PROFESOR Sukardi Weda adalah salah satu calon Rektor Universitas Hasanuddin (Unhas) yang pada tahap penjaringan di Senat Akademik Unhas, 3 November 2025, hanya mengantongi satu suara.
Namun, fakta tersebut tidak serta-merta menempatkannya sebagai figur pelengkap. Justru sebaliknya, Sukardi Weda tetap masuk dalam tiga besar calon rektor yang ditetapkan dan berhak melaju ke tahap pemilihan oleh Majelis Wali Amanat (MWA) Unhas pada Januari 2026.
Dalam konfigurasi tiga calon—Prof. Sukardi Weda, Prof. Jamaluddin Jompa, dan Prof. Budu—masing-masing secara matematis memiliki peluang yang sama, yakni 33,3 persen.
Artinya, meskipun tidak diunggulkan pada tahap awal, peluang Prof. Sukardi Weda untuk terpilih sebagai Rektor Unhas periode 2026–2030 tetap terbuka secara objektif dan konstitusional.
Sebagai calon yang kerap disebut berada di luar struktur internal Unhas saat ini, posisi Sukardi Weda justru menarik untuk dicermati. Ia bukan figur asing bagi kampus merah ini.
Alumni Fakultas Sastra Unhas tersebut telah meniti karier akademik yang panjang dan dikenal memiliki latar belakang intelektual yang kuat.
Kepemilikan enam gelar magister—sebuah capaian akademik yang relatif langka—mencerminkan keluasan perspektif keilmuan sekaligus ketekunan intelektual yang konsisten.
Karena itu, tidak berlebihan apabila publik kampus membuka ruang dialog yang setara dan lebih terbuka kepada Prof. Sukardi Weda. Sikap ini semestinya sejalan dengan keterbukaan yang diberikan kepada Prof. Budu maupun petahana Prof. Jamaluddin Jompa.

Pilihan rektor ideal tidak seharusnya ditentukan semata oleh persepsi unggulan atau tidak unggulan pada tahap awal, melainkan oleh kualitas visi, kapasitas kepemimpinan, serta kemampuan membangun tata kelola kampus yang berintegritas, profesional, dan berkelanjutan.
Dalam dinamika pemilihan rektor perguruan tinggi negeri, faktor-faktor non-teknis kerap memainkan peran yang signifikan.
Tidak tertutup kemungkinan bahwa Sukardi Weda memiliki jejaring kuat di tingkat pusat yang dapat memengaruhi preferensi pemegang suara strategis, termasuk Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Selain itu, jika kontestasi antara Prof. Budu dan Prof. Jamaluddin Jompa berlangsung sangat ketat dan berpotensi memicu fragmentasi internal, maka opsi jalan tengah dengan memilih Prof. Sukardi Weda bisa saja muncul sebagai pilihan rasional demi menjaga stabilitas, kohesivitas, dan kondusivitas kehidupan akademik di Unhas.
Sejarah pemilihan rektor di berbagai perguruan tinggi negeri menunjukkan bahwa kejutan bukanlah hal baru. Kandidat yang pada awalnya tidak terlalu diperhitungkan justru dapat tampil sebagai pemenang ketika situasi menghendaki figur kompromi yang relatif netral dan dapat diterima oleh berbagai kepentingan.
Pada akhirnya, takdir tentu berada di tangan Allah SWT. Namun ikhtiar rasional dan sikap adil dalam menilai setiap calon merupakan prasyarat penting untuk menjaga marwah, integritas, dan masa depan Universitas Hasanuddin.
Prof. Sukardi Weda, dengan segala keterbatasan dan kelebihannya, tetaplah calon rektor potensial yang layak didengar, diuji gagasannya, dan dipertimbangkan secara serius.
Jika kelak terpilih sebagai Rektor Unhas, ia bahkan dapat menjadi kandidat dengan beban dan utang politik paling minimal. Tidak terdengar adanya tim sukses yang secara terbuka mengusungnya. Bahkan, satu suara yang diperolehnya di Senat Akademik Unhas hingga kini masih menyisakan misteri.
Di berbagai grup WhatsApp alumni Unhas—yang kerap menjadi barometer awal dinamika pilrek—nama Prof. Sukardi Weda juga tidak banyak dijagokan. Mantan Wakil Rektor II Universitas Negeri Makassar ini tampil sebagai apa yang bisa disebut sebagai ‘kandidat sunyi’ di tengah kontestasi yang riuh oleh aroma politik.
Kita tak tahu perjalanan takdir Ilahi. Karena itu tetaplah berjuang, Prof. Sukardi Weda!























