Berita

Prof. Jasruddin Ingatkan Ancaman Kerusakan Ekologi Danau Matano

Tim Redaksi
×

Prof. Jasruddin Ingatkan Ancaman Kerusakan Ekologi Danau Matano

Sebarkan artikel ini

Ekosistem Danau Matano Disebut Mulai Terdegradasi Akibat Tata Kelola Hidrologi

Guru Besar UNM sekaligus putra daerah pesisir Danau Matano, Prof. Dr. Ir. Jasruddin Daud M
Guru Besar UNM sekaligus putra daerah pesisir Danau Matano, Prof. Dr. Ir. Jasruddin Daud M (Foto: IST)

MAKASSAR — Akademisi dan pemerhati lingkungan menyoroti perubahan fungsi ekologis Danau Matano di Kabupaten Luwu Timur yang dinilai mulai mengalami degradasi akibat perubahan tata kelola aliran air.

Danau purba yang dikenal sebagai salah satu danau terdalam dan tertua di dunia itu disebut mulai kehilangan karakter alaminya.

Guru Besar Universitas Negeri Makassar (UNM) sekaligus putra daerah pesisir Danau Matano, Prof. Dr. Ir. Jasruddin Daud M, mengungkapkan bahwa kehadiran PT International Nickel Indonesia (PT Inco) yang kini menjadi PT Vale Indonesia Tbk telah memberikan kontribusi besar terhadap pembangunan ekonomi, sosial, dan sumber daya manusia di wilayah tersebut selama puluhan tahun.

“Kontribusi PT Inco/PT Vale terhadap pembangunan kawasan Danau Matano adalah fakta sejarah yang patut diapresiasi secara objektif, baik dari sisi ekonomi, pendidikan, maupun sosial-budaya,” ujar Prof. Jasruddin dalam keterangannya.

Namun demikian, ia menilai dinamika baru dalam pengelolaan danau, khususnya sejak diterapkannya sistem pengaturan aliran air menggunakan pintu air, memunculkan tantangan ekologis yang serius.

Menurutnya, Danau Matano yang secara alami memiliki sistem aliran masuk dan keluar kini lebih menyerupai waduk atau kolam besar karena aliran air keluar hanya dibuka secara periodik. Kondisi ini menyebabkan berkurangnya kemampuan danau untuk melakukan pembersihan alami.

“Dalam ilmu limnologi, danau yang alirannya terhambat akan mengalami akumulasi nutrien yang memicu pertumbuhan lumut dan alga secara berlebihan,” jelasnya.

Fenomena tersebut, lanjut Prof. Jasruddin, kini mulai terlihat secara kasat mata. Batu-batu di dasar danau yang sebelumnya bersih mulai ditumbuhi lumut, tumbuhan endemik seperti Tanggulu terselimuti organisme oportunistik, dan habitat alami siput endemik Tylomelania tidak lagi steril.

Kondisi ini juga diperkuat oleh pernyataan tokoh lokal Mokole Matano, Hasan Said, yang menyebut Danau Matano kini “tidak lagi berfungsi sebagai danau, melainkan telah berubah menjadi kolam”.

“Ini bukan retorika emosional, tetapi indikasi awal eutrofikasi atau ‘penyakit’ danau yang dapat mengancam spesies endemik,” kata Prof. Jasruddin.

Ia menegaskan bahwa Danau Matano merupakan danau oligotrofik ekstrem yang selama jutaan tahun memiliki kandungan nutrisi sangat rendah.

Perubahan kecil saja, menurutnya, dapat berdampak besar terhadap keberlangsungan ekosistem unik yang tidak ditemukan di tempat lain di dunia.

Seiring dengan peran strategis Danau Matano dalam mendukung kawasan industri dan energi, Prof. Jasruddin mengingatkan bahwa kepentingan ekonomi tidak boleh menegasikan kebutuhan ekologis.

Ia mendorong adanya penyesuaian kebijakan pengelolaan air, di antaranya dengan mengubah pola pengoperasian pintu air dari sistem buka-tutup periodik menjadi aliran kecil yang mengalir secara kontinu agar menyerupai kondisi alami danau.

Selain itu, ia juga mengusulkan penetapan aliran ekologis minimum, pemantauan kualitas air yang transparan dengan melibatkan akademisi dan masyarakat, serta penetapan Danau Matano sebagai ekosistem kritis nasional.

Terkait peran perusahaan, Prof. Jasruddin menilai PT Vale selama ini dikenal memiliki komitmen kuat dalam pengelolaan lingkungan, khususnya pada area tambang dan reklamasi pascatambang.

Namun, ia menegaskan bahwa tantangan lingkungan kini meluas hingga ke kawasan perairan yang berada dalam satu sistem ekologi yang sama.

“Oleh karena itu, sudah saatnya PT Vale membentuk unit khusus yang menangani perawatan dan pemulihan Danau Matano secara berkelanjutan, setara dengan departemen reklamasi pascatambang,” ujarnya.

Langkah tersebut, menurutnya, bukan bentuk koreksi atas masa lalu, melainkan evolusi kebijakan lingkungan yang sejalan dengan prinsip keberlanjutan global.

“Menjaga Danau Matano berarti menjaga keseimbangan antara industri, masyarakat, dan alam. Ini adalah kewajiban moral dan ekologis yang tidak bisa ditunda,” pungkasnya. (*)