Opini

Dalam Politik, Kenali Teman Perjuangan, Bukan Sekadar Teman

Tim Redaksi
×

Dalam Politik, Kenali Teman Perjuangan, Bukan Sekadar Teman

Sebarkan artikel ini

Oleh: Firdaus (Founder Daeng Berdampak)

Firdaus Founder Daeng Berdampak
Firdaus, Founder Daeng Berdampak (Foto: IST)

DALAM politik, tidak semua orang yang dekat dengan kita adalah teman seperjuangan. Begitu pula, tidak semua orang yang berbeda pandangan layak disebut sebagai lawan.

Di sinilah kedewasaan politik diuji: kemampuan membedakan siapa yang sekadar hadir sebagai teman, siapa yang hanya nyaman menjadi teman diskusi, dan siapa yang benar-benar mampu berjalan bersama ketika perjuangan memasuki masa sulit.

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Musuh yang paling berbahaya dalam politik terkadang bukan mereka yang berdiri di depan dan secara terang-terangan menyatakan perlawanan.

Justru, yang perlu diwaspadai adalah mereka yang terlalu dekat, memahami kelemahan kita, mengetahui arah gerak kita, tetapi tidak memiliki komitmen yang sama terhadap perjuangan.

Karena itu, jangan mengukur loyalitas seseorang hanya dari seberapa sering ia hadir, seberapa akrab ia berbicara, atau seberapa sering ia terlihat bersama kita. Politik bukan tentang siapa yang paling sering duduk satu meja, tetapi siapa yang tetap berdiri di samping kita ketika meja itu mulai diguncang kepentingan.

Kita perlu memahami bahwa ada teman yang cukup kita sapa, ada teman yang cukup menjadi ruang bertukar pikiran, dan ada teman yang memang layak ditemani berjuang. Ketiganya tidak harus kita perlakukan dengan ukuran yang sama. Kesalahan membaca posisi seseorang bisa menjadi awal dari kehancuran sebuah perjuangan.

Sebaliknya, jangan pula terlalu cepat menganggap seseorang sebagai musuh hanya karena ia berbeda pandangan, mengkritik keputusan kita, atau memilih jalan politik yang berbeda.

Bisa jadi, orang yang selama ini kita anggap sebagai lawan justru memiliki keberanian untuk mengingatkan kita ketika orang-orang terdekat memilih diam.

Di dunia politik, kemampuan membaca karakter jauh lebih penting daripada sekadar kemampuan membaca situasi. Kita harus mampu melihat konsistensi, bukan hanya kata-kata; membaca tindakan, bukan hanya kedekatan; dan menilai keberpihakan dari keberanian seseorang ketika kepentingan mulai berbenturan.

Jika kemampuan itu kita miliki, perlahan kita akan menemukan siapa sebenarnya teman seperjuangan. Kita tidak lagi mudah terjebak oleh kedekatan semu, tidak mudah percaya pada janji, dan tidak mudah pula memusuhi orang hanya karena perbedaan.

Pada akhirnya, kalimat bahwa “dalam politik tidak ada kawan dan tidak ada lawan, yang ada hanya kepentingan” tidak harus selalu menjadi kebenaran mutlak.

Kepentingan memang ada, tetapi politik yang sehat juga membutuhkan nilai, integritas, kepercayaan, dan persahabatan yang dibangun melalui perjuangan.

Sebab teman sejati dalam politik bukanlah orang yang selalu berkata “iya” kepada kita.

Teman seperjuangan adalah mereka yang berani berkata “tidak” ketika kita keliru, tetap hadir ketika keadaan sulit, dan tidak meninggalkan perjuangan hanya karena kepentingan pribadi tidak terpenuhi.

Politik pada akhirnya bukan hanya tentang memenangkan pertarungan. Lebih dari itu, politik adalah tentang mengetahui dengan siapa kita berjalan, untuk apa kita berjuang, dan nilai apa yang tidak boleh kita tinggalkan ketika kekuasaan mulai dipertaruhkan.

Karena itu, jangan hanya mencari orang yang mau berjalan bersama kita. Carilah orang yang tetap berjalan bersama kita ketika arah perjuangan menjadi berat. (*)

Andi Iqbal Burhanuddin
Opini

KEPUTUSAN pemerintah melibatkan perguruan tinggi dalam ekosistem Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui…