Berita

Ramadhan sebagai Titik Balik Kemandirian, Pendamping PKH Ajak KPM Bangkit dari Keterbatasan

Tim Redaksi
×

Ramadhan sebagai Titik Balik Kemandirian, Pendamping PKH Ajak KPM Bangkit dari Keterbatasan

Sebarkan artikel ini
Muhammad Fadhil Pendamping SDM PKH Kementerian Sosial RI
Muhammad Fadhil Pendamping SDM PKH Kementerian Sosial RI (Foto: IST)

GOWA – Bulan suci Ramadhan bukan sekadar momentum ibadah tahunan. Ia adalah madrasah kehidupan—tempat jiwa ditempa, kesabaran diuji, dan harapan kembali dinyalakan.

Di tengah suasana penuh berkah tersebut, Pendamping SDM Program Keluarga Harapan (PKH), Muhammad Fadhil, mengajak seluruh Keluarga Penerima Manfaat (KPM) menjadikan Ramadhan sebagai titik balik menuju kemandirian ekonomi dan kehidupan yang lebih bermartabat.

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

PKH sendiri merupakan program perlindungan sosial dari Kementerian Sosial Republik Indonesia yang bertujuan mempercepat pengentasan kemiskinan.

“Ramadhan melatih kita menahan lapar dan dahaga. Tapi sejatinya, Ramadhan sedang melatih kita menjadi pribadi yang kuat dalam keterbatasan dan teguh dalam perjuangan,” ungkap Muhammad Fadhil, Rabu (25/2/2026).

Ia mengutip firman Allah SWT dalam Surah Ar-Ra’d ayat 11: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11).

Menurutnya, ayat tersebut menjadi pesan perubahan yang sangat relevan bagi keluarga penerima manfaat. Bantuan sosial, kata dia, bukanlah tujuan akhir, melainkan jembatan menuju perubahan yang lebih besar.

“Allah sudah menegaskan bahwa perubahan dimulai dari diri sendiri. PKH adalah stimulus, tetapi tekad dan kerja keraslah yang akan membawa keluarga keluar dari garis kemiskinan dengan terhormat,” tegasnya.

Dalam suasana Ramadhan yang sarat doa dan perenungan, ia juga mengingatkan sabda Rasulullah ﷺ: “Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis tersebut, lanjutnya, bukan sekadar ajakan untuk memberi, tetapi menjadi cita-cita mulia bagi setiap keluarga—bahwa suatu hari nanti, dari yang menerima bantuan akan tumbuh menjadi keluarga yang mampu memberi manfaat bagi sesama.

Muhammad Fadhil menyadari, di balik setiap data KPM terdapat kisah perjuangan: seorang ibu yang bangun sebelum subuh menyiapkan sahur dengan bahan seadanya, ayah yang bekerja keras meski penghasilan tak menentu, serta anak-anak yang menyimpan mimpi besar di tengah keterbatasan.

“Jangan pernah merasa rendah diri karena kondisi hari ini. Kemuliaan seseorang bukan ditentukan oleh hartanya, tetapi oleh kesungguhannya dalam berikhtiar dan bertawakal,” tuturnya.

Ramadhan, menurutnya, juga mengajarkan pengelolaan diri—termasuk dalam mengatur keuangan keluarga. Menahan keinginan, mendahulukan kebutuhan, menabung meski sedikit, hingga mulai merintis usaha kecil dari rumah adalah bentuk jihad ekonomi keluarga.

Ia pun mengutip Surah Al-Insyirah ayat 5–6: “Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”

“Ayat ini bukan sekadar penghibur. Ini adalah janji Allah. Dan janji Allah itu pasti. Selama kita mau berusaha dan tidak menyerah, kemudahan itu sedang Allah siapkan,” ujarnya penuh optimisme.

Ke depan, Muhammad Fadhil berharap lahir kisah-kisah inspiratif dari para KPM PKH—keluarga yang dulunya penerima bantuan, kini mandiri, memiliki usaha, anak-anaknya menyelesaikan pendidikan, dan mampu membantu orang lain.

“Itulah kemenangan sejati. Bukan sekadar keluar dari kepesertaan, tetapi keluar dengan kepala tegak, penuh harga diri, dan menjadi inspirasi bagi yang lain,” tutupnya.

Ramadhan diharapkan tidak hanya meninggalkan jejak ibadah, tetapi juga menanamkan tekad besar untuk bangkit dari keterbatasan, memutus rantai kemiskinan, dan melangkah menuju masa depan yang lebih cerah.

Sebab pada akhirnya, setiap kesabaran akan berbuah keberkahan, dan setiap keluarga pejuang berhak atas kehidupan yang lebih baik. (*)