Berita

Belajar dari Jepang, FKM Unhas Kupas Sistem Keamanan Pangan di Sekolah

Tim Redaksi
×

Belajar dari Jepang, FKM Unhas Kupas Sistem Keamanan Pangan di Sekolah

Sebarkan artikel ini
Kolaborasi FKM Unhas dan Toyo Foods Jepang Dorong Implementasi Sistem Keamanan Pangan Berstandar Internasional
Kolaborasi FKM Unhas dan Toyo Foods Jepang Dorong Implementasi Sistem Keamanan Pangan Berstandar Internasional

MAKASSAR — Departemen Ilmu Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin (FKM Unhas) menggelar guest lecture bertajuk “Learning from Japan: Food Safety Management in School Feeding Systems”, Kamis (23/10/2025) di ruang K-225 lantai 2 FKM Unhas.

Kegiatan ini dibuka oleh Prof. Anwar Mallongi, S.KM., M.Sc., Ph.D., Wakil Dekan Bidang Kemitraan, Riset, dan Inovasi FKM Unhas.

Dalam sambutannya, Prof. Anwar menekankan pentingnya pembelajaran lintas negara untuk memperkuat sistem keamanan pangan di lingkungan sekolah di Indonesia.

Acara tersebut dihadiri lebih dari 100 peserta, baik secara luring maupun daring melalui Zoom Meeting, termasuk beberapa peserta dari Jepang.

Hadir pula Prof. Dr. Ir. Dorothea Agnes Rampisela, Guru Besar Fakultas Pertanian Unhas, yang turut memberikan perhatian terhadap isu keamanan pangan dan gizi anak sekolah.

Praktik Ketat Keamanan Pangan di Jepang

Sesi utama menghadirkan narasumber dari Toyo Foods, yaitu Ms. Momoko Fujii (Registered Dietitian) dan Mr. Kuriwaki Kei (Representative Director, International Child Nutrition Promotion Association), serta didampingi dua wakil direktur perusahaan, Mr. Noro Shoji dan Mr. Oki Yukata.

Dalam paparannya berjudul “Hygiene Management About School Lunch Center in Japan”, Ms. Momoko Fujii menjelaskan bagaimana Toyo Foods — perusahaan penyedia makanan sekolah yang berdiri sejak 1966 — mampu mempertahankan rekam jejak tanpa satu pun insiden keracunan makanan selama 58 tahun.

Menurutnya, kunci keberhasilan terletak pada penerapan protokol ketat sejak proses penerimaan bahan baku, pencucian dengan metode tiga kompartemen, hingga pengaturan suhu masak minimal 75°C selama satu menit untuk memastikan keamanan pangan.

Ia juga menekankan aturan “2 jam”, yakni makanan harus dikonsumsi maksimal dua jam setelah dimasak. “Setiap 75 menit makanan dapat terpapar suhu yang tidak aman,” ujar Momoko.

Ia menambahkan, kebersihan tangan menjadi hal paling penting dalam seluruh proses pengolahan makanan.

“Mencuci tangan sebelum dan sesudah setiap tahap pekerjaan adalah kunci utama mencegah kontaminasi silang, terutama di iklim tropis seperti Indonesia,” tegasnya.

Selain itu, Toyo Foods menerapkan kontrol ketat terhadap kontaminasi dengan penggunaan sarung tangan dan celemek berbeda sesuai tugas staf, serta menjaga pintu dapur tetap tertutup selama proses pengiriman makanan ke sekolah.

Sanitasi Alat Makan Sesuai Standar Nasional Jepang

Sementara itu, Mr. Kuriwaki Kei memaparkan standar sanitasi peralatan makan dalam sistem makan siang sekolah di Jepang.

Ia menjelaskan tahapan pembersihan mulai dari penggunaan detergen dan air hangat, pembilasan dengan air bersih yang diganti berkala, hingga desinfeksi menggunakan air panas minimal 85°C atau larutan sodium hypochlorite selama waktu tertentu.

Peralatan yang telah dibersihkan kemudian dikeringkan di tempat steril dan disimpan dalam lemari tertutup, hanya boleh disentuh dengan sarung tangan atau penjepit bersih.

Seluruh prosedur ini mengacu pada pedoman MEXT (Kementerian Pendidikan Jepang) dan MHLW (Kementerian Kesehatan Jepang).

Dukung Pencapaian SDGs

Kegiatan ini mendukung target Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2 (Tanpa Kelaparan) dan SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), yang menekankan pentingnya akses terhadap makanan bergizi dan aman bagi anak-anak sekolah.

Selain itu, kolaborasi antara FKM Unhas dan Toyo Foods juga menjadi implementasi nyata dari SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan), dengan memperkuat jejaring internasional di bidang gizi dan kesehatan masyarakat.

Melalui pembelajaran dari Jepang, FKM Unhas berkomitmen untuk mengembangkan sistem keamanan pangan sekolah yang efektif di Indonesia.

“Kami berharap pengalaman ini menjadi inspirasi bagi seluruh sivitas akademika dalam mewujudkan sekolah sehat dengan sistem pemberian makanan yang aman, bergizi, dan berkelanjutan,” ujar Prof. Anwar Mallongi menutup kegiatan. (*)