BULUKUMBA — Upaya melestarikan Tenun Kain Hitam Kajang tidak hanya dilakukan melalui pewarisan keterampilan menenun, tetapi juga dengan menjaga kesehatan para penenun sebagai pelaku utama warisan budaya tersebut.
Pendekatan itu menjadi fokus Tim Pengabdian Masyarakat Universitas Hasanuddin (Unhas) yang berkolaborasi dengan STIKes Panrita Husada Bulukumba melalui Program Inovasi Seni Nusantara bertajuk “Integrasi Ergonomi, Psikologi, dan Latihan Fisik dalam Pelestarian Seni Tenun Kain Hitam Kajang.”
Kegiatan sosialisasi digelar di Desa Tanah Towa, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba, Minggu (28/6/2026).
Program tersebut dilaksanakan bersama mitra PHKom PEREMPUAN AMAN Kajang sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesehatan fisik dan mental penenun sekaligus memastikan keberlanjutan salah satu warisan budaya masyarakat adat Kajang.
Sebanyak 60 peserta mengikuti kegiatan tersebut, terdiri atas 50 perempuan penenun dan 10 pelajar tingkat SMP dan SMA. Keterlibatan generasi muda menjadi bagian dari strategi regenerasi agar tradisi menenun tetap diwariskan di tengah perubahan zaman.
Ketua Tim Pengabdian, Rijal, S.Ft., Physio., M.Kes., M.Sc., Ph.D, mengatakan pelestarian budaya harus berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan para penenun.
Menurutnya, aktivitas menenun yang dilakukan dalam posisi kerja statis dan berulang berpotensi menimbulkan gangguan muskuloskeletal, kelelahan fisik, hingga tekanan psikologis apabila tidak diimbangi dengan penerapan prinsip ergonomi dan pola hidup sehat.
“Melalui program ini kami ingin menghadirkan pendekatan yang lebih komprehensif. Tidak hanya meningkatkan kesehatan dan produktivitas para penenun, tetapi juga menyiapkan generasi muda agar memiliki kepedulian dan keterampilan dalam melestarikan seni tenun kain hitam Kajang,” ujar Rijal.
Dalam tahap awal pelaksanaan program, tim memperkenalkan sejumlah kegiatan yang akan dilakukan, mulai dari skrining postur kerja, pemeriksaan kebugaran fisik, asesmen kesehatan mental, edukasi ergonomi, latihan fisik berbasis low impact plyometric, hingga pendampingan berkelanjutan bagi para penenun.
Selain itu, peserta juga diperkenalkan dengan berbagai media edukasi berupa video latihan, poster ergonomi, serta materi kesehatan mental yang diharapkan dapat digunakan secara berkelanjutan dalam aktivitas menenun.
Selama kegiatan berlangsung, para penenun aktif menyampaikan berbagai keluhan yang dialami saat bekerja, sementara para pelajar mengikuti pengenalan proses menenun dan nilai-nilai budaya yang terkandung dalam kain hitam Kajang.
Mereka juga dijadwalkan memperoleh pendampingan teknik dasar menenun sebagai bagian dari proses regenerasi pelaku seni.
Melalui kolaborasi antara Universitas Hasanuddin, STIKes Panrita Husada Bulukumba, dan PHKom PEREMPUAN AMAN Kajang, program ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas kesehatan para penenun, memperkuat pelestarian Tenun Kain Hitam Kajang, sekaligus melahirkan generasi muda yang memiliki kepedulian terhadap salah satu warisan budaya khas Indonesia. (*)


























