MAKASSAR – Pusat Studi Lingkungan Hidup (PSLH) Universitas Hasanuddin menegaskan penolakannya terhadap rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di kawasan Tallasa City, tepat di sisi jalan tol utama Makassar.
Ketua PSLH Unhas, Prof. Dr. Anwar Daud, SKM., M.Kes., menyatakan lokasi tersebut tidak tepat karena berada di area padat penduduk.
Menurutnya, pembangunan fasilitas besar di kompleks perumahan seperti Alamanda dan Citraland akan berdampak langsung pada kesehatan masyarakat dan kelancaran lalu lintas.
“Kita bicara soal kualitas udara, risiko pencemaran, hingga keselamatan warga. Lokasi seperti ini tidak layak untuk fasilitas PLTSa,” tegas Prof. Anwar, dilansir dari UnhasTv.
Prof. Anwar menegaskan bahwa penolakan ini bukan berarti menutup mata terhadap persoalan sampah. PSLH mengusulkan agar PLTSa ditempatkan di kawasan Mamminasata, Kecamatan Parangloe, karena strategis untuk melayani tiga wilayah sekaligus: Makassar, Gowa, dan Maros.
“Dengan lokasi tersebut, manfaatnya lebih luas dan risiko bagi permukiman padat bisa diminimalisasi,” jelasnya.
PSLH juga mendorong solusi berbasis sirkular ekonomi, seperti daur ulang, pengurangan sampah dari sumbernya, serta pemanfaatan teknologi pengomposan modern.
Kota Ramah Lingkungan sebagai Visi Masa Depan
Dalam pandangan PSLH, pembangunan kota masa depan tidak boleh hanya diukur dari gedung tinggi atau jalan tol yang mulus, tetapi dari kualitas lingkungan yang menopang kehidupan warganya.
“Unhas bukan menolak pembangunan, tetapi menegaskan pembangunan harus berpihak pada manusia dan lingkungan. Itu prinsip yang tidak bisa ditawar,” tegas Prof. Anwar.
Suara PSLH menjadi angin segar bagi warga Tallasa City yang khawatir dengan dampak kesehatan dari proyek ini. Generasi muda Makassar pun mulai melihat pentingnya pembangunan berwawasan ekologis.
PSLH menilai, program Makassar Tidak Rantasa (MTR) yang digagas Pemkot perlu diperkuat dengan riset dan kebijakan jangka panjang agar mampu mengurangi sampah sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
Dengan sikap tegas PSLH Unhas dan tawaran solusi yang lebih rasional, pesan yang ingin disampaikan jelas: pembangunan sejati adalah yang menghadirkan keberlanjutan, bukan sekadar simbol kemajuan. (*)













