MAKASSAR — Di tengah hiruk pikuk penjual jajanan manis di sekitar SD Inpres Bung, Tamalanrea, sekelompok siswa tampak sibuk dengan misi yang tak biasa.
Mereka bukan tengah bermain detektif seperti di film, melainkan benar-benar menjadi “Detektif Siaga Gula” — pasukan kecil yang dibekali pengetahuan untuk melindungi diri dari ancaman tersembunyi dalam jajanan sehari-hari.
Program unik ini digagas oleh Tim Pengabdian Masyarakat Fakultas Keperawatan Universitas Hasanuddin (Unhas), sebagai respon terhadap meningkatnya konsumsi gula berlebih di kalangan anak-anak — fenomena yang diam-diam menjadi salah satu pemicu risiko penyakit ginjal di usia muda.
“Kami ingin anak-anak tidak hanya tahu mana jajanan yang aman, tetapi juga paham bagaimana dampaknya terhadap kesehatan ginjal mereka di masa depan,” ujar Dr. Karmila Sarih, S.Kep., Ns., M.Kes, ketua tim pengabdian masyarakat, Selasa (7/10).
Belajar Jadi Detektif Sehat
Sebanyak 30 siswa SD dilatih menjadi “detektif” sejati. Mereka tidak hanya mendengarkan penjelasan, tapi terlibat langsung dalam kegiatan investigasi sederhana, yakni membaca label kemasan, mengenali istilah-istilah gula tersembunyi, dan mengukur kadar gula dalam makanan dan minuman favorit mereka.
Dengan alat ukur sederhana, anak-anak dibuat “melihat” berapa banyak gula dalam sebotol minuman manis yang sering mereka beli di depan sekolah.
Metode pembelajaran aktif ini membuat konsep gizi yang rumit menjadi pengalaman menyenangkan dan mudah dipahami.
“Kami ingin membentuk kebiasaan sehat sejak dini. Bukan hanya teori, tapi pembiasaan yang mereka bawa pulang dan tularkan ke teman-temannya,” tambah Karmila.
Sinergi Sekolah, Kampus, dan Puskesmas
Keberhasilan kegiatan ini tak lepas dari dukungan guru UKS dan tenaga kesehatan Puskesmas Tamalanrea, yang berperan sebagai jaring pengaman setelah kegiatan kampus selesai.
Para guru akan menjadi penggerak lanjutan edukasi gizi di sekolah, sementara pihak puskesmas memastikan keberlanjutan pemantauan kesehatan siswa.
Kolaborasi tiga elemen ini menciptakan ekosistem edukasi kesehatan yang berkelanjutan — menjadikan sekolah bukan sekadar tempat belajar, tapi juga ruang tumbuhnya kesadaran hidup sehat.
Untuk mengukur hasil pembelajaran, tim memberikan kuis sebelum dan sesudah kegiatan. Dari 30 peserta, tiga siswa dengan nilai tertinggi dinobatkan sebagai detektif terbaik.
Sebagai puncak kegiatan, seluruh peserta membacakan ikrar Detektif Siaga Gula, disematkan pin, dan menerima sertifikat simbol komitmen mereka untuk terus menjadi agen perubahan di lingkungan sekolah.
Selain itu, SD Inpres Bung juga menerima kotak P3K, poster edukasi, dan buku saku gizi sebagai bentuk dukungan berkelanjutan dari tim pengabdian masyarakat.
Program ini bukan sekadar kegiatan seremonial. Melalui pendekatan yang interaktif dan menyenangkan, anak-anak diajak memahami bahwa kesehatan adalah tanggung jawab pribadi yang bisa dimulai dari hal sederhana — seperti membaca label jajanan.
Kini, 30 “detektif cilik” itu pulang membawa lebih dari sekadar sertifikat. Mereka membawa “senjata pengetahuan” untuk menjaga diri dan teman-temannya dari bahaya tersembunyi di balik rasa manis yang menggoda.
“Mereka adalah bukti bahwa anak-anak, jika dibekali pemahaman yang tepat, bisa menjadi pelindung bagi generasi mereka sendiri,” tutup Karmila. (*)














