MAKASSAR — Antusiasme masyarakat terhadap sekolah unggulan kembali terlihat dalam pelaksanaan Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026 jalur Layanan Keunggulan di SMA Negeri 17 Makassar.
Sebanyak 1.001 peserta tercatat mengikuti seleksi yang berlangsung selama dua hari, 25–26 Mei 2026.
Seleksi digelar menggunakan sistem Computer Assisted Test (CAT) yang diselenggarakan Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan dengan total 13 sesi ujian. Tujuh sesi dilaksanakan pada hari pertama dan enam sesi pada hari kedua, masing-masing berdurasi 60 menit.
Sejak pagi, peserta bersama orang tua tampak memadati area sekolah yang dikenal dengan sebutan “Jubel” itu untuk mempersiapkan diri sebelum mengikuti ujian.
Kepala SMA Negeri 17 Makassar, Asmar Achmad, mengatakan secara umum pelaksanaan seleksi berjalan lancar meski sempat terjadi kendala teknis di awal pelaksanaan.
“Alhamdulillah kami melaksanakan SPMB ini dua hari lancar,” ujar Asmar, Selasa (26/5/2026).
Menurutnya, kendala teknis terkait aplikasi CAT dan gangguan listrik yang sempat terjadi pada hari pertama dapat segera diatasi tanpa mengganggu proses ujian peserta.
“Ada kendala sekitar lima menit kemarin, tetapi langsung teratasi. Waktu ujian peserta tidak berkurang dan soal tetap tersimpan, jadi peserta tidak perlu mengulang,” katanya.
Pihak sekolah juga menyiagakan petugas pendamping untuk membantu peserta mulai dari pencarian ruang ujian, pemeriksaan berkas, pembagian kartu peserta, hingga proses login aplikasi CAT.
Asmar mengapresiasi kedisiplinan para orang tua peserta yang dinilai turut mendukung kelancaran pelaksanaan seleksi.
“Orangtua yang menunggu juga tertib karena kami sudah mempublikasikan jadwal dengan jelas. Jadi tidak ada penumpukan. Bahkan rata-rata peserta sudah hadir satu jam sebelum tes dimulai,” ujarnya.
Pelaksanaan SPMB jalur layanan keunggulan ini turut dipantau Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Sulawesi Selatan.
Asisten Muda Ombudsman RI, Hasrul Eka Putra, mengatakan pengawasan dilakukan karena tahun ini terdapat perubahan mendasar dalam sistem penerimaan murid baru di tingkat provinsi.
“Kami fokus pada layanan keunggulan ini. Apakah sistem yang dibangun memang mampu menyeleksi calon murid yang memiliki keunggulan dan didukung dengan tata kelola yang baik,” kata Hasrul.
Menurutnya, perubahan sistem seleksi berpotensi menimbulkan kebingungan di kalangan peserta maupun orang tua, terutama terkait mekanisme administrasi dan kesiapan akademik siswa.
Meski demikian, berdasarkan hasil pemantauan sementara, Ombudsman menilai pelaksanaan seleksi di SMAN 17 Makassar berjalan cukup baik.
“Secara teknis pelaksanaannya cukup baik. Walaupun sempat ada kendala seperti mati lampu, tetapi sirkulasi siswa dan kesiapan sarana prasarana menurut kami cukup baik,” ujarnya.
Tingginya minat masyarakat terhadap sekolah unggulan juga terlihat dari keseriusan orang tua mendampingi anak mereka selama proses seleksi berlangsung.
Rahmi, salah seorang orang tua peserta, mengaku memilih SMAN 17 Makassar karena berharap anaknya dapat berkembang dalam lingkungan belajar yang kompetitif.
“Kalau anak sekolah di unggulan, mereka akan terpacu belajar karena suasananya mendukung. Anak-anak bisa terbentuk oleh sistem yang ada,” katanya.
Hal senada disampaikan Sidra, orang tua peserta lainnya, yang menyebut keinginan masuk sekolah unggulan justru datang dari anaknya sendiri.
“Anak saya sendiri yang punya keinginan masuk di sini. Kami sebagai orang tua mendukung dengan membantu persiapan belajar, termasuk les privat untuk materi yang dirasa kurang,” ujarnya.
Sementara itu, salah seorang peserta mengaku sempat merasa gugup sebelum mengikuti ujian.
“Tadi agak tegang karena takut tidak lolos. Tapi alhamdulillah tesnya lancar,” katanya.
Ia mengaku tertarik masuk SMAN 17 Makassar karena menilai sekolah tersebut memiliki prestasi akademik yang baik serta lingkungan belajar yang kompetitif. (*)














