Berita

Sastrawan Azhari Aiyub Terjebak Banjir Aceh Timur: “Telekomunikasi Lumpuh, Warga Saling Bantu”

Tim Redaksi
×

Sastrawan Azhari Aiyub Terjebak Banjir Aceh Timur: “Telekomunikasi Lumpuh, Warga Saling Bantu”

Sebarkan artikel ini
Potret Banjir di Aceh Timur
Potret Banjir di Aceh Timur (Foto: Antara)

ACEH TIMUR – Banjir besar yang melanda Aceh Timur dalam beberapa hari terakhir memutus akses dan melumpuhkan aktivitas masyarakat.

Salah satu yang merasakan langsung dampaknya adalah sastrawan asal Aceh, Azhari Aiyub, pendiri komunitas budaya Tikar Pandan sekaligus penulis novel Kura-Kura Berjanggut.

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Selama lima hari, ia terjebak banjir tanpa akses komunikasi, listrik, maupun transportasi.

Dalam pesan WhatsApp yang baru bisa dikirimkan pada Minggu (30/11), Azhari mengabarkan kepada rekannya, penulis Linda Christanty, mengenai kondisi darurat yang terjadi di wilayah tersebut.

Ia menyebut telekomunikasi terputus total di sepanjang jalur Peureulak–Panton Labu, sementara listrik padam dan pasokan kebutuhan dasar mulai habis.

“Mulai dari Peureulak sampai Panton Labu sinyal telepon hilang. Listrik padam. Elpiji mulai habis. Warung-warung di depan Masjid Julok sudah tidak jualan nasi lagi,” tulis Azhari.

Ia juga menyebut Masjid Julok yang selama ini menampung musafir telah kehabisan air untuk MCK akibat suplai yang terputus.

Azhari menggambarkan situasi lalu lintas yang nyaris lumpuh akibat banyaknya titik banjir tanpa dukungan alat berat untuk mengatasi pohon tumbang atau hambatan lainnya.

“Pemerintah lokal lumpuh dan kebingungan. Tapi warga saling bantu,” ujarnya.

Ia mencontohkan kedermawanan pengurus Masjid Kubra yang membagikan sisa air bersih kepada musafir, termasuk warga Tionghoa yang ikut mengungsi.

Meski situasi darurat, para pedagang di Keude Kuta Binjai Julok disebut tetap menjual barang dengan harga normal.

Di beberapa lokasi, pemuda dan warga membuat pagar betis untuk membantu truk maupun bus melewati genangan air agar tidak terperosok ke luar jalur.

Banyak warga terjebak di lokasi yang jaraknya hanya ratusan meter dari rumah mereka, namun tak dapat bergerak karena banjir menghalangi seluruh akses. Hilangnya jaringan telekomunikasi membuat mereka tak bisa menghubungi keluarga.

Azhari menambahkan bahwa pantai timur Aceh, yang membentang sekitar 300 kilometer, mengalami banjir hampir di seluruh titik, ditambah kawasan hulu yang mengalami banjir bandang.

Jalan nasional Aceh–Medan yang menjadi urat nadi mobilitas jutaan orang juga sangat terdampak. Ia sendiri baru kembali mendapat sinyal ketika memasuki kawasan Lhoksukon di Aceh Utara.

“Karena situasi banjir, truk dalam sehari hanya mampu bergerak lima kilometer,” katanya.

Dalam unggahannya di Facebook, Linda Christanty menekankan perlunya pemerintah menghentikan pembalakan hutan, tambang ilegal, dan ekspansi perusahaan perkebunan yang merusak kawasan hutan.

Menurutnya, kayu-kayu hasil penebangan liar yang terseret banjir justru memperparah situasi dengan menimpa rumah warga dan menghalangi jalur evakuasi.

“Bagi orang Aceh, bencana banjir ini adalah tsunami kedua, tetapi dibuat oleh manusia,” tulis Linda.

Hingga kini, banjir juga dilaporkan melanda sejumlah wilayah lain di Sumatera Utara dan Sumatera Barat, dan kebutuhan bantuan bagi warga terdampak terus meningkat. (*)