Persona

Mengenal Iqbal Djawad, Ilmuwan Maritim yang Membawa Unhas ke Panggung Global

Tim Redaksi
×

Mengenal Iqbal Djawad, Ilmuwan Maritim yang Membawa Unhas ke Panggung Global

Sebarkan artikel ini
Prof Iqbal Djawad (Foto: IST)
Prof Iqbal Djawad (Foto: IST)

MAKASSAR — Di antara deretan calon Rektor Universitas Hasanuddin (Unhas) periode 2025–2029, nama Prof. Ir. Muhammad Iqbal Djawad, M.Sc., Ph.D. muncul sebagai sosok akademisi dengan jejak internasional paling panjang.

Guru Besar Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) ini dikenal sebagai ilmuwan maritim yang konsisten menghubungkan laboratorium kampus dengan dunia diplomasi akademik global.

Lahir di Ujung Pandang pada 18 Maret 1967, Prof. Iqbal menamatkan pendidikan dasar hingga SMA di PPSP IKIP Ujung Pandang — sekolah unggulan yang mencetak banyak intelektual Sulawesi Selatan.

Ia meraih gelar Sarjana Perikanan (Ir.) di Unhas pada Desember 1987 dan mencatat prestasi luar biasa sebagai sarjana termuda Universitas Hasanuddin di tahun itu.

Minatnya pada dunia riset ikan dan ekofisiologi membawanya melanjutkan studi ke Hiroshima University, Jepang, tempat ia menempuh pendidikan Magister (1994) dan Doktor (1997) di bidang Aquaculture, khususnya Fish Physiology.

Dari Jepang pula ia belajar ketekunan riset dan disiplin ilmiah yang kelak menjadi fondasi seluruh kiprahnya di dunia akademik.

Prof Iqbal Djawad

Akademisi yang Mendunia

Kiprah Prof. Iqbal di dunia riset menjangkau banyak negara.

Ia tercatat pernah menjadi Visiting Research Fellow di berbagai universitas bergengsi seperti Kyoto University, Tokyo University of Marine Science and Technology, Miyazaki University, hingga Ohio University (Amerika Serikat).

Sejak 2009, ia bahkan didaulat sebagai Adjunct Professor di Center for Southeast Asian Studies, Ohio University.

Jejaring akademiknya menjadikannya salah satu ilmuwan Indonesia yang paling aktif dalam kerja sama riset lintas negara.

Sejak 2022, Prof. Iqbal dipercaya sebagai Koordinator Nasional ASEAN-European Academic University Network (ASEA-UNINET) — forum yang menghubungkan universitas-universitas Eropa dan ASEAN dalam kolaborasi riset, pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia.

Sebelumnya, ia juga menjabat sebagai Wakil Koordinator Nasional ASEA-UNINET (2019–2021).

Selain itu, ia menjadi anggota tim ahli Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi RI (2020–2024) untuk peningkatan produksi industri udang nasional, serta anggota reviewer LPDP dan asesor BAN-PT yang menilai mutu perguruan tinggi di Indonesia.

Prof Iqbal Djawad (Foto: IST)

Pengabdian Panjang di Unhas

Sejak menjadi dosen tetap Unhas pada 1989, Iqbal Djawad menjalani lebih dari tiga dekade karier akademik tanpa jeda.

Ia pernah menjabat Kepala Laboratorium Fisiologi Hewan Air, Direktur Kerja Sama Internasional Unhas (2016–2020), dan Atase Pendidikan dan Kebudayaan RI di Tokyo (2012–2016).

Dalam perannya di Jepang, ia banyak menjembatani kolaborasi riset Indonesia–Jepang, memperkenalkan Unhas di berbagai universitas top Jepang, serta menginisiasi program pertukaran dosen dan mahasiswa.

Sejak 2024, Prof. Iqbal dipercaya memimpin Pusat Studi Asia Tenggara (Center for Southeast Asian Studies) Universitas Hasanuddin, lembaga riset strategis yang fokus pada isu-isu lintas kawasan di Asia Tenggara.

Ia juga menjabat Ketua Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) Sulawesi Selatan dan anggota Dewan Pakar Ikatan Sarjana Perikanan Indonesia (ISPIKANI).

Berkat pengabdiannya yang panjang, Prof. Iqbal menerima penghargaan Satyalancana Karya Satya 10, 20, dan 30 tahun dari Presiden Republik Indonesia, serta pernah terpilih sebagai Dosen Berprestasi Unhas (2005).

Produktif dan Visioner

Sebagai peneliti, Prof. Iqbal Djawad tergolong luar biasa produktif.

Ia menulis lebih dari 70 publikasi ilmiah bereputasi internasional, sebagian besar di bidang fisiologi ikan, akuakultur, dan dampak perubahan lingkungan terhadap biota laut.

Karya-karyanya yang terbit di jurnal seperti Indonesian Journal of Marine Sciences, Biodiversitas, Egyptian Journal of Aquatic Biology & Fisheries, dan Archives of Environmental Contamination and Toxicology, menunjukkan konsistensinya meneliti persoalan perikanan tropis dan ekologi pesisir.

Dalam beberapa tahun terakhir, risetnya mulai menggabungkan teknologi kecerdasan buatan (AI) dengan pengembangan sistem akuakultur cerdas (smart aquaculture), berkolaborasi dengan mitra industri dan lembaga riset dari Jepang dan Korea.

“Inovasi di sektor kelautan tidak cukup hanya dengan alat, tapi juga dengan data dan kecerdasan buatan,” ujarnya dalam sebuah forum ilmiah di Makassar.

Prof Iqbal Djawad (Foto: IST)

Membawa Unhas ke Panggung Global

Dengan pengalaman luas di Jepang, Eropa, dan Amerika, Prof. Iqbal memiliki pandangan strategis tentang posisi Unhas di kancah global.

Ia percaya, kekuatan terbesar Unhas justru ada pada karakter keindonesiaannya, terutama identitas maritim dan keunggulan riset kawasan timur Indonesia.

Bagi Prof. Iqbal, internasionalisasi Unhas bukan sekadar menambah jumlah kerja sama luar negeri, tetapi juga membangun daya saing akademik berbasis riset unggulan lokal — dari pesisir Sulawesi hingga samudra Pasifik.

“Unhas harus dikenal bukan hanya karena banyak MoU, tapi karena kontribusi pengetahuannya bagi dunia,” tuturnya dalam salah satu forum ilmiah AUN-QA di Manila.

Iqbal Djawad membawa gagasan besar agar Unhas Mendunia dari Laut Timur Indonesia — universitas yang berakar kuat di daerah, tetapi diakui kiprahnya di level global.

Ia ingin memperkuat kolaborasi internasional, meningkatkan kualitas penelitian dan publikasi, serta mengembalikan semangat akademik yang berpihak pada kemajuan mahasiswa dan masyarakat.

Prof Iqbal Djawad (Foto: IST)

Akademisi yang Lintas Generasi

Meski telah menempuh karier panjang di dunia akademik, Iqbal Djawad dikenal dekat dengan mahasiswa dan rekan sejawat muda.

Gaya kepemimpinannya yang terbuka dan kolaboratif membuatnya dihormati lintas generasi. Ia kerap menjadi pembicara dan mentor dalam pelatihan publikasi ilmiah, pengembangan riset, dan jejaring internasional dosen muda.

Di tengah dinamika pemilihan rektor Unhas 2025–2029, Iqbal Djawad tampil sebagai figur ilmuwan yang matang — menguasai sains kelautan, diplomasi akademik, dan manajemen universitas modern.

Dengan pengalaman lintas benua dan rekam jejak yang bersih, ia membawa harapan baru: mendayung Unhas menuju lautan ilmu pengetahuan dunia, tanpa melupakan akar maritimnya di Indonesia Timur. (*)