MAKASSAR — Kota Makassar di bawah kepemimpinan Wali Kota Munafri Arifuddin kembali mencatatkan prestasi nasional dengan meraih skor 4,17 dalam Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) 2025.
Capaian tersebut menempatkan Makassar di atas rata-rata nasional yang berada pada angka 3,50, sekaligus melampaui skor Provinsi Sulawesi Selatan sebesar 3,71.
Pengakuan itu diumumkan secara resmi oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam rilis IDSD 2025 yang digelar di Gedung BJ Habibie BRIN, Thamrin, Jakarta Pusat.
IDSD merupakan instrumen strategis untuk mengukur tingkat daya saing daerah secara komprehensif.
Pengukuran ini mengacu pada metode Global Competitiveness Index (GCI) dari World Economic Forum (WEF), dengan menilai empat komponen utama, yakni lingkungan pendukung, sumber daya manusia, pasar, dan ekosistem inovasi.
Keempat komponen tersebut kemudian diturunkan ke dalam 12 pilar penilaian, meliputi institusi, infrastruktur, adopsi TIK, stabilitas ekonomi makro, kesehatan, keterampilan, pasar produk, pasar tenaga kerja, sistem keuangan, ukuran pasar, dinamika bisnis, dan kapabilitas inovasi.
Skor 4,17 yang diraih Makassar mencerminkan penguatan pada berbagai sektor strategis. Tidak hanya dari sisi pembangunan fisik dan infrastruktur, tetapi juga dalam tata kelola pemerintahan, inovasi, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Pengamat Pemerintahan Universitas Bosowa (Unibos) Makassar, Arief Wicaksono, menilai capaian tersebut menjadi indikator bahwa arah kebijakan Pemerintah Kota Makassar berjalan di jalur yang tepat.
“Capaian ini menunjukkan Makassar sedang bergerak menuju kota yang unggul dan kompetitif. Ini bukan sekadar klaim, tetapi berbasis data resmi yang dirilis BRIN,” ujarnya, Kamis (26/2/2026).
Menurutnya, hasil IDSD 2025 sekaligus menjawab berbagai keraguan terhadap performa pemerintahan kota.
Dengan posisi di atas rata-rata nasional, Makassar dinilai memiliki fondasi yang kuat untuk terus memperkuat peran sebagai salah satu kota metropolitan yang kompetitif di Indonesia.
Arief menambahkan, pendekatan IDSD yang sistemik dan terukur memastikan daya saing tidak dilihat secara parsial, melainkan sebagai satu kesatuan ekosistem pembangunan.
Pilar institusi, misalnya, menguji transparansi anggaran hingga kebebasan pers, sementara pilar infrastruktur dan adopsi TIK menilai kesiapan daerah dalam mendukung aktivitas ekonomi modern.
Sementara itu, pilar stabilitas ekonomi makro, pasar tenaga kerja, serta sistem keuangan mengukur ketahanan dan efisiensi ekonomi daerah.
Adapun pilar kapabilitas inovasi menjadi cerminan kualitas riset dan pengembangan yang mendorong pertumbuhan jangka panjang.
Dengan capaian ini, Pemerintah Kota Makassar diharapkan terus menjaga konsistensi reformasi tata kelola, memperkuat inovasi, dan meningkatkan pelayanan publik agar daya saing yang telah diraih dapat terus ditingkatkan pada tahun-tahun mendatang. (*)

























