MAKASSAR — Tokoh dan pegiat sosial kemasyarakatan asal Luwu Utara, Ilham Maletting, angkat bicara terkait isu “aset kekayaan nusantara” yang selama bertahun-tahun diyakini sebagian orang sebagai harta triliunan rupiah peninggalan raja-raja di Nusantara dan disimpan di luar negeri.
Menurutnya, narasi tersebut tidak lebih dari cerita fiktif yang menyesatkan banyak orang.
“Tidak pernah ada raja nusantara dalam sejarah. Masing-masing daerah punya kerajaannya sendiri,” tegas Ilham, Selasa (7/10).
Ia menilai bahwa isu tentang collateral asset atau harta amanah nusantara yang disebut-sebut menjadi kekayaan tersembunyi bangsa Indonesia hanyalah mitos yang tidak pernah terbukti kebenarannya, meski telah beredar selama puluhan tahun.
Ilham mengaku pernah terlibat langsung selama dua tahun dalam upaya menelusuri klaim keberadaan aset tersebut. Ia bahkan bersama sejumlah pihak sempat berkeliling Pulau Jawa untuk mencari kebenaran cerita tersebut.
“Kami bahkan keliling pulau Jawa menelusuri dan mencari tahu pemegang kunci, tapi semakin ke dalam semakin tidak jelas dan kabur,” ungkapnya.
Dalam proses itu, Ilham menyebut sempat berinteraksi dengan berbagai kalangan, mulai dari perwira aktif, profesor, pengusaha, hingga pegawai Bank Indonesia, yang juga percaya pada narasi tersebut.
Namun, seiring waktu, banyak di antara mereka yang akhirnya mundur dengan “penyesalan mendalam”.
Lebih lanjut, ia mengungkap adanya modus penipuan yang memanfaatkan narasi aset nusantara untuk memperdaya masyarakat.
Salah satunya, kata Ilham, berupa tempat di kawasan Senen, Jakarta, yang diklaim sebagai lokasi penyimpanan dokumen atau bukti harta karun.
“Rupanya itu hanya alat menguatkan cerita untuk meyakinkan para pemburu harta karun aset nusantara,” katanya.
Menurutnya, banyak korban jatuh akibat terperdaya oleh janji palsu para “mafia aset fiktif” ini.
“Banyak orang jadi korban, kehilangan harta benda, rumah tangganya hancur karena ambisi buta ingin cepat kaya,” ujarnya prihatin.
Ilham menyebut telah menemui ratusan orang yang mengaku sebagai pemegang kunci aset, namun tak satu pun yang dapat membuktikan klaimnya.
“Semua pemain aset jago mengarang cerita cocoklogi yang memperdaya. Korbannya banyak pengusaha yang terhimpit utang bank, akhirnya semakin terpuruk,” tuturnya.
Setelah pengalaman panjang itu, Ilham akhirnya menarik diri dari kelompok tersebut dan menyimpulkan bahwa cerita tentang aset nusantara hanyalah fiksi belaka.
Ia pun mengimbau masyarakat agar tidak mudah percaya pada klaim yang tidak didukung bukti nyata.
“Saran saya, berhenti mengejar mimpi soal aset nusantara. Lebih baik bekerja nyata, hasil sedikit tapi jelas, daripada menggenggam asap alias sia-sia,” pesannya. (*)














