Opini

Menambal “Retak Digital”: Estetika Tabayyun dan Komunikasi Profetik di Hari Fitri

Tim Redaksi
×

Menambal “Retak Digital”: Estetika Tabayyun dan Komunikasi Profetik di Hari Fitri

Sebarkan artikel ini

OPINI – Malam takbiran kini tak lagi hanya bergemuruh di corong-corong masjid, tapi juga bergetar hebat di saku celana kita. Notifikasi pesan instan masuk bertubi-tubi. Sayangnya, mayoritas pesan tersebut adalah broadcast massal—teks puitis hasil copy-paste yang dikirim ke ratusan kontak sekaligus hanya dengan sekali klik.

Dalam perspektif Komunikasi Islam, fenomena ini melahirkan “kekosongan makna”. Pesan tersampaikan, tapi rasa tak kunjung tiba. Maaf pun menjadi sekadar formalitas digital yang instan, namun kering sentuhan spiritual.

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Literasi Maaf di Era Digital, kita mengenal prinsip Qaulan Karima (perkataan yang mulia). Di era digital, kemuliaan kata seringkali tergerus oleh efisiensi. Memohon maaf melalui pesan massal tanpa menyebut nama penerima cenderung menjadi “penggugur kewajiban” semata. Pesan tersebut kehilangan personalitasnya, dan dalam banyak kasus, justru diabaikan karena dianggap sebagai kebisingan informasi (information noise).

Di sinilah pentingnya menghadirkan estetika Tabayyun. Jika biasanya tabayyun digunakan untuk memverifikasi kebenaran berita, dalam konteks Idul Fitri, tabayyun berarti “menjernihkan niat”. Sebelum menekan tombol send, kita perlu melakukan refleksi: Apakah pesan ini benar-benar ditujukan untuk menyambung hati, atau sekadar menggugurkan rasa tidak enak? Pesan yang personal, meskipun hanya satu kalimat sederhana namun ditulis khusus untuk seseorang, memiliki derajat komunikasi yang jauh lebih tinggi karena ia memanusiakan penerimanya (humanizing communication)..

Dekonstruksi Pesan Massal: Antara Kemudahan dan Ketulusan

Teknologi seharusnya menjadi jembatan (wasilah), bukan pembatas. Namun, kemudahan fitur “forward” seringkali membuat kita abai untuk membangun komunikasi yang berkualitas. Padahal, inti dari Idul Fitri adalah silaturahmi—yang secara bahasa berarti menyambung kasih sayang. Kasih sayang mustahil tersambung dengan baik melalui mesin otomatis yang tidak melibatkan rasa.

Komunikasi Islam mengajarkan prinsip Qaulan Layyina (perkataan yang lemah lembut) dan Qaulan Sadida (perkataan yang tepat). Idul Fitri adalah momentum untuk melatih kembali kepekaan kita dalam memilih kata yang tepat untuk lawan bicara yang tepat.

Rekonsiliasi: Menambal yang Retak
Idul Fitri juga merupakan momentum rekonsiliasi digital yang paling efektif. Setahun terakhir, mungkin ada “retak” di grup-grup media sosial akibat perbedaan pandangan atau kesalahpahaman teks yang dingin. Komunikasi profetik mengajarkan kita untuk rendah hati (Tawadhu) dan menjadi pihak yang mengawali perdamaian.

Gunakanlah momentum ini untuk menambal retakan tersebut dengan mengirimkan pesan personal kepada mereka yang sempat menjauh. Sebuah pesan singkat yang jujur dan menyebut nama mereka akan jauh lebih ampuh meluluhkan ego daripada gambar ucapan selamat lebaran yang paling indah sekalipun hasil unduhan internet.

Penutup: Kembali ke Fitrah Komunikasi
Idul Fitri adalah momen untuk kembali ke fitrah. Fitrah manusia adalah makhluk yang butuh “disentuh” hatinya, bukan sekadar “diisi” memorinya dengan data digital. Mari kurangi intensitas membagikan pesan-pesan broadcast hasil copy-paste, dan mulailah mengetik kata-kata tulus dari jempol kita sendiri.

Sebab pada akhirnya, yang sampai kepada Allah dan sesama manusia bukanlah indahnya desain grafis di layar ponsel, melainkan kejujuran dan ketulusan yang tersirat di balik pesan. Mari kita jadikan Idul Fitri tahun ini sebagai momentum untuk memulihkan retak-retak hubungan kita menjadi jalinan kasih yang nyata dan bermakna.

Minal Aidin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.

Andi Iqbal Burhanuddin
Opini

KEPUTUSAN pemerintah melibatkan perguruan tinggi dalam ekosistem Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui…