Nasional

Tekanan Global dan Domestik Hantam Rupiah, Kurs Tembus Level Rp17.100

Tim Redaksi
×

Tekanan Global dan Domestik Hantam Rupiah, Kurs Tembus Level Rp17.100

Sebarkan artikel ini
Rupiah Terus Melemah terhadap Dollar AS

JAKARTA — Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Selasa (7/4/2026) kemarin, seiring meningkatnya ketidakpastian global dan tingginya permintaan dolar Amerika Serikat (AS).

Mengacu pada data Bloomberg hingga pukul 15.30 WIB, rupiah tercatat di level Rp17.100 per dolar AS. Posisi ini menunjukkan penguatan tipis 65 poin atau 0,38 persen dibandingkan penutupan sebelumnya, meski sepanjang hari bergerak fluktuatif.

Pada sesi pagi, mata uang Garuda sempat melemah ke level Rp17.035 per dolar AS, turun 55 poin atau 0,32 persen.

Analis menilai, tekanan terhadap rupiah masih didominasi sentimen eksternal, khususnya meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan kondisi pasar saat ini cenderung berada dalam fase risk off, di mana investor menghindari aset berisiko.

“Ketidakpastian akibat konflik di Timur Tengah, terutama terkait eskalasi Iran-Israel dengan keterlibatan AS, membuat investor cenderung berhati-hati,” ujarnya.

Selain faktor geopolitik, lonjakan harga minyak mentah dunia turut memperburuk tekanan terhadap rupiah. Kenaikan harga energi dinilai berpotensi meningkatkan beban fiskal pemerintah, terutama jika harga bahan bakar minyak (BBM) tidak disesuaikan.

Menurut Lukman, kondisi ini memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi pelebaran defisit anggaran.

Pandangan serupa disampaikan pengamat pasar modal dan mata uang, Desmond Wira. Ia menilai pelemahan rupiah merupakan hasil kombinasi tekanan global dan domestik.

Dari sisi global, kenaikan harga minyak yang sempat menembus kisaran US$110–115 per barel memperbesar kebutuhan impor energi Indonesia.

“Sebagai negara net importer minyak, permintaan dolar meningkat tajam untuk kebutuhan impor. Ini langsung menekan rupiah,” jelasnya.

Selain itu, penguatan dolar AS juga dipicu oleh pergeseran investor global ke aset safe haven di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik.

Ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve juga turut memengaruhi. Pasar menilai bank sentral AS belum akan menurunkan suku bunga dalam waktu dekat, seiring data ekonomi yang masih solid.

Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah diperkuat oleh tingginya kebutuhan valuta asing. Permintaan dolar meningkat tidak hanya untuk impor minyak, tetapi juga untuk impor barang konsumsi, pembayaran dividen perusahaan asing, hingga kebutuhan belanja rutin pemerintah dan swasta.

Selain itu, arus modal keluar (capital outflow) dari pasar keuangan domestik turut memperlemah rupiah. Investor asing cenderung mengalihkan dananya ke instrumen yang dianggap lebih aman di negara maju.

Kondisi ini diperparah oleh kekhawatiran pasar terhadap dampak kenaikan harga minyak terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), khususnya terkait potensi peningkatan subsidi energi.

Secara keseluruhan, kombinasi faktor eksternal dan domestik tersebut membuat pergerakan rupiah masih rentan terhadap tekanan dalam jangka pendek, terutama selama ketidakpastian global belum mereda. (*)