Internasional

Rekor Panas di Jerman dan Ceko, Prancis Catat Lonjakan Kematian Akibat Cuaca Ekstrem

Tim Redaksi
×

Rekor Panas di Jerman dan Ceko, Prancis Catat Lonjakan Kematian Akibat Cuaca Ekstrem

Sebarkan artikel ini
Gelombang Panas Ekstrim di Eropa

JERMAN — Gelombang panas ekstrem yang melanda sebagian besar wilayah Eropa terus menimbulkan dampak serius.

Jerman dan Republik Ceko mencatat suhu udara tertinggi sepanjang sejarah pengamatan meteorologi, sementara Prancis memperingatkan bahwa krisis kesehatan akibat cuaca ekstrem diperkirakan masih akan berlangsung meski suhu mulai berangsur turun.

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Berdasarkan laporan German Press Agency (dpa), Badan Meteorologi Jerman (DWD) mencatat suhu mencapai 41,5 derajat Celsius di wilayah Moeckern-Drewitz, Jerman bagian timur, pada Sabtu (27/6/2026). Angka tersebut menjadi rekor suhu tertinggi yang pernah tercatat di negara itu.

Rekor tersebut tercipta hanya sehari setelah suhu 41,3 derajat Celsius tercatat di Kota Saarbruecken, yang sebelumnya telah memecahkan rekor nasional.

Gelombang panas berkepanjangan juga berdampak pada sektor kesehatan di Jerman. Sejumlah rumah sakit melaporkan peningkatan pasien yang datang ke instalasi gawat darurat akibat gangguan kesehatan terkait suhu tinggi, terutama warga lanjut usia yang mengalami heat stroke atau serangan panas.

Cuaca ekstrem juga menyebabkan kerusakan infrastruktur. Lapisan beton pada ruas jalan tol A2 dilaporkan memuai hingga retak dan pecah di sejumlah titik sehingga otoritas setempat menutup sementara dua ruas jalan untuk proses perbaikan.

Di negara tetangga, Republik Ceko, Institut Hidrometeorologi Ceko (CHMI) melaporkan suhu 40,6 derajat Celsius di Doksany, sebelah utara Praha. Catatan tersebut melampaui rekor nasional sebelumnya sebesar 40,4 derajat Celsius yang bertahan sejak 2012.

CHMI memperingatkan suhu udara di sejumlah wilayah masih berpotensi meningkat sehingga kemungkinan rekor baru masih dapat terjadi apabila gelombang panas terus berlanjut.

Prancis Waspadai Dampak Kesehatan

Sementara itu, Pemerintah Prancis menyatakan bahwa ancaman terbesar saat ini bukan lagi sekadar tingginya suhu udara, melainkan dampak kesehatan yang ditimbulkan setelah beberapa hari diterpa gelombang panas.

Mengutip Anadolu Agency, Menteri Kesehatan Prancis Stephanie Rist mengatakan rumah sakit dan layanan darurat masih menangani jumlah pasien yang tinggi meski suhu di sejumlah wilayah mulai menurun.

“Kemungkinan situasi kesehatan saat ini tidak sama seperti pada 2003,” ujar Rist, merujuk pada gelombang panas mematikan yang pernah melanda Prancis.

Meski demikian, data sementara dari Badan Kesehatan Masyarakat Prancis menunjukkan telah terjadi sekitar 1.000 kematian lebih banyak dibandingkan kondisi normal sejak Rabu (24/6/2026).

Pemerintah menegaskan angka tersebut masih bersifat sementara dan akan terus diperbarui.

Menurut Rist, tekanan terhadap sistem pelayanan kesehatan diperkirakan masih berlangsung dalam beberapa hari ke depan karena dampak gelombang panas tidak berhenti ketika suhu mulai turun.

Pernyataan serupa disampaikan Kantor Perdana Menteri Prancis yang menyebut risiko dehidrasi, keterlambatan penanganan pasien di rumah sakit, serta memburuknya kondisi kelompok rentan masih menjadi perhatian utama.

Layanan Darurat dan Infrastruktur Terdampak

Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez mengungkapkan bahwa petugas pemadam kebakaran telah menangani sekitar 122 ribu operasi selama periode gelombang panas.

Ia memperkirakan aktivitas layanan darurat tetap berada pada tingkat tinggi dan mengimbau masyarakat tetap berhati-hati, terutama saat melakukan aktivitas fisik di luar ruangan.

Di sisi lain, badai petir yang melanda sebagian wilayah Prancis pada Sabtu malam menyebabkan sedikitnya tujuh orang mengalami luka ringan serta memutus aliran listrik ke sekitar 63 ribu rumah tangga, berdasarkan keterangan otoritas setempat dan operator jaringan listrik Enedis.

Meski suhu mulai menurun di sebagian besar wilayah, dua departemen di timur laut Prancis masih berstatus peringatan merah gelombang panas, sementara puluhan departemen lainnya tetap berada dalam status peringatan oranye akibat gelombang panas maupun badai petir.

Cuaca ekstrem juga berdampak pada penyelenggaraan kegiatan olahraga. Penyelenggara kejuaraan balap sepeda jalan raya Prancis memangkas satu putaran lintasan balapan putra setelah suhu di garis start mencapai sekitar 35 derajat Celsius.

Gelombang panas yang melanda Eropa dalam beberapa pekan terakhir menjadi salah satu yang paling intens dalam beberapa tahun terakhir.

Selain meningkatkan risiko gangguan kesehatan, kondisi tersebut juga memicu kebakaran hutan, mengganggu infrastruktur, serta memaksa sejumlah negara meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem. (*)