Sulawesi Selatan

Media Diminta Perkuat Edukasi Publik soal Vaksin, Ini Penjelasan Dinkes Sulsel

Tim Redaksi
×

Media Diminta Perkuat Edukasi Publik soal Vaksin, Ini Penjelasan Dinkes Sulsel

Sebarkan artikel ini
Kepala Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Dinkes Sulsel, Muhammad Yusri Yunus, dalam workshop penguatan program imunisasi melalui kampanye media dan penguatan liputan jurnalis di Hotel Golden Tulip, Makassar
Kepala Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Dinkes Sulsel, Muhammad Yusri Yunus, dalam workshop penguatan program imunisasi melalui kampanye media dan penguatan liputan jurnalis di Hotel Golden Tulip, Makassar

MAKASSAR — Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan meminta media massa untuk memperkuat peran edukasi publik terkait pentingnya imunisasi.

Seruan ini disampaikan Kepala Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinkes Sulsel, Muhammad Yusri Yunus, dalam workshop penguatan program imunisasi melalui kampanye media dan liputan jurnalistik di Hotel Golden Tulip, Makassar, Sabtu (29/11/2025).

Yusri menegaskan bahwa imunisasi merupakan langkah pencegahan utama dalam menjaga kesehatan masyarakat, terutama anak-anak.

Meski tidak memberikan manfaat yang langsung terlihat, imunisasi mempersiapkan tubuh agar mampu mengenali dan melawan penyakit sebelum infeksi terjadi.

“Imunisasi itu pencegahan, bukan pengobatan. Karena berada di wilayah pencegahan, output-nya memang sulit diukur secara kasat mata,” ujar Yusri.

Ia kemudian mengibaratkan imunisasi seperti payung ketika hujan. Payung tidak menjamin tubuh sepenuhnya kering, namun mampu mengurangi risiko basah dan melindungi dari dampak yang lebih buruk.

“Kalau kita pakai payung saat hujan, tetap saja basah. Tapi basahnya bisa diminimalkan. Imunisasi kira-kira seperti itu,” jelasnya.

Menurut Yusri, kesalahpahaman publik terhadap vaksin sering muncul karena manfaat pencegahan tidak langsung dirasakan.

Tidak sedikit masyarakat yang mempertanyakan alasan vaksinasi diberikan kepada anak yang sehat, atau salah memahami tujuan imunisasi sebagai upaya agar tidak lagi sakit.

Situasi ini diperburuk oleh maraknya hoaks terkait imunisasi. Yusri mengungkapkan, sekitar 60 persen hoaks justru lahir dari kebingungan internal masyarakat sendiri, bukan dari pihak luar.

Pengetahuan yang terbatas sering memunculkan narasi keliru yang kemudian menyebar luas di media sosial.

Ia mencontohkan bagaimana ketidaktahuan dalam melihat proses pelayanan kesehatan dapat menimbulkan anggapan-anggapan yang tidak benar.

Hal serupa kerap terjadi pada isu vaksin, termasuk tuduhan adanya kandungan babi, meski aturan agama dan norma hukum telah mengatur penggunaan vaksin dalam kondisi darurat.

Menghadapi realitas ini, Yusri menilai media massa memiliki peran penting sebagai jembatan antara data ilmiah dan publik.

Penyampaian informasi yang akurat, mudah dipahami, dan bebas sensasi diperlukan untuk menepis hoaks sekaligus membangun kepercayaan masyarakat.

“Bantu kami agar masyarakat memahami bahwa imunisasi dapat menurunkan angka kematian. Ketika imunisasi dihentikan, manfaatnya baru terasa saat penyakit muncul kembali. Di sinilah pentingnya edukasi,” pungkasnya. (*)