JAKARTA — PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mulai menjajaki kerja sama dengan perusahaan otomotif asal Eropa untuk pengembangan tambang Tanamalia di Blok Sorowako, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan.
Rencana tersebut menjadi bagian dari pengembangan rantai industri nikel terintegrasi, di mana bijih nikel dari Tanamalia nantinya diproyeksikan mendukung fasilitas pengolahan hidrometalurgi berbasis high pressure acid leach (HPAL).
Direktur dan Chief Sustainability and Corporate Affairs Officer PT Vale Indonesia, Budiawansyah, mengatakan penjajakan kerja sama dengan mitra otomotif tersebut tengah dirintis.
“Ini masa depan dan sedang mulai dirintis. Itu kerja sama di Blok Tanamalia. Ini sangat istimewa karena mitra kita, salah satunya adalah pabrikan kendaraan terkemuka dari Eropa,” kata Budiawansyah dalam Grand Seminar HIPMI, Kamis (6/8/2026) lalu.
Menurut dia, keterlibatan perusahaan otomotif dalam pengembangan proyek nikel menunjukkan semakin eratnya hubungan antara industri pertambangan, pengolahan nikel, hingga rantai pasok kendaraan listrik.
Masih Tahap Studi
Pengembangan Blok Tanamalia saat ini belum memasuki tahap konstruksi. Vale masih menjalankan studi front end loading (FEL) tahap II.
Tahapan tersebut mencakup penyusunan feasibility study (FS), kajian keekonomian, teknis pengembangan dan operasional, aspek legal, hingga kajian environmental, social and governance (ESG).
Sementara itu, fasilitas HPAL yang diproyeksikan mengolah bijih dari pengembangan tersebut juga masih berada dalam tahap pemilihan mitra.
Jika hasil kajian menunjukkan kandungan dan keekonomian nikel yang memadai, pembangunan fasilitas pendukung proyek disebut dapat dimulai pada 2027–2028. Adapun kegiatan penambangan diproyeksikan paling cepat dimulai pada 2031.
Blok Tanamalia merupakan bagian dari IUPK PT Vale Indonesia yang mencakup subblok Loeha, Lemo-Lemo dan Lingkona dengan luas sekitar 13.556 hektare.
Wilayah Tanamalia berada di kawasan hutan Sorowako dan mencakup Desa Loeha serta sebagian wilayah Desa Rante Angin, Kabupaten Luwu Timur.
Belum Disebut Nama Mitra
Vale belum mengungkapkan secara resmi nama perusahaan otomotif Eropa yang dimaksud dalam penjajakan kerja sama Tanamalia.
Namun, nama Volkswagen sebelumnya memang pernah dikaitkan dengan rencana pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik bersama Vale dan sejumlah mitra lainnya.
Associate Energy Analyst di Sekretariat Jenderal Kementerian ESDM, Fitria Astuti Firman, sebelumnya menyebut Volkswagen tertarik masuk ke proyek nikel Vale dengan persyaratan ESG yang ketat.
“Langkah ini krusial agar produk mineral Indonesia dapat diserap oleh rantai pasok global. Contoh sukses penerapan ini adalah kerja sama PT Vale dengan raksasa otomotif dunia seperti Ford dan Volkswagen, yang mewajibkan kepatuhan ESG berstandar global,” kata Fitria dalam diskusi publik INDEF, Rabu (17/6/2026).
Volkswagen melalui divisi baterainya, PowerCo, sebelumnya juga diberitakan berminat menjalin kemitraan dengan Vale, Ford Motor Co., dan Zhejiang Huayou Cobalt Co.
Meski demikian, informasi tersebut belum dapat dijadikan dasar bahwa Volkswagen merupakan mitra yang dimaksud Vale untuk pengembangan Tanamalia.
Potensi Cadangan Masih Panjang
Di sisi lain, rencana pengembangan Tanamalia berada di tengah besarnya potensi sumber daya dan cadangan nikel Vale Indonesia.
Head of Studies and Exploration Vale Indonesia, Tyas Agustinus Rabudianto, mengungkapkan posisi cadangan nikel perseroan per 31 Desember 2025 mencapai sekitar 1,18 miliar ton basah atau setara 664 juta ton kering.
Cadangan tersebut diperkirakan mampu menopang kegiatan penambangan hingga sekitar 20 tahun.
Vale juga memiliki sumber daya nikel sekitar 1,67 miliar ton basah atau setara 1 miliar ton kering. Dengan tambahan sumber daya tersebut, umur tambang perseroan berpotensi mencapai sekitar 50 tahun.
Cadangan tersebut terdiri atas sekitar 695,57 juta ton basah bijih limonit dan 489,40 juta ton basah saprolit.
Sementara untuk sumber daya, Vale memperkirakan terdapat sekitar 657,1 juta ton basah limonit dan 1,02 miliar ton basah saprolit.
Perusahaan juga mengalokasikan sekitar 2% pendapatan atau sekitar US$15–16 juta per tahun untuk kegiatan eksplorasi guna meningkatkan basis sumber daya dan cadangan.
Tanamalia dan Masa Depan Hilirisasi
Pengembangan Tanamalia menjadi salah satu proyek yang berpotensi memperluas basis bahan baku nikel limonit Vale di Sulawesi Selatan.
Hal ini sejalan dengan pengembangan fasilitas HPAL yang membutuhkan bijih limonit sebagai bahan baku untuk menghasilkan mixed hydroxide precipitate (MHP), material antara yang digunakan dalam rantai pasok bahan baku baterai kendaraan listrik.
Saat ini Vale bersama Zhejiang Huayou Cobalt juga tengah mengembangkan Indonesia Growth Project (IGP) Sorowako Limonite di Blok Sorowako.
Proyek tersebut memiliki luas sekitar 70.566 hektare dan dirancang untuk mendukung hilirisasi nikel limonit.
Per April 2026, progres pembangunan tambangnya disebut telah mencapai 42 persen, sementara pembangunan fasilitas HPAL mencapai sekitar 18 persen.
Fasilitas tersebut dirancang memiliki kapasitas produksi 60.000 ton MHP per tahun dan ditargetkan beroperasi penuh pada 2027.
Dengan demikian, pengembangan Tanamalia berpotensi menjadi bagian dari ekspansi lebih lanjut rantai industri nikel Vale di Sorowako.
Namun, proyek tersebut masih berada pada tahap kajian. Selain aspek keekonomian dan teknis, keberlanjutan pengembangan Tanamalia juga akan sangat ditentukan oleh hasil kajian lingkungan, sosial dan tata kelola, termasuk proses penentuan mitra serta kepastian pasokan bijih untuk fasilitas HPAL.
Bagi Vale, keterlibatan perusahaan otomotif global dalam rantai pasok tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan produk nikel yang dihasilkan dapat terserap dalam rantai pasok kendaraan listrik dunia. (*)


























