MAKASSAR — Moderasi beragama dinilai menjadi salah satu modal penting untuk menjaga persatuan Indonesia di tengah keberagaman masyarakat. Perbedaan keyakinan, latar belakang, maupun organisasi tidak semestinya menjadi sekat, melainkan dikelola melalui dialog dan kerja sama.
Pesan tersebut mengemuka dalam Dialog Kebangsaan yang digelar Yayasan Al-Markaz Al-Islami Muhammad Yusuf Makassar di Ballroom Masjid Al-Markaz Al-Islami, Makassar, Sabtu (15/8/2026).
Dialog mengangkat tema “Moderasi Beragama, Menguatkan Integritas Diri Kepahlawanan Menuju Indonesia Sejahtera dan Makmur.” Forum tersebut mempertemukan unsur pemerintah, aparat keamanan, organisasi Islam, tokoh agama, dan tokoh masyarakat.
Dari jajaran DPW LDII Sulawesi Selatan, hadir Ketua DPW LDII Sulsel H. Asdar Mattiro, S.Sos., M.I.Kom., Wakil Ketua Prof. Dr. H. Sukardi Weda, S.S., M.Hum., M.Pd., M.Si., M.M., M.Sos.I., M.A.P., serta Wakil Ketua Dr. Teri, S.E., M.Si., Ak., CA., CTA., CPA., CHRO.
Sejumlah tokoh dan pejabat turut hadir, di antaranya Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Pemprov Sulsel Dr. H. M. Ishak Iskandar, M.Kes., M.M., yang mewakili Gubernur Sulawesi Selatan, serta Dirbinmas Polda Sulsel Kombes Pol. Anang Triarsono, S.I.K., M.Si., yang mewakili Kapolda Sulsel.
Hadir pula Ketua MUI Sulsel Prof. Dr. H. Mustari Bosra, M.A., Ketua FKUB Sulsel sekaligus Sekretaris MUI Sulsel Prof. Dr. KH. Muammar Bakry, Lc., M.A., dan Ketua Harian Yayasan Islamic Center (YIC) Al-Markaz Al-Islami Makassar Prof. Dr. H. Mustari Mustafa, M.Pd.
Forum tersebut juga melibatkan sejumlah organisasi Islam dan kemasyarakatan, termasuk unsur Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU), Hidayatullah, serta tokoh agama dan masyarakat.
Perbesar Persamaan, Perkecil Perbedaan
Ketua DPW LDII Sulsel Asdar Mattiro mengatakan keberagaman merupakan kenyataan yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan berbangsa. Karena itu, yang perlu dibangun bukan upaya menghapus perbedaan, melainkan kemampuan untuk mengelolanya agar tidak berkembang menjadi konflik.
Menurut Asdar, masyarakat perlu mencari lebih banyak titik temu di antara berbagai perbedaan yang ada.
“Memperbesar persamaan dan memperkecil perbedaan,” kata Asdar dalam dialog tersebut.
Ia menjelaskan, setiap kelompok memiliki latar belakang, tradisi, dan sudut pandang masing-masing. Namun, seluruh elemen bangsa memiliki kepentingan yang lebih besar, yakni menjaga persatuan dan membangun Indonesia.
Dalam konteks itu, dialog antarkelompok menjadi penting. Komunikasi yang terbuka dapat membantu masyarakat menemukan titik temu sekaligus membangun saling pengertian di tengah perbedaan.
Pancasila Jadi Titik Temu
Asdar juga menempatkan Pancasila sebagai dasar negara sekaligus titik temu seluruh komponen bangsa.
Menurut dia, nilai-nilai kebangsaan tidak cukup hanya diketahui atau dihafalkan. Nilai tersebut harus diterjemahkan dalam sikap dan perilaku sehari-hari.
Pemahaman terhadap empat pilar kebangsaan, kata dia, juga perlu terus diperkuat agar masyarakat tidak terjebak dalam ego kelompok.
Ketika kepentingan bangsa mampu ditempatkan di atas kepentingan kelompok, perbedaan dapat menjadi kekayaan sosial. Sebaliknya, dominasi ego kelompok berpotensi memperlebar jarak dan memicu perpecahan.
“Kalau setiap kelompok lebih mengedepankan ego masing-masing, perbedaan bisa berkembang menjadi potensi perpecahan yang mengancam persatuan dan keutuhan bangsa,” ujar Asdar.
Karena itu, moderasi beragama dalam pandangannya tidak hanya berkaitan dengan kehidupan keagamaan. Nilai tersebut juga memiliki kaitan erat dengan ketahanan sosial dan kehidupan kebangsaan.
LDII: Bersanding, Bukan Bertanding
Asdar menegaskan, membangun persatuan tidak berarti setiap organisasi harus kehilangan identitasnya. Masing-masing kelompok tetap dapat menjalankan peran sesuai karakter dan bidangnya, selama diarahkan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat dan bangsa.
“LDII ingin bersanding dalam membangun Indonesia, bukan bertanding, apalagi bersaing,” tegasnya.
Menurut dia, semangat bersanding berarti membuka ruang bagi berbagai kelompok untuk bekerja bersama tanpa harus menjadi seragam.
Perbedaan identitas organisasi maupun pandangan keagamaan, kata dia, dapat tetap ada sepanjang komunikasi dan kerja sama terus dibangun.
Dialog Jadi Ruang Merawat Persatuan
Kehadiran berbagai elemen dalam Dialog Kebangsaan di Al-Markaz Al-Islami menunjukkan pentingnya ruang perjumpaan antarkomponen masyarakat.
Pemerintah, aparat keamanan, organisasi keagamaan, tokoh agama, dan masyarakat memiliki peran yang berbeda, tetapi dapat bertemu dalam satu kepentingan bersama: menjaga kehidupan sosial yang damai dan memperkuat persatuan.
Ruang dialog juga semakin penting di tengah derasnya arus informasi. Perbedaan pandangan yang tidak disertai komunikasi berpotensi melahirkan prasangka dan memperbesar jarak antarkelompok.
Bagi DPW LDII Sulsel, keikutsertaan dalam forum tersebut menjadi bagian dari komitmen untuk memperluas komunikasi lintas organisasi sekaligus memperkuat kontribusi dalam kehidupan kebangsaan.
Pada akhirnya, moderasi beragama bukan hanya menyangkut bagaimana seseorang menjalankan keyakinannya, tetapi juga bagaimana ia mampu hidup berdampingan, menghormati perbedaan, dan bekerja bersama dengan orang lain dalam satu rumah kebangsaan bernama Indonesia. (*)















