MAKASSAR — Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan mengerahkan tim pertanian ke 24 kabupaten/kota untuk menangani kekeringan yang melanda sejumlah areal persawahan di tengah ancaman puncak musim kemarau dan dampak fenomena El Nino.
Penanganan dilakukan melalui Satgas pertanian yang dibentuk Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (TPHBun) Sulsel bersama dinas pertanian kabupaten/kota.
Tim di lapangan melakukan pemetaan lokasi terdampak sekaligus menentukan lahan yang menjadi prioritas penanganan, terutama sawah yang masih memiliki potensi produksi.
Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman mengatakan langkah tersebut dilakukan untuk menjaga produktivitas pertanian sekaligus meminimalkan dampak kekeringan terhadap lahan petani.
“Saat ini tim pertanian Provinsi bersama 24 kabupaten kota tengah melakukan giat secara serentak penanganan kekeringan tanaman padi melalui pompanisasi di semua daerah yang terdampak,” kata Andi Sudirman, Selasa (11/8/2026).
Plt Kepala Dinas TPHBun Sulsel Bustanul Arifin mengatakan penanganan dilakukan dengan melibatkan dinas pertanian kabupaten/kota, penyuluh pertanian lapangan (PPL), serta petugas pengamatan organisme pengganggu tanaman.
Menurut Bustanul, intervensi dibedakan berdasarkan kondisi sumber air di masing-masing lokasi.
“Prinsipnya ada dua, yaitu dilakukan pompa air bagi lahan yang dimungkinkan masih memiliki sumber air dan sumur bor bagi lahan yang tidak memiliki aliran air di sekitar persawahan,” ujarnya.
Pemprov Sulsel, kata Bustanul, sementara menyiapkan sekitar 300 unit pompa air dan 100 titik sumur bor untuk wilayah yang mengalami kekeringan.
Intervensi tersebut diarahkan untuk memastikan lahan yang masih memiliki potensi produksi tetap memperoleh pasokan air sehingga kerusakan tanaman padi dapat ditekan.
“Jadi sementara kita fokuskan kurang lebih 300 pompa air dan bantuan sumur bor kurang lebih 100 titik di seluruh wilayah yang mengalami kekeringan akibat musim kemarau dan dampak El Nino ke depan,” jelasnya.
Perbaikan Irigasi Jadi Penanganan Jangka Panjang
Bustanul mengatakan salah satu persoalan yang turut memengaruhi kekeringan adalah belum optimalnya sejumlah jaringan irigasi teknis.
Gangguan jaringan, khususnya di bagian hulu, dapat berdampak pada distribusi air hingga ke areal persawahan di bagian hilir.
Karena itu, pompanisasi dan sumur bor menjadi langkah jangka pendek untuk menjaga pasokan air ke lahan yang terdampak.
“Makanya sekarang kita lakukan penanganan jangka pendek, pompa air dan sumur bor digunakan untuk mengalirkan air ke lahan yang membutuhkan,” katanya.
Di sisi lain, Pemprov Sulsel juga melakukan perbaikan jaringan irigasi melalui proyek multiyears. Bustanul menyebut terdapat sekitar 39 daerah irigasi yang masuk dalam program tersebut, dengan cakupan sekitar 54.000 hektare sawah yang mengalami gangguan jaringan irigasi.
“Di hulunya, Pemprov Sulsel sementara melaksanakan pembangunan dan perbaikan irigasi yang masuk dalam Multiyears Project, sekitar 39 daerah irigasi dan sekitar 54.000 hektare sawah di seluruh wilayah yang mengalami gangguan jaringan irigasi,” tambahnya.
Sementara di bagian hilir, penanganan dilakukan langsung di lokasi melalui pompanisasi dan pembangunan sumur bor.
“Hilinya itu tim langsung eksekusi di lapangan melalui bantuan pompa air dan sumur bor,” cetus Bustanul. (*)


























