Berita

Usai Dihantam Banjir Bandang, Aceh Tamiang Seperti “Kota Zombie”

Tim Redaksi
×

Usai Dihantam Banjir Bandang, Aceh Tamiang Seperti “Kota Zombie”

Sebarkan artikel ini
Banjir di Aceh Tamiang

ACEH TAMIANG — Situasi mencekam menyelimuti Kabupaten Aceh Tamiang hampir sepekan lebih setelah banjir bandang dan longsor melanda wilayah tersebut pada Rabu (26/11).

Hingga sembilan hari berlalu, bantuan belum juga mencapai sejumlah titik terdampak paling parah.

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Tidak ada listrik, air bersih, maupun jaringan komunikasi. Akses jalan rusak parah dan terputus, membuat ribuan warga terisolasi dalam kondisi serba kekurangan.

Arif, warga Kampung Dalam, Kecamatan Karang Baru, menggambarkan wilayahnya kini bak “kota zombie”. Hampir seluruh sudut kota porak-poranda, dipenuhi lumpur, reruntuhan, dan aroma bangkai yang menyengat.

“Seperti kota mati, seperti kota zombie,” ujarnya.

Penjarahan Terjadi di Mana-mana

Minimnya bantuan membuat warga bertahan hidup dengan apa yang tersisa. Sejak Minggu (30/11), penjarahan mulai terjadi di beberapa toko swalayan dan grosir.

“Penjarahan di mana-mana. Sehari sebelumnya masih ada yang jual paket sembako Rp80.000. Tapi besoknya orang sudah tidak mau beli lagi, mereka ambil saja,” tutur Arif.

Harga bahan pokok melonjak tajam sebelum toko-toko akhirnya dijarah. Beras 10 kilogram bahkan sempat tembus Rp250.000.

Menurut Arif, sejak banjir terjadi, tidak satu pun petugas dari pemerintah daerah yang terlihat di lokasi, baik dari kepolisian, pemadam kebakaran, SAR, maupun BPBD.

Kota Lumpuh Total

Kondisi lingkungan tak kalah mengerikan. Lumpur setebal hampir 50 sentimeter menutupi jalan. Rumah-rumah warga rusak berat—ada yang roboh, atap jebol, tembok miring, hingga pagar dan pintu copot diterjang arus.

Kendaraan roda empat tersangkut di parit atau terbalik di jalanan. Ranting pohon dan barang-barang rumah tangga berserakan di mana-mana.

Yang paling menyengat, kata Arif, adalah bau bangkai hewan ternak seperti sapi dan kambing yang mati terhanyut banjir. Ia bahkan menduga ada korban manusia yang belum ditemukan tertimbun reruntuhan.

“Bau bangkai tercium sekali. Mungkin ada mayat juga tapi tidak terlihat, cuma baunya ada,” katanya.

Warga yang kelaparan dan kehausan tak lagi memedulikan apa pun. Banyak yang berjalan dengan wajah penuh lumpur, kebingungan, dan hanya berharap ada makanan atau air bersih.

Gelap Total Saat Malam

Saat malam tiba, Aceh Tamiang gelap gulita. Tidak ada cahaya, tidak ada aktivitas. Warga memilih tetap di dalam rumah karena kondisi yang tidak aman.

Begitu matahari terbit, mereka kembali keluar ke jalan, berkumpul tanpa tujuan jelas, sekadar menunggu kemungkinan bantuan datang.

“Tapi enggak tahu mau ngapain, berharap aja ada makanan,” ucap Arif lirih.

Hingga laporan ini disusun, akses menuju sejumlah desa masih terputus, sementara warga terus menanti bantuan logistik dan evakuasi dari pemerintah. (*)