dan teman-teman sementara melakukan monitoring dan evaluasi, termasuk mengevaluasi luasan yang terbakar serta melakukan edukasi kepada masyarakat,” ujarnya.

Kelompok Tani Turut Bantu Pemadaman

Upaya penanganan karhutla di sejumlah lokasi juga mendapat dukungan langsung dari masyarakat. Kasman menyebut kelompok tani ikut membantu petugas melakukan pemadaman di lapangan.

“Kemarin juga kita dibantu oleh kelompok-kelompok tani masyarakat untuk melakukan pemadaman di lapangan,” katanya.

Kolaborasi tersebut dinilai penting mengingat masyarakat yang berada di sekitar kawasan rawan kebakaran memiliki peran strategis dalam mendeteksi kemunculan api sejak dini.

Pemerintah Provinsi Sulsel pun mendorong kewaspadaan bersama selama periode kemarau, terutama di wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi. Dengan kondisi cuaca yang kering, upaya mencegah munculnya titik api dinilai jauh lebih efektif dibandingkan menangani kebakaran setelah api meluas. (*)