SOPPENG — Mahasiswa Posko Praktik Belajar Lapangan (PBL) 2 Desa Laringgi, Kecamatan Marioriawa, Kabupaten Soppeng, menutup rangkaian kegiatan lapangan dengan menggelar seminar akhir pada Kamis (15/1/2026).
Seminar ini menjadi forum pemaparan hasil pemetaan aset desa sekaligus analisis strategi pemecahan masalah kesehatan berbasis kebutuhan masyarakat.
Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Desa Laringgi, Eka Wahyuni, SE, bersama jajaran aparat pemerintahan desa.
Kehadiran pemerintah desa mencerminkan dukungan terhadap kontribusi mahasiswa dalam mendorong perencanaan pembangunan kesehatan yang kontekstual dan berbasis potensi lokal.
Dalam pemaparannya, mahasiswa menyampaikan hasil pemetaan aset dan analisis situasi yang dilakukan selama kurang lebih dua pekan di Desa Laringgi.
Dari proses tersebut, ditetapkan tiga masalah kesehatan utama yang menjadi prioritas, yakni hipertensi, kepatuhan konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD), serta pengelolaan sampah. Ketiga isu tersebut direncanakan menjadi fokus intervensi pada pelaksanaan PBL 3.
Lebih lanjut, mahasiswa mengidentifikasi lima akar masalah yang memengaruhi kondisi kesehatan masyarakat desa. Akar masalah tersebut meliputi pola makan berisiko, tingginya perilaku merokok, rendahnya kepatuhan konsumsi Tablet Tambah Darah, lemahnya pengawasan minum TTD, serta belum tersedianya fasilitas dan regulasi terkait pengelolaan sampah.
Berdasarkan temuan tersebut, mahasiswa merancang sejumlah rencana intervensi. Untuk mengatasi pola makan berisiko, direncanakan edukasi pola makan sehat, lomba masak sehat, serta pembagian buku resep makanan antihipertensi.
Sementara itu, tingginya perilaku merokok akan ditangani melalui pemasangan tanda Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di beberapa titik strategis desa.
Pada isu kepatuhan konsumsi Tablet Tambah Darah, mahasiswa merencanakan penyuluhan melalui buku saku serta challenge video edukatif mengenai manfaat TTD. Untuk memperkuat pengawasan konsumsi TTD, direncanakan pembentukan komunitas dokter kecil.
Adapun permasalahan pengelolaan sampah akan diintervensi melalui edukasi dan pelatihan pembuatan komposter serta ecobrick sebagai solusi pengelolaan sampah berbasis rumah tangga.
Isu-isu yang diangkat dalam PBL 2 ini dinilai selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Upaya pencegahan penyakit tidak menular dan peningkatan kesehatan ibu mendukung pencapaian SDGs 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera.
Sementara intervensi di bidang pengelolaan lingkungan dan sampah berkontribusi terhadap SDGs 11 dan SDGs 12 terkait permukiman berkelanjutan dan konsumsi serta produksi yang bertanggung jawab.
Melalui pendekatan berbasis aset dan kolaborasi dengan pemerintah desa, mahasiswa PBL 2 Desa Laringgi diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam mendukung perencanaan dan pelaksanaan pembangunan kesehatan desa yang berkelanjutan, partisipatif, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat. (*)


























