OPINI – Selat Hormuz, jalur laut sempit di Teluk Persia, telah lama menjadi pusat ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat (AS). Dengan sekitar 21 juta barel minyak mentah yang melintas setiap hari menjadikannya sebagai salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia. Lebar Selat Hormuz hanya sekitar 33 kilometer, dan bagi Iran, yang memiliki garis pantai sepanjang selat ini, kontrol atas wilayah tersebut adalah alat strategis untuk menekan musuh-musuhnya, terbutama AS dan sekutu-sekutunya di Timur Tengah.
Sekitar 30 persen minyak dagang dunia melewati Selat Hormuz ini. Negara-negara seperti Arab Saudi, Irak, Uni Emirat Arab, dan Qatar bergantung pada selat ini untuk mengekspor energi. Bagi pengimpor minyak besar seperti China, India, dan Eropa, gangguan di Hormuz berarti krisis pasokan dan kenaikan harga yang tak terhindarkan. Jika Iran memutuskan untuk mengganggu lalu lintas kapal tanker, maka pasar minyak akan langsung bereaksi. Dampaknya akan merambat ke seluruh dunia: Biaya logistik dan transportasi meledak, mendorong kenaikan harga barang sehari-hari. Negara berkembang seperti Indonesia dan India akan terbebani subsidi energi. AS dan Eropa, yang sedang berjuang melawan inflasi, mungkin terpaksa menaikkan suku bunga lagi. Pasar saham global bisa terganggu karena ketidakpastian.
Bagi Amerika Serikat dan sekutunya, menjaga Selat Hormuz tetap terbuka adalah kepentingan strategis yang tidak bisa ditawar. Jalur ini merupakan penghubung utama bagi ekspor energi dari kawasan Teluk menuju pasar global. Oleh karena itu, kehadiran militer di kawasan ini tidak hanya dimaksudkan untuk menjaga stabilitas regional, tetapi juga untuk memastikan bahwa perdagangan energi dunia tidak terganggu.
Dalam teori ekonomi produksi modern, energi merupakan salah satu input fundamental dalam sistem produksi global. Hampir seluruh aktivitas ekonomi bergantung pada pasokan energi yang stabil dan terjangkau. Energi menggerakkan transportasi global, menopang industri manufaktur, serta menjadi bahan baku bagi industri kimia dan pupuk. Tanpa pasokan energi yang stabil, rantai produksi global akan segera mengalami gangguan. Ketika harga energi meningkat akibat ketegangan geopolitik, dampaknya tidak berhenti pada sektor energi saja. Kenaikan tersebut menyebar ke berbagai sektor ekonomi melalui mekanisme cost-push inflation, yaitu inflasi yang dipicu oleh meningkatnya biaya produksi. Lonjakan harga minyak misalnya meningkatkan biaya transportasi dan distribusi barang. Industri menghadapi kenaikan biaya produksi, sementara sektor logistik harus menyesuaikan tarif. Dalam waktu relatif singkat, tekanan biaya ini akhirnya diterjemahkan menjadi kenaikan harga baran2g dan jasa di tingkat konsumen.
Ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangkaian serangan militer ke Iran pada akhir Februari 2026, dalam hitungan jam, Garda Revolusi Islam Iran membalas dengan menutup Selat Hormuz, langsung data menunjukkan volume transit di selat itu anjlok 86 persen dibandingkan dengan rata-rata harian sebelumnya. Harga minyak mentah jenis Brent melonjak dan diproyeksikan bisa mencapai 150 dolar AS per barel.
Indonesia sebagai negara pengimpor energi berskala besar, guncangan ini langsung terasa. Sekitar 25 persen impor minyak mentah kita selama ini melewati jalur tersebut. Harga minyak mentah yang diasumsikan dalam APBN 2026 sebesar 70 dolar AS per barel jauh dari kenyataan. Bahkan Cadangan bahan bakar minyak nasional yang hanya tersedia untuk 21 hari ke depan mulai terasa sangat rentan secara struktural, dan mulai memikirkan untuk mengalihkan impor minyak mentah yang selama ini berasal dari Timur Tengah akan dialihkan ke Amerika Serikat dengan alasan kepastian ketersediaan.
Ini membuktikan kalau kedaulatan kita di bidang energi sangat bergantung pada jalur pelayaran yang dikuasai pihak lain. Penutupan Selat Hormuz Adalah skenario yang sudah sering dibicarakan para ahli geopolitik energi sebagai risiko sistemik bagi negara-negara pengimpor minyak di Asia termasuk Indonesia. Selat ini Adalah titik rawan dalam peta perdagangan energi dunia, lagi-lagi kita kurang “peka” dan tidak menyiapkan strategi lebih awal dan akhirnya membuat energi kita tidak mandiri. Sebagai negara yang masih bergantung pada impor minyak untuk memenuhi kebutuhan energi domestik, kita sangat rentan terhadap fluktuasi harga minyak dunia. Jika konflik di Selat Hormuz menyebabkan harga minyak terus meningkat, tekanan terhadap anggaran negara akan semakin besar, terutama dalam hal subsidi energi dan stabilitas harga bahan bakar.
Selain itu, kenaikan harga minyak juga dapat memicu efek domino pada perekonomian nasional. Biaya transportasi meningkat, harga barang naik, dan tekanan inflasi menjadi sulit dihindari. Pada akhirnya, masyarakatlah yang merasakan dampak langsung dari konflik yang sebenarnya terjadi ribuan kilometer dari wilayah Indonesia.
Karena itu, konflik antara Amerika Serikat dan Iran tidak dapat dipandang semata sebagai pertarungan geopolitik dua negara. Konflik tersebut memiliki implikasi luas terhadap keamanan energi, stabilitas ekonomi global, dan kesejahteraan masyarakat di berbagai belahan dunia. Dalam konteks ini, diplomasi internasional menjadi sangat penting untuk mencegah konflik berkembang menjadi krisis yang lebih besar.
Bagi Indonesia, perkembangan di Selat Hormuz seharusnya menjadi pengingat penting untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Diversifikasi sumber energi, pengembangan energi terbarukan, serta peningkatan produksi energi domestik harus menjadi prioritas jangka panjang. Ketergantungan yang tinggi terhadap energi impor akan selalu menempatkan Indonesia pada posisi rentan ketika terjadi gejolak geopolitik di kawasan lain.
Pada akhirnya, Selat Hormuz menunjukkan bahwa keamanan energi dunia masih sangat bergantung pada stabilitas kawasan tertentu. Selama dunia masih mengandalkan minyak sebagai sumber energi utama, Selat Hormuz akan tetap menjadi titik strategis yang sensitif. Oleh karena itu, diplomasi, kerja sama keamanan, dan pengelolaan konflik menjadi kunci penting untuk menjaga agar jalur vital ini tetap terbuka dan aman bagi perdagangan global.
Penulis
Anas I. Anwar Makkatutu
Dosen FEB-Unhas



















