MAKASSAR — Partai Gerakan Rakyat (PGR) Sulawesi Selatan terus mempercepat proses konsolidasi organisasi menuju Pemilu 2029. Sebagai partai politik yang relatif baru, PGR menargetkan penguatan struktur hingga ke tingkat akar rumput, sembari mempersiapkan diri menghadapi berbagai kemungkinan perubahan regulasi kepemiluan.
Ketua DPW Partai Gerakan Rakyat Sulawesi Selatan, Asri Tadda, mengatakan proses konsolidasi organisasi di Sulsel berjalan cukup progresif. Antusiasme masyarakat untuk bergabung, kata dia, menjadi salah satu modal penting bagi pertumbuhan PGR di daerah.
“Sebagai partai politik yang relatif baru, tentu ada tahapan-tahapan organisasi yang harus kami lalui. Tetapi kami melihat antusiasme masyarakat untuk bergabung cukup besar,” kata Asri Tadda, Rabu (27/8/2026).
Saat ini, PGR masih berfokus menyelesaikan proses untuk memperoleh pengakuan sebagai badan hukum partai politik dari Menteri Hukum RI. Keputusan terkait proses tersebut disebut tengah berjalan dan ditargetkan terbit pada September 2026.
Menurut Asri, konsolidasi PGR tidak semata-mata mengejar jumlah kepengurusan. Organisasi, kata dia, ingin membangun struktur partai yang hidup, memiliki basis sosial, serta mampu bekerja dan hadir di tengah masyarakat.
Struktur itu diharapkan terbentuk secara berjenjang, mulai dari tingkat DPW, DPD kabupaten/kota, DPC kecamatan, hingga desa dan kelurahan.
“Partai Gerakan Rakyat tidak boleh hanya menjadi partai yang ramai menjelang pemilu. Karena itu, konsolidasi sejak awal diarahkan untuk membangun organisasi yang berakar, kader yang memiliki kapasitas, dan jaringan yang benar-benar memahami persoalan rakyat,” ujarnya.
Dalam proses pendaftaran administratif di Kantor Wilayah Kementerian Hukum Provinsi Sulawesi Selatan beberapa bulan lalu, PGR telah memiliki struktur di 18 DPD tingkat kabupaten/kota dan 123 DPC tingkat kecamatan.
Saat ini, pembentukan struktur terus dilakukan dengan target menjangkau seluruh 24 kabupaten/kota di Sulawesi Selatan, kemudian diperluas secara bertahap hingga tingkat kecamatan, desa, dan kelurahan.
Asri menegaskan, penguatan organisasi tidak sekadar dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan administratif kepartaian. PGR ingin memastikan setiap struktur memiliki pengurus aktif, kegiatan, serta basis kerja nyata di tengah masyarakat.
“Kami ingin membangun ranting sebagai kekuatan politik rakyat, bukan sekadar nama di atas kertas. Sesungguhnya kekuatan sebuah partai bukan hanya pada pengurus provinsi atau kabupaten, tetapi sejauh mana partai itu hadir dan bekerja sampai ke tingkat masyarakat,” katanya.
Siap Hadapi Perubahan Regulasi
Menjelang Pemilu 2029, PGR juga mencermati berbagai dinamika perubahan regulasi kepemiluan, termasuk pembahasan terkait ambang batas parlemen atau parliamentary threshold.
Meski demikian, Asri menegaskan partainya tidak ingin membangun kekuatan politik berdasarkan spekulasi mengenai kemungkinan perubahan besaran ambang batas.
“Kami tidak membangun partai dengan bertumpu pada spekulasi apakah ambang batas akan turun, naik, atau berubah,” ujarnya.
PGR, kata dia, berharap regulasi Pemilu ke depan dapat menciptakan kompetisi yang adil dan membuka ruang representasi politik rakyat. Namun, apa pun ketentuan yang nantinya ditetapkan, PGR akan tetap mempersiapkan kekuatan organisasi dan basis suara sejak jauh hari.
“Kalau threshold lebih rendah, kami siap. Kalau tetap tinggi, kami juga harus siap. Target kami adalah membangun kekuatan yang mampu bersaing dalam berbagai skenario,” katanya.
Bidik Fraksi PGR di DPRD Sulsel
Terkait target politik pada Pemilu Daerah di Sulsel, Asri mengatakan PGR Sulsel masih melakukan pemetaan kekuatan secara menyeluruh dan belum menetapkan angka target perolehan kursi.
Namun, ia memastikan salah satu target utama PGR adalah memiliki representasi yang signifikan di DPRD Provinsi Sulawesi Selatan.
“Paling tidak ada Fraksi PGR-lah di DPRD Provinsi,” ujarnya.
Sementara di tingkat kabupaten dan kota, PGR menargetkan perolehan kursi di sebanyak mungkin daerah. Penetapan target secara lebih rinci akan dilakukan setelah proses konsolidasi struktur, pemetaan daerah pemilihan, serta identifikasi potensi kader rampung.
Asri menyebut pembentukan dan kerja Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) nantinya akan menjadi salah satu instrumen penting dalam menerjemahkan target politik ke dalam strategi pemenangan.
“Politik bukan sekadar menyebut angka, tetapi bagaimana angka itu diterjemahkan menjadi strategi, struktur, kader, saksi, dan kerja-kerja nyata di masyarakat,” katanya.
PGR Sulsel, lanjut Asri, tidak ingin sekadar hadir sebagai peserta Pemilu 2029. Partai tersebut menargetkan diri menjadi salah satu kekuatan politik baru yang memiliki representasi di parlemen dan mampu memperjuangkan kepentingan rakyat. (*)


























