MAKASSAR – Aktivis pemerhati perempuan dan anak, Alita Karen, menyuarakan dukungan dan pandangannya terhadap gagasan “Kampus Berdampak” yang diusung dalam dinamika pemilihan rektor Universitas Hasanuddin (Unhas) periode mendatang.
Menurut alumni Unhas ini, kampus merah harus hadir bukan sekadar sebagai institusi akademik, melainkan juga sebagai “rumah perubahan” bagi masyarakat khususnya di Kawasan Timur Indonesia (KTI).
“Unhas bukan sekadar universitas. Ia adalah pusat gravitasi intelektual, budaya, dan inovasi di KTI,” ujar Alita, Minggu (6/10).
“Dengan posisi strategis di Makassar, Unhas memiliki tanggung jawab historis dan moral untuk menjembatani kesenjangan pembangunan antara wilayah barat dan timur Indonesia,” tambahnya.
Kampus Riset, Solusi Kontekstual
Alita menilai, kekuatan Unhas selama ini terletak pada kapasitas riset multidisiplin yang mampu memberikan solusi nyata terhadap persoalan lokal.
Ia menyebut riset-riset Unhas dapat menjawab tantangan seperti perubahan iklim, ketahanan pangan, hingga inklusi sosial di berbagai daerah.
“Kehadiran Unhas dirasakan melalui riset terapan yang menyentuh masyarakat pesisir, petani, dan komunitas adat. Saya juga melihat Unhas aktif berkolaborasi dengan pemerintah daerah untuk mengembangkan kebijakan berbasis bukti,” jelasnya.
Dalam pandangan Alita, Unhas telah berkembang menjadi ruang yang inklusif dan memberdayakan, terutama bagi perempuan, penyandang disabilitas, dan kelompok marginal.
Ia menilai banyak program pengabdian masyarakat yang kini lebih berorientasi pada pemberdayaan, bukan sekadar bantuan karitatif.
“Sebagai universitas negeri, Unhas seharusnya menjadi ruang aman bagi semua kelompok. Inilah bentuk nyata kampus yang berdampak, yakni membuka ruang, memberi kesempatan, dan menumbuhkan kemandirian,” tutur Alita.
Katalisator Kolaborasi
Lebih jauh, ia berharap Unhas terus menjadi simpul kolaborasi antara akademisi, pemerintah, swasta, dan masyarakat sipil.
Menurutnya, peran kampus tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga membangun ekosistem inovasi yang menghubungkan hasil riset dengan kehidupan nyata masyarakat.
“Melalui inkubator sosial dan teknologi, Unhas bisa menjadi katalisator bagi UMKM, petani, dan komunitas kreatif. Kolaborasi lintas sektor inilah yang akan mempercepat transformasi sosial-ekonomi,” katanya.
Alita juga menekankan pentingnya pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada kecerdasan intelektual, tetapi juga kepekaan sosial. Ia berharap Unhas melahirkan generasi yang berilmu, berempati, dan siap mengabdi.
“Pendidikan harus mengintegrasikan nilai-nilai lokal, spiritualitas, dan etika dalam pembelajaran. Mahasiswa Unhas perlu terus didorong untuk terlibat langsung dalam proyek-proyek perubahan sosial,” ujarnya.
Unhas untuk Semua
Menutup pernyataannya, Alita mengajak seluruh civitas akademika dan alumni untuk menjaga semangat kebersamaan dalam proses pemilihan rektor mendatang.
“Unhas harus hadir bukan hanya sebagai menara gading, tetapi sebagai rumah perubahan, tempat ilmu bertemu empati, dan inovasi bertemu keadilan,” tukasnya.
Menurut Alita, dampak kehadiran Unhas seharusnya terasa sampai di lorong kampung, di ladang petani, di jaring nelayan, dan di hati seluruh masyarakat.
“Mari kita dukung seluruh proses Pemilihan Rektor Unhas dan memastikan yang terbaik untuk Unhas kita. Unhas untuk semua,” tutup Alita. (*)
























