Nasional

Kelas Menengah Menyusut, Konsumsi Rumah Tangga Terancam Sulit Tumbuh di Atas 5 Persen

Tim Redaksi
×

Kelas Menengah Menyusut, Konsumsi Rumah Tangga Terancam Sulit Tumbuh di Atas 5 Persen

Sebarkan artikel ini
Kelas Menengah

JAKARTA — Penyusutan jumlah kelas menengah di Indonesia mulai menimbulkan tekanan terhadap pola konsumsi rumah tangga.

Dampaknya bukan semata-mata terlihat dari penurunan angka konsumsi secara agregat, melainkan juga perubahan kualitas dan komposisi belanja masyarakat.

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mengatakan konsumsi rumah tangga masih tumbuh, tetapi tekanan terhadap daya beli kelas menengah perlu menjadi perhatian karena kelompok ini memiliki kontribusi besar terhadap konsumsi nasional.

Pada kuartal II 2026, konsumsi rumah tangga tercatat tumbuh 5,06 persen dan menyumbang 53,32 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Namun, pertumbuhan tersebut turut ditopang momentum musiman, seperti libur hari raya dan hari besar keagamaan.

Sementara itu, sepanjang 2025, konsumsi rumah tangga tumbuh 4,98 persen. Pertumbuhannya juga cenderung sulit bertahan stabil di atas 5 persen.

“Peran kelas menengah sangat penting karena kelompok ini bersama masyarakat menuju kelas menengah menyumbang sekitar 81,49 persen konsumsi masyarakat,” tutur Yusuf, Minggu (18/10/2026), dikutip dari Inilah.com.

Menurut Yusuf, konsumsi kelompok kelas menengah justru tumbuh lebih lambat dibandingkan rata-rata nasional. Pada 2025, konsumsi kelas menengah hanya tumbuh sekitar 4,1 persen, lebih rendah daripada pertumbuhan konsumsi per kapita nasional yang mencapai 4,6 persen.

Tekanan juga mulai terlihat pada belanja kebutuhan dasar. Konsumsi pangan kelas menengah hanya tumbuh sekitar 0,9 persen. Kondisi ini mengindikasikan penyesuaian pengeluaran tidak lagi terbatas pada kebutuhan tersier, tetapi mulai menyentuh kebutuhan sehari-hari.

“Dampaknya terhadap konsumsi rumah tangga lebih terlihat pada perubahan kualitas dan komposisi belanja daripada pada penurunan angka agregat,” tegasnya.

Masyarakat yang mengalami penurunan kemampuan ekonomi tetap melakukan pembelian, tetapi mengubah prioritas pengeluaran.

Mereka cenderung beralih ke produk yang lebih murah, mengurangi frekuensi pembelian, hingga menunda belanja yang dianggap tidak mendesak.

Pasar Barang Bernilai Tinggi Berpotensi Tertekan

Penyusutan kelas menengah menjadi perhatian karena kelompok ini merupakan salah satu sumber utama permintaan bagi berbagai sektor ekonomi.

Kelas menengah berperan dalam mendorong pembelian rumah pertama, kendaraan, perangkat elektronik, asuransi, layanan pendidikan swasta, hingga perjalanan wisata domestik.

Ketika jumlah kelompok ini menyusut dan daya belinya tertekan, permintaan terhadap berbagai produk dan layanan tersebut berpotensi ikut melambat. Dampaknya dapat merambat ke dunia usaha, mulai dari penurunan penjualan hingga penyesuaian produksi dan perekrutan tenaga kerja.

“Ketika kelompok ini menyusut, perekonomian kehilangan salah satu sumber utama untuk mendorong pertumbuhan konsumsi dari sekitar 5 persen menuju 6 persen,” ungkap Yusuf.

Dengan kontribusi besar kelas menengah terhadap konsumsi, perubahan perilaku belanja kelompok ini dapat memengaruhi dinamika permintaan domestik secara lebih luas.

Pertumbuhan Ekonomi Berisiko Tertahan

Yusuf memperingatkan, tanpa pemulihan kondisi ekonomi kelas menengah, pertumbuhan konsumsi rumah tangga berpotensi tertahan di kisaran 4,8 hingga 5,1 persen.

“Akibatnya, upaya mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi harus semakin bergantung pada investasi dan belanja pemerintah. Padahal ruang fiskal juga menghadapi berbagai keterbatasan,” ucapnya.

Ketergantungan yang lebih besar pada investasi dan belanja pemerintah, menurut pandangan tersebut, menjadi tantangan tersendiri ketika ruang fiskal menghadapi keterbatasan. Karena itu, pemulihan daya beli kelas menengah menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga kekuatan konsumsi domestik.

Data yang dikutip dalam laporan tersebut menunjukkan jumlah penduduk kelas menengah Indonesia menyusut dari 60,8 juta orang pada 2018 menjadi 46,7 juta orang pada 2025.

Penyusutan tersebut mempertegas pentingnya mencermati bukan hanya pertumbuhan konsumsi secara keseluruhan, tetapi juga kemampuan masyarakat mempertahankan kualitas belanja dan memenuhi kebutuhan rumah tangga. (*)